Sunday, March 29, 2009

NOCTURNAL



Oleh : Poppy D. Chusfani
Genre : Teenlit Fantasi

Adel melirik ke bawah, ke tanah yang berjarak dua meter dari tempatnya bertengger. Ia baru sadar sekarang sedang berjongkok di atas tembok sempit, kedua tangannya mencengkeram tepi tembok. Ia melirik melalui bahunya, ke halaman belakang sebuah rumah, di mana terdapat taman bunga mungil, bak berisi pasir, dan… seorang anak laki-laki. Yang sedang melongo menatapnya.
“Uh…” Adel tak tahu harus mengucapkan apa. Permisi? Maaf? Anak lelaki itu sekitar delapan tahun, sedang bermain pasir menggunakan sekop dan truk plastik. Mata anak itu melebar, mulutnya menganga.
Kemudian, tanpa disangka, anak itu melompat sambil berseru, “Kakak hebat! Kayak Spiderman!”
Adel menempelkan telunjuk di bibirnya, tersenyum, kemudian melompat turun dari tembok ke gang di belakang rumah itu. Persis setelah mendarat dengan mulus, ia mendengar suara dari arah rumah, “Doni, ngomong sama siapa?”
“Ada kakak yang manjat tembok, Ma. Nggak, bukan manjat, loncat!”
“Mana?”
“Udah loncat lagi. Hebat, Ma. Kayak… kayak… Catwoman!”
Hening sesaat. Kemudian, “Pa! Mama bilang juga tembok itu harus dikasih kawat berduri. Mama takut ada maling lompat lewat sana!”

Cuplikan di atas merupakan bagian awal dari novel karya Poppy D. Chusfani yang diberi judul Nocturnal. Pertama kali membaca adegan itu, gue langsung merasa tertarik, karena di dalam adegan itu terselip humor ringan, di mana gue sangat suka sekali membaca novel-novel yang terselip humor ringan. Tidak sampai membuat tertawa terpingkal-pingkal, cukup dengan senyum tipis atau tawa ringan tapi berbekas, sehingga rasanya ingin sekali dibaca lagi berulang-ulang.
Adelia Rothstein, 17 tahun, tokoh utama novel ini, hanya tinggal berdua saja dengan ibunya. Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu pada sebuah kecelakaan mobil. Namun sang ibu tidak percaya kalau itu merupakan sebuah kecelakaan. Dan akhirnya Adel bisa mengetahui siapa dirinya sebenarnya setelah akhirnya ibunya mau bercerita sebuah rahasia besar tentang keluarga dari ayahnya yang berada di Negara Adlerland. Adel ternyata merupakan seorang anak yang sangat istimewa, karena di dalam darahnya mengalir darah seorang Nocturnal, sebuah klan besar, yang bertugas untuk melindungi Raja Negara Adlerland. Dimana di dalam Klan Nocturnal memiliki keistimewaan, yaitu memiliki sembilan buah nyawa selayaknya seekor kucing. Oleh sebab itulah seorang Nocturnal sudah pasti memiliki keluesan dan kegesitan seekor kucing.
Suatu hari, datang seorang utusan, yang merupakan sepupunya sendiri, bernama Johanna untuk menjemputnya kembali ke Negara asal ayahnya. Di sana dia akan dididik untuk menjadi Baroness yang berikutnya.
Adel sama sekali tidak menginginkan takdir yang seperti itu. Sedari kecil cita-citanya ingin mejadi seorang ballerina. Namun karena situasi yang sangat mendesak dan Adel tidak mempunyai pilihan lain, Adel pun ikut kembali ke Adlerland segera setelah dia lulus SMU.
Sekilas, pengambilan tema dari novel ini tidaklah terlalu istimewa. Tapi menurut gue, yang membuat istimewa dari novel ini adalah gaya penulisannya ─ seperti yang sudah gue kutip di awal tulisan ini. Yang membuat istimewanya lagi adalah humor-humor ringan yang muncul di hampir sepanjang novel ini. Sehingga novel ini amat-sangat-bisa-sekali untuk dibaca dalam sehari langsung Tamat. Dan karena begitu asyiknya gaya penulisan dari sang pengarang, kita nggak akan merasa bosan walaupun membacanya berulang kali. Selain itu pengambilan settingnya pun tidak terlalu berkesan diada-adakan. Malah mungkin kita akan berpikir ada dan ingin segera mengeceknya di peta.
Namun di dalam novel ini, kental sekali dengan istilah-istilah ballet yang muncul, yang mungkin bagi orang awam akan dunia ballet (seperti gue), akan bertanya-tanya, gerakan seperti apa yang dimaksud dalam adegan ini. Namun juga agak disayangkan karena novel ini terlalu singkat mengingat ini merupakan novel fantasi. Namun hal itu bisa dimaklumi kalau mengingat genrenya adalah Teenlit. Selain itu, yang juga membuat heran, kenapa tokoh utamanya harus blesteran? Wajar, sih, dilihat dari latar belakang keluarga ayahnya yang keturunan Jerman. Harapannya mungkin suatu saat, pengarang juga akan menulis fiksi yang asli Indonesia aja. Mungkin keturunan Nyi Roro Kidul gitu? Karena pengarangnya sendiri dijuluki Nyi Roro Kidul karena penggemar warna hijau. (hehehe.. nggak nyambung!)
Perjalanan novel ini juga tidak berkesan monoton. Dimana di pertengahan cerita, sudah muncul kejadian yang menegangkan. Di dalam novel ini juga terselip permainan psikologis, dimana kita akan berpikir kalau tak selamanya orang yang bersikap jahat (menurut kita) ternyata adalah tokoh antagonis. Dan itu mengingatkan gue pada tokoh Severus Snape dalam novel Harry Potter. Dan juga tidak selamanya orang yang bersikap sangat baik pada kita ternyata bisa kita percayai. Dan itu lagi-lagi mengingatkan gue pada tokoh Peter Pettigrew dalam novel Harry Potter juga. (Sepertinya nggak ada referensi lain selain Harry Potter yang diketahui oleh komentator, ya??!)
Dan yang paling membuat gue tambah terhibur adalah ketika Adel menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh pihak kerajaan Adlerland, di mana di sana dia bertemu dengan Pangeran Felix yang sebenarnya untuk ukuran seorang pangeran terlalu “nyantai”.

Kemudian ia berhadapan dengan Pangeran Felix, yang masih memandanginya dengan tatapan kagum. Adel mulai curiga apakah ada yang salah dengan otak pemuda ini. Ia membungkuk dan Pangeran meraih lalu mencium tangannya.
“Fräulein Adelia,” sapanya. “Seperti mawar indah di padang gersang. Tak ada yang bisa melukiskan kecantikanmu.”
Adel tersenyum kaku tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Tapi kemudian Roland menyelamatkannya.
“Jangan dengarkan dia, Ada. Felix lelaki paling gombal di seluruh Adlerland,” kata Roland di telinganya, sama sekali tidak berbisik.
Pangeran Felix tertawa berderai, menunjukkan sebaris gigi putih dan rapi. Adel sampai curiga gigi itu palsu semua, saking sempurnanya.
“Jangan percaya Roland,” kata Pangeran Felix. “Aku hanya mengungkapkan kenyataan.”
Adel tersipu-sipu.
“Felix, kau membuatnya malu,” kata Johanna di belakang Adel.
“Ah, Anna, bagai cahaya bulan di malam yang gelap,” kata Felix.
“Nah, kan? Apa kataku?” ucap Roland, membuat Adel tersenyum geli. Jika ada yang mengandaikan Johana sebagai bulan, orang itu pasti butuh diperiksa kewarasannya. Johanna memang cantik, seperti ibu tiri Putri Salju yang berendam di bak mandi penuh es batu, sambil menatap cermin ajaibnya dan bertanya, “Siapakah yang tercantik di negeri ini, oh Cermin?” dan cermin itu akan menjawab, “Yang pasti bukan Anda, oh kucing garong peneror rakyat jelata!” Adel nyaris tak bisa menahan tawa.
Johanna menyipitkan mata kepada Felix sementara pemuda itu mencium tangannya. “Suatu hari nanti, Felix, kau akan merasakan akibat dari delusional Shakespeare-mu itu,” kata Johanna.

Itulah awal mulanya Adel mengenal Pangeran Felix. Pengambilan karakter pangeran di novel ini memang agak berbeda dari tokoh-tokoh pangeran yang biasanya kita kenal dari cerita-cerita dongeng yang sudah sangat kita ketahui sejak kecil. Bahkan penulis sendiri pun menuliskannya dalam novelnya ini.

Adel akhirnya harus mengakui bahwa Felix bisa membuat ketegangannya mencair dengan mudah. Pemuda itu bukan seperti pangeran-pangeran dalam dongeng yang tampak selalu siap berkuda mengenakan baju besi dan menyelamatkan putri dalam marabahaya. Felix lebih manusiawi. Dan tampaknya takkan pernah mau mengenakan baju besi. Meski sikap gombalnya membuat Adel ingin menjotosnya, Adel merasa mulai menyukainya, karena Felix bisa membuatnya tertawa.

Membaca penggalan kalimat itu, pasti kita akan berpikir dan berharap kalau Adel akan berjodoh dengan Pangeran Felix. Namun rupanya pengarang sendiri lebih komitmen dengan tema yang sedang diusungnya. Untuk unsur asmara tidak terlalu ditekankan. Sehingga sampai akhir cerita pun, kita tidak akan mendapati adegan-adegan romantis dalam novel ini. Dan menurut gue, selaku komentator, itu bagus, mengingat kalau novel ini diperuntukkan untuk remaja, dan sebaiknya memang sebuah novel remaja itu sarat akan hikmah.
Akhir kata, gue sangat menganjurkan kepada kalian para pecinta teenlit, pecinta fantasi, yang ingin sekedar me-refresh otak dengan bacaan ringan namun menghibur, novel ini bagus banget buat dibaca dan dijadiin koleksi dalam lemari. Yah, kalaupun tidak dijadiin koleksi, dijadiin koleksi di taman bacaan aja! Hehehehe…

Oleh : Nichi781

2 comments:

Dunia Fiksi said...

Menurut saya novel Nocturnal memang layak atau wajib baca buat para pecinta novel fiksi.
Sayangnya kebanyakan novel fiksi Indonesia masih bersetting luar negeri. Kapan ya ada yang mau nulis dengan setting Indonesia dan jadi best seller?
Ayo dong teman-teman penulis coba meramaikan khazanah novel fantasi Indo. Ditunggu ya.
Thanks banget buat Nina yang mau rajin nulis di blog ini. Kita-kita yang pertama menulis di sini jangan mau kalah dong...

Anonymous said...

Wah, setelah membaca reviewnya, saya jd tertarik membaca novel Nocturnal :)