Sunday, March 29, 2009

NOCTURNAL



Oleh : Poppy D. Chusfani
Genre : Teenlit Fantasi

Adel melirik ke bawah, ke tanah yang berjarak dua meter dari tempatnya bertengger. Ia baru sadar sekarang sedang berjongkok di atas tembok sempit, kedua tangannya mencengkeram tepi tembok. Ia melirik melalui bahunya, ke halaman belakang sebuah rumah, di mana terdapat taman bunga mungil, bak berisi pasir, dan… seorang anak laki-laki. Yang sedang melongo menatapnya.
“Uh…” Adel tak tahu harus mengucapkan apa. Permisi? Maaf? Anak lelaki itu sekitar delapan tahun, sedang bermain pasir menggunakan sekop dan truk plastik. Mata anak itu melebar, mulutnya menganga.
Kemudian, tanpa disangka, anak itu melompat sambil berseru, “Kakak hebat! Kayak Spiderman!”
Adel menempelkan telunjuk di bibirnya, tersenyum, kemudian melompat turun dari tembok ke gang di belakang rumah itu. Persis setelah mendarat dengan mulus, ia mendengar suara dari arah rumah, “Doni, ngomong sama siapa?”
“Ada kakak yang manjat tembok, Ma. Nggak, bukan manjat, loncat!”
“Mana?”
“Udah loncat lagi. Hebat, Ma. Kayak… kayak… Catwoman!”
Hening sesaat. Kemudian, “Pa! Mama bilang juga tembok itu harus dikasih kawat berduri. Mama takut ada maling lompat lewat sana!”

Cuplikan di atas merupakan bagian awal dari novel karya Poppy D. Chusfani yang diberi judul Nocturnal. Pertama kali membaca adegan itu, gue langsung merasa tertarik, karena di dalam adegan itu terselip humor ringan, di mana gue sangat suka sekali membaca novel-novel yang terselip humor ringan. Tidak sampai membuat tertawa terpingkal-pingkal, cukup dengan senyum tipis atau tawa ringan tapi berbekas, sehingga rasanya ingin sekali dibaca lagi berulang-ulang.
Adelia Rothstein, 17 tahun, tokoh utama novel ini, hanya tinggal berdua saja dengan ibunya. Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu pada sebuah kecelakaan mobil. Namun sang ibu tidak percaya kalau itu merupakan sebuah kecelakaan. Dan akhirnya Adel bisa mengetahui siapa dirinya sebenarnya setelah akhirnya ibunya mau bercerita sebuah rahasia besar tentang keluarga dari ayahnya yang berada di Negara Adlerland. Adel ternyata merupakan seorang anak yang sangat istimewa, karena di dalam darahnya mengalir darah seorang Nocturnal, sebuah klan besar, yang bertugas untuk melindungi Raja Negara Adlerland. Dimana di dalam Klan Nocturnal memiliki keistimewaan, yaitu memiliki sembilan buah nyawa selayaknya seekor kucing. Oleh sebab itulah seorang Nocturnal sudah pasti memiliki keluesan dan kegesitan seekor kucing.
Suatu hari, datang seorang utusan, yang merupakan sepupunya sendiri, bernama Johanna untuk menjemputnya kembali ke Negara asal ayahnya. Di sana dia akan dididik untuk menjadi Baroness yang berikutnya.
Adel sama sekali tidak menginginkan takdir yang seperti itu. Sedari kecil cita-citanya ingin mejadi seorang ballerina. Namun karena situasi yang sangat mendesak dan Adel tidak mempunyai pilihan lain, Adel pun ikut kembali ke Adlerland segera setelah dia lulus SMU.
Sekilas, pengambilan tema dari novel ini tidaklah terlalu istimewa. Tapi menurut gue, yang membuat istimewa dari novel ini adalah gaya penulisannya ─ seperti yang sudah gue kutip di awal tulisan ini. Yang membuat istimewanya lagi adalah humor-humor ringan yang muncul di hampir sepanjang novel ini. Sehingga novel ini amat-sangat-bisa-sekali untuk dibaca dalam sehari langsung Tamat. Dan karena begitu asyiknya gaya penulisan dari sang pengarang, kita nggak akan merasa bosan walaupun membacanya berulang kali. Selain itu pengambilan settingnya pun tidak terlalu berkesan diada-adakan. Malah mungkin kita akan berpikir ada dan ingin segera mengeceknya di peta.
Namun di dalam novel ini, kental sekali dengan istilah-istilah ballet yang muncul, yang mungkin bagi orang awam akan dunia ballet (seperti gue), akan bertanya-tanya, gerakan seperti apa yang dimaksud dalam adegan ini. Namun juga agak disayangkan karena novel ini terlalu singkat mengingat ini merupakan novel fantasi. Namun hal itu bisa dimaklumi kalau mengingat genrenya adalah Teenlit. Selain itu, yang juga membuat heran, kenapa tokoh utamanya harus blesteran? Wajar, sih, dilihat dari latar belakang keluarga ayahnya yang keturunan Jerman. Harapannya mungkin suatu saat, pengarang juga akan menulis fiksi yang asli Indonesia aja. Mungkin keturunan Nyi Roro Kidul gitu? Karena pengarangnya sendiri dijuluki Nyi Roro Kidul karena penggemar warna hijau. (hehehe.. nggak nyambung!)
Perjalanan novel ini juga tidak berkesan monoton. Dimana di pertengahan cerita, sudah muncul kejadian yang menegangkan. Di dalam novel ini juga terselip permainan psikologis, dimana kita akan berpikir kalau tak selamanya orang yang bersikap jahat (menurut kita) ternyata adalah tokoh antagonis. Dan itu mengingatkan gue pada tokoh Severus Snape dalam novel Harry Potter. Dan juga tidak selamanya orang yang bersikap sangat baik pada kita ternyata bisa kita percayai. Dan itu lagi-lagi mengingatkan gue pada tokoh Peter Pettigrew dalam novel Harry Potter juga. (Sepertinya nggak ada referensi lain selain Harry Potter yang diketahui oleh komentator, ya??!)
Dan yang paling membuat gue tambah terhibur adalah ketika Adel menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh pihak kerajaan Adlerland, di mana di sana dia bertemu dengan Pangeran Felix yang sebenarnya untuk ukuran seorang pangeran terlalu “nyantai”.

Kemudian ia berhadapan dengan Pangeran Felix, yang masih memandanginya dengan tatapan kagum. Adel mulai curiga apakah ada yang salah dengan otak pemuda ini. Ia membungkuk dan Pangeran meraih lalu mencium tangannya.
“Fräulein Adelia,” sapanya. “Seperti mawar indah di padang gersang. Tak ada yang bisa melukiskan kecantikanmu.”
Adel tersenyum kaku tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Tapi kemudian Roland menyelamatkannya.
“Jangan dengarkan dia, Ada. Felix lelaki paling gombal di seluruh Adlerland,” kata Roland di telinganya, sama sekali tidak berbisik.
Pangeran Felix tertawa berderai, menunjukkan sebaris gigi putih dan rapi. Adel sampai curiga gigi itu palsu semua, saking sempurnanya.
“Jangan percaya Roland,” kata Pangeran Felix. “Aku hanya mengungkapkan kenyataan.”
Adel tersipu-sipu.
“Felix, kau membuatnya malu,” kata Johanna di belakang Adel.
“Ah, Anna, bagai cahaya bulan di malam yang gelap,” kata Felix.
“Nah, kan? Apa kataku?” ucap Roland, membuat Adel tersenyum geli. Jika ada yang mengandaikan Johana sebagai bulan, orang itu pasti butuh diperiksa kewarasannya. Johanna memang cantik, seperti ibu tiri Putri Salju yang berendam di bak mandi penuh es batu, sambil menatap cermin ajaibnya dan bertanya, “Siapakah yang tercantik di negeri ini, oh Cermin?” dan cermin itu akan menjawab, “Yang pasti bukan Anda, oh kucing garong peneror rakyat jelata!” Adel nyaris tak bisa menahan tawa.
Johanna menyipitkan mata kepada Felix sementara pemuda itu mencium tangannya. “Suatu hari nanti, Felix, kau akan merasakan akibat dari delusional Shakespeare-mu itu,” kata Johanna.

Itulah awal mulanya Adel mengenal Pangeran Felix. Pengambilan karakter pangeran di novel ini memang agak berbeda dari tokoh-tokoh pangeran yang biasanya kita kenal dari cerita-cerita dongeng yang sudah sangat kita ketahui sejak kecil. Bahkan penulis sendiri pun menuliskannya dalam novelnya ini.

Adel akhirnya harus mengakui bahwa Felix bisa membuat ketegangannya mencair dengan mudah. Pemuda itu bukan seperti pangeran-pangeran dalam dongeng yang tampak selalu siap berkuda mengenakan baju besi dan menyelamatkan putri dalam marabahaya. Felix lebih manusiawi. Dan tampaknya takkan pernah mau mengenakan baju besi. Meski sikap gombalnya membuat Adel ingin menjotosnya, Adel merasa mulai menyukainya, karena Felix bisa membuatnya tertawa.

Membaca penggalan kalimat itu, pasti kita akan berpikir dan berharap kalau Adel akan berjodoh dengan Pangeran Felix. Namun rupanya pengarang sendiri lebih komitmen dengan tema yang sedang diusungnya. Untuk unsur asmara tidak terlalu ditekankan. Sehingga sampai akhir cerita pun, kita tidak akan mendapati adegan-adegan romantis dalam novel ini. Dan menurut gue, selaku komentator, itu bagus, mengingat kalau novel ini diperuntukkan untuk remaja, dan sebaiknya memang sebuah novel remaja itu sarat akan hikmah.
Akhir kata, gue sangat menganjurkan kepada kalian para pecinta teenlit, pecinta fantasi, yang ingin sekedar me-refresh otak dengan bacaan ringan namun menghibur, novel ini bagus banget buat dibaca dan dijadiin koleksi dalam lemari. Yah, kalaupun tidak dijadiin koleksi, dijadiin koleksi di taman bacaan aja! Hehehehe…

Oleh : Nichi781

Friday, March 13, 2009

LABIL 2

Tulisan ini merupakan pengantar dari postingan LABIL. Well... Mungkin itu merupakan secuil dari cuplikan (namanya juga cuplikan, pasti Cuma secuil, yak!) tulisan yang lagi gue revisi sekarang ini. Bisa dibilang (bukan bisa lagi tapi memang) novel ini merupakan novel religi bernafaskan Islam.
Dalam tulisan ini bukan maksud gue untuk menyinggung satu agama manapun. Sebenarnya latar belakang gue menulis novel ini pun udah lama sekali. Saat itu juga jiwa gue lagi labil dan ada begitu banyak pertanyaan seputar agama. Masalahnya adalah bukan karena gue nggak tahu, tapi justru karena gue terlalu tahu tentang agama yang gue anut, yaitu Islam, dan ada begitu banyak hambatan-hambatan dan rintangan yang gue dapatin dalam perjalanan religius gue. Saat ini belum final, masih ditengah-tengah, tapi begitulah manusia. Sepanjang hayat masih dikandung badan, dia tidak akan pernah lepas dari Dzat yang menciptakannya serta masalah-masalah yang menyertainya.
Yang mau gue angkat di novel ini intinya adalah “Untuk apa kita diciptakan didunia ini?”
Sepanjang yang gue dapet dan gue perhatiin, kita hidup tak lebih dari melewati masa-masa ini.
1. Lahir dan menjadi bayi yang lucu dan disayangi oleh semua orang, namun sayangnya ternyata yang kita dapati, tidak semuanya bayi-bayi yang terlahir di dunia ini mendapat kasih sayang yang sudah semestinya dia dapatkan.
2. Memasuki masa anak-anak, dimana masa-masa ini kita mempelajari segala hal yang berada di sekitar kita. Entah apakah itu baik atau buruk, pasti akan bulat-bulat kira tiru. Makanya hati-hati kalau sedang main sama anak kecil, atau ada anak kecil yang ada di dekat kita, kalau nggak mau dia mengikuti sikap buruk kita.
3. Sekolah, dimana sekarang sudah diwajibkan sekolah sampai kelas 12 atau kelas 3 SMU. Masa-masa puber dimana kita mulai mengenal dunia ini hampir seutuhnya, mengenal lawan jenis, dan mencari jati diri.
4. Kuliah, masih berhubungan sama tahap sekolah, tahap kuliah merupakan tahap pendewasaan, dan yang akan menentukan langkah kita selanjutnya, walaupun ada banyak juga yang sudah mengambil ancang-ancangnya ketika masih sekolah, yaitu masa SMU. Tapi tidak sedikit juga yang masih merasa bingung hendak kemana dia akan melangkah, hanya mengikuti arus kehidupannya aja.
5. Bekerja. Pada tahap ini kita dianggap sudah dewasa karena dinilai sudah mampu membiayai hidup sendiri, walaupun tak sedikit juga yang masih bergantung sama belas kasih kedua orang tua untuk mengucurkan dana tambahan setiap bulannya ke dalam rekening.
6. Menikah. Tahap ini dianggap merupakan tahap puncak kehidupan seseorang, yang (mungkin) dengan kata lain tahap paling sakral dan sebisa mungkin terjadi sekali seumur hidup. Walaupun seperti yang terjadi kebanyakan akhir-akhir ini tidaklah begitu adanya.
7. Menjadi ayah dan ibu
8. Menjadi kakek dan nenek
9. Meninggal.
Kurang lebih itulah tahap-tahap yang akan kita jalanin. Dan gue menyetujui itu karena itulah yang memang selalu dan pasti terjadi dalam kehidupan semua insan manusia. Namun bukan berarti gue kurang bersyukur dan sebagainya. Justru karena siklus permanen yang sudah dilabelkan pada kehidupan manusia inilah gue mulai bertanya-tanya, “Apakah hanya itu? Well… Allah nggak ada kerjaan sama sekali kalau begitu.”
Membahas soal agama, merupakan persoalan yang agak berat dan tidak semua orang tertarik untuk membahasnya. Oleh sebab itulah, dalam novel ini, gue bermaksud untuk membahasnya, menceritakannya. Kisah biasa yang mungkin terjadi di antara kita, namun seringkali kita terlalu menganggapnya enteng.
Well… last but not least, hopefully… novel ini akan rampung dan bisa terbit ya…
Oleh : Nichi781

Wednesday, March 11, 2009

LABIL

Oleh : Nichi781
Genre : Novel Islami Dewasa

Kiran merasa sangat bahagia ketika seseorang yang sangat disayanginya sejak kecil, Calvin, selalu berada disisinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan dia pun beranjak dewasa, ternyata ada batasan antara pergaulan anak lelaki dan anak perempuan yang tidak bisa dilanggar olehnya. Dia mulai jauh dengan Calvin sejak kelas satu SMU, karena dia sibuk mengikuti organisasi Islam di sekolahnya dan hal itu membuat Calvin kesal dan cemburu.

Calvin berasal dari keluarga dengan ayah dan ibu yang berbeda agama. Dan kerap kali dia selalu diingatkan oleh papanya kalau agama itu cukup diyakini dalam hati saja, tidak perlu dipelajari lebih jauh lagi. Oleh karena itulah dia tidak bisa mengikuti jejak Kiran untuk juga aktif mengikuti kegiatan agama Islam walaupun Kiran sering mengajaknya. Sampai pernah Calvin meminta Kiran untuk meninggalkan kegiatan agamanya itu dan meluangkan seluruh waktu untuk dirinya saja. Tapi tentu saja Kiran menolak, karena dia sudah tahu bagaimana adap bergaulan antara anak lelaki dan perempuan yang sesuai dengan Islam.

Sebagai pelampiasan karena sudah tidak dihiraukan oleh Kiran, Calvin pun mulai bergaul dengan anak-anak nakal yang mengajaknya mengisap drugs dan sex bebas. Begitu mengetahuinya, Kiran sangat marah sekali. Tapi alih-alih dari menjauhi Cavin, Kiran justru malah mendekati Calvin kembali, karena Kiran merasa sangat bersalah tidak menjaga Calvin dengan baik. Sampai akhirnya ketika akhir masa SMU, Calvin memutuskan untuk menerima ajakan papanya untuk sekolah di New York dan meninggalkan Kiran.

Kiran tidak bisa menerima kepergian Calvin. Dia sangat terpukul. Sudah cukup dirinya dengan mengetahui kalau Calvin telah salah pergaulan. Tapi dia sama sekali tidak siap untuk ditinggalkan. Kiran pun menjadi pribadi yang labil dan tertutup. Tapi beruntung setelah itu dia memiliki teman-teman yang baik yang tidak mungkin mengajaknya terjerumus dalam pergaulan bebas yang tidak bertanggung-jawab.

Namun ketika Kiran sudah bekerja, datang masalah dalam keluarganya, yaitu ayahnya menikah lagi tanpa sepengetahuan dirinya dan ibu. Dimana hal itu menyebabkan kehidupan keluarganya hancur. Ibu yang selalu menyiksa diri sendiri sampai dirawat di rumah sakit dan ayah yang tidak mau mengakui kesalahannya dan selalu dengan entengnya mengatakan untuk menerima apa yang sudah terjadi. Kiran menjadi sangat marah. Dia merasa ayahnya telah mengkhianati dirinya dan ibunya, sampai akhirnya dia pergi dari rumah dan sudah tidak peduli lagi dengan batas-batas yang diajarkan padanya. Dia lari pada kehidupan malam.Dan pada salah satu club, Kiran bertemu kembali dengan Calvin dalam keadaan yang sudah sangat kritis, kurang tidur dan dehidrasi. Bisa bertemu lagi dengan Calvin membuatnya memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan hal itu. Dia meminta Calvin untuk menampungnya beberapa hari untuk menenangkan dirinya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan dia banyak merenung, dia sadar dia telah melakukan sesuatu yang sangat membahayakan dirinya sendiri dengan datang ke klub-klub malam seorang diri. Belum lagi karena dia sudah memutuskan untuk tinggal sementara dalam satu atap bersama Calvin, dimana dia tahu kalau dirinya dan Calvin merupakan dua insan yang belum muhrim, yang haram untuk bergaul terlalu jauh walaupun hanya tinggal dalam satu rumah, tidak terjadi apapun selain berbincang-bincang.

Hati nurani Kiran sebagai seorang muslim terusik, dia tahu kalau dia telah melakukan sesuatu yang salah. Tapi dia bingung harus bagaimana? Menghadapi ibunya yang juga hampir bunuh diri karena marah sekali kepada ayahnya dan menghadapi perasaan cintanya sendiri pada lelaki yang tidak sepatutnya dia cintai. Belum lagi dia seperti selalu dihantui oleh kenangan buruk masa kecilnya yang tidak bisa dia ingat. Menghadapi masalah ini, dimanakah perannya agama yang sudah dia pelajari sejak kecil?

***

PROLOG

Matanya nyalang memandang pintu tersebut. Sebuah pintu double terbuat dari kayu jati terbaik yang dipernis berwarna hitam dan senantiasa selalu terlihat bersih walaupun sebenarnya ada banyak sekali bekas-bekas telapak tangan yang menempel pada gagang alumuniumnya yang sekilas terlihat sangat mengkilap. Sebuah pintu, yang dikatakan oleh banyak orang, menawarkan sebuah kesenangan dan kenikmatan duniawi, bisa membuat waktu berlalu dengan sangat cepat, tapi juga bisa membuat waktu seolah-olah tidak bergerak, berharap sang malam tidak cepat berakhir.

Tiba-tiba badannya bertabrakan dengan sepasang muda-mudi yang juga hendak masuk ke dalam sambil tertawa-tawa. Sejenak mereka menoleh kearahnya, meneliti penampilan keseluruhan dari orang yang baru saja mereka tabrak. Tapi kemudian mereka memutuskan untuk meninggalkannya karena dirasa bukan orang yang penting untuk ditolong dan terus saja masuk ke dalam ruangan tersebut.

Sesungguhnya badannya sudah sangat lemah sekali. Lima hari belakangan ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena kasur hotel yang tidak empuk dan nyaman, namun lebih karena otaknya yang tidak mau kompromi untuk berisitirahat dengan cukup.Lima hari kemarin pun, dia selalu mengunjungi klub-klub yang disediakan di dalam hotel-hotel tempat dia menginap. Dia memang tidak hanya menginap di satu tempat. Entah mengapa dia melakukan itu, dia hanya ingin melakukannya.

Badannya sakit sekali. Dan sesungguhnya kalau badan itu bisa berbicara, dia pasti sudah berteriak dengan kencang untuk meminta pergi saja dari sana dan segera naik ke atas tempat tidur untuk istirahat. Tapi ternyata, rasa sakit badannya masih kalah sakit dibandingkan hatinya saat ini. Hatinya sakit! Dan walaupun tahu dia sedang menyakiti dirinya sendiri, dia malah sengaja untuk lebih menyakiti dirinya lagi. Dalam otaknya hanya berpikir untuk lebih menyakiti dan menyakiti lagi, karena dia sudah tidak menemukan alasan untuk tetap hidup di dunia ini lagi dengan baik.

Setelah beberapa saat, dia pun bangkit kembali dan memaksakan dirinya untuk berjalan dan mendorong pintu itu sampai terbuka lebar. Dengan segera, gelegar suara musik pun langsung terdengar, menghantam dada dan kepalanya dengan irama-irama keras dan cepat. Sebagian otaknya mengirimkan rasa sakit ke sekujur badannya, tapi bagian otaknya yang lain malah menerima irama keras dan cepat tersebut. Itulah yang dia butuhkan saat ini. Musik untuk mengalihkan perhatian seluruhnya. Dan mungkin… segelas minuman keras, ataupun sebutir pil, atau apapun yang bisa membuatnya terbang melayang … dengan setinggi-tingginya, sampai tidak bisa berpijak kembali di tanah ini.

***

28 Juni 2006,
"Hey, I’m not an atheist, I still believe in God! Jadi tolong dibedakan, ya?!"

"Lalu kenapa kamu tidak memutuskan agama mana yang akan kau pilih?"

"Kiran, tolong jangan paksa aku! Aku sudah pernah bilang sama kamu, lagipula apa masalahnya denganmu kalau aku tidak akan memutuskan akan memeluk agama yang mana? Aku sudah percaya dengan adanya Tuhan, yang menciptakan dunia ini. Aku juga tidak berbuat jahat pada orang, aku tidak membunuh, tidak merampok ataupun mencuri. Bukankah itu bagus? Aku hanyalah manusia yang bebas! Tidakkah itu sudah cukup?"


Kiran tidak membantah ucapan Calvin, dia hanya bisa diam saja.


"Lagipula Kiran, sampai kapan kamu mau kabur dari rumahmu dan terus mengganggu hidupku? Sudah selama dua minggu! Kamu tahu apa artinya itu?"


"Hasrat biologismu tidak tersalurkan selama dua minggu?” jawab Kiran polos tapi dengan senyum yang menyebalkan.


Calvin langsung mengacak-acak rambutnya yang pendek, “Kalau begitu bisa kamu sekali ini tolong aku?”


"Nggak bisa! Aku malah sengaja melakukan ini, aku sudah bosan melihatmu bersama wanita itu. Benar-benar nggak beradab! Walaupun di rumah sendiri, tidak sewajarnya berkeliaran tanpa memakai pakaian sama sekali!”


"Kiran, kamu sudah duapuluh
lima tahun dan aku pun sudah duapuluh lima tahun, jadi wajar kalau aku butuh privasi untuk menikmati anugrah yang Tuhan berikan padaku?”


“Ya, tapi tidak dengan melakukan itu. Kamu bisa menikahinya. Kalau Andrea sudah jadi istrimu aku nggak akan ganggu kamu lagi.”


“Kiran, kamu tahu apa pendapatku mengenai pernikahan, kan?!”


“Ya-ya-ya! Sudahlah Calvin, kita toh kenal bukan satu-dua tahun, tapi sudah seumur hidup! Lagipula sudah selama tujuh tahun kita tidak bertemu, apa kau tidak bisa bersikap lembut sama teman masa kecilmu ini? Kalau kamu memang segitu nggak tahannya untuk melakukan hubungan, lakukan saja di rumah cewekmu atau mungkin kalian sewa aja kamar hotel!”


Oh, shit!! Okay-okay, I give up! Seumur hidup…, benar saja! Lakukan sesukamu, aku nggak mau tahu lagi!”


Setelah berkata itu, Calvin langsung pergi menuju kamar mandi sambil menggeram karena kesal dan geramannya masih terdengar sampai dia di dalam kamar mandi sekalipun.


Kiran membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Baru saja sejam yang lalu Kiran memergoki teman masa kecilnya itu sedang bercumbu dengan Andrea di depan pintu kamar apartemen.


Andrea yang mengetahui kalau Kiran masih menginap di apartemen Calvin langsung pulang karena marah.


Great! Lihat akibat ulahmu itu. Katamu kau sudah akan pergi meninggalkan apartemen ini pada jam sepuluh pagi tadi! Tapi ngapain hidungmu yang pesek itu masih berkeliaran di kamar ini?”


Kiran mengingat-ingat ucapan Calvin. Tadi pagi Kiran dan Calvin memang bertengkar, dan Kiran memutuskan untuk pergi dari apartemen ini tepat pukul sepuluh pagi. Kiran memang pergi, tapi dia tidak tahu harus pergi kemana lagi atau menginap kemana, karena itu dia memutuskan untuk kembali ke apartemen Calvin. Dan bagaimana Kiran bisa masuk ke apartemen Calvin, itu karena Kiran diberi kunci cadangannya oleh Calvin.


“Aku memang pergi tepat pukul sepuluh! Tapi aku, kan, nggak bilang kalau aku nggak akan balik lagi.”


“Dasar kekanak-kanakan! Mau kamu bagaimana sekarang? Aku tanyakan juga masalahmu kamu nggak mau menceritakannya padaku. Selama dua minggu ini yang aku dapati hanya kebisuan! Kalau kamu diam seperti ini juga masalahmu nggak akan selesai!”


“Kamu tahu apa, sih? Aku cerita pun percuma!”


“Okay, kalau memang itu pendapatmu. Aku hanyalah teman masa kecilmu yang tidak berguna. Kalau kamu memang menganggap dirimu sehebat itu, kenapa kamu nggak pulang saja dan katakan pada orangtuamu kalau mereka berdua benar-benar bodoh, bego dan tidak masuk diakal!?”


Kiran kaget mendengar ucapan Calvin, “Apakah kamu membaca buku diaryku?”


“Hey, jangan salahkan aku, kenapa kamu tidak hati-hati dalam menyimpan benda-benda berhargamu!?”


“Kamu seharusnya tahu kalau kamu nggak berhak untuk membaca diary orang lain!”


“Hey, jangan marah! Aku juga nggak membaca semuanya! Jadi bagaimana keputusanmu? Apakah kamu akan tetap pada prinsipmu?”


“Tentu saja aku akan tetap pada prinsipku. Aku bukan dirimu yang dengan entengnya menjadi seorang atheist!”


Itulah awal pertengkaran mereka. Kiran menghela nafasnya dalam-dalam. Kiran sudah cukup lama mengenal Calvin, sudah seumur hidup mereka dimana sekarang dia sudah berumur dua puluh lima tahun. Dia pun mengenal kedua orang tua Calvin dengan baik. Kiran juga sadar kalau dia nggak pantas berkata kasar seperti itu pada Calvin yang telah banyak membantunya dan sudah begitu baik padanya menampung dirinya sampai dua minggu ini.


Kiran sadar, dia nggak bisa lepas dari Calvin, karena Kiran merasa bersalah sekali tidak menjaga Calvin sehingga Calvin telah terjerumus dalam dunia yang serba bebas dan tidak terkontrol. Jaman sekarang, free sex, alkohol, drugs, sudah tidak aneh lagi. Dan Calvin pernah merasakan itu semua.


Dan sekarang, Kiran pun tengah mengalaminya. Bathinnya tengah bergejolak setelah mengetahui kalau ayahnya telah menikah lagi dengan wanita yang seumuran dengan dirinya. Dia sangat kecewa sekali. Hampir saja dia nekat untuk melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri, kalau saja dia tidak bertemu dengan Calvin.


***


Malam itu, tiga minggu yang lalu, Kiran baru kembali dari kantor editornya. Kiran merupakan seorang penulis lepas. Jadi kantornya adalah kamarnya sendiri. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mendapati rumahnya sedang tidak ada orang satupun juga. Sampai akhirnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Kiran mendengar suara mobil berhenti di depan pagar rumah.


Ayahnya baru saja pulang dengan seorang gadis yang mungkin masih seumuran dengannya. Kiran menyambut ayahnya seperti biasa dan menanyakan siapa wanita ini, bertamu malam-malam. Dan ternyata jawabannya sangat di luar perkiraan Kiran, wanita itu adalah istri kedua ayahnya. Kiran kaget sekali.


”Kapan ayah menikahinya?”


”Kurang lebih setahun yang lalu,”


”Kenapa nggak ada satupun keluarga kita yang tahu?”


”Ayah seorang laki-laki, tidak harus memberitahu siapapun kalau ayah ingin menikah lagi bukan?”


”Tapi ayah seorang suami dan seorang ayah. Setidaknya kewajiban seorang suami adalah meminta ijin kepada istrinya untuk menikah lagi dan juga memberitahukan kepada anaknya kalau dia akan mendapatkan seorang ibu tiri yang seumuran dengan dirinya!”


”Kiran, sudahlah! Hari ini ayah sudah cukup bertengkar dengan ibumu. Apakah setidaknya kamu bisa mengerti sedikit tentang ayah!”


”Jadi ibu tidak ada di rumah karena bertengkar dengan ayah?”


”Ayah tidak tahu kalau ibumu tidak ada di rumah. Sudahlah, apa kau nggak lihat ibumu yang satu ini juga sedang hamil besar? Dia sedang mengandung adik laki-lakimu!”


Kiran terhenyak mendengar perkataan ayahnya. Memang bukan rahasia lagi kalau salah satu ambisi ayahnya adalah ingin memiliki seorang anak laki-laki. Tapi ibu nggak mungkin memberikannya, karena rahim ibu tidak cukup kuat untuk melahirkan seorang anak lagi. Karena ketika hendak melahirkan Kiran pun, ibunya nyaris meninggal dunia.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Kiran segera berbalik dan pergi menuju kamarnya. Kiran memencet nomor telpon yang sudah sangat dihapalnya. Nomor telpon selular ibu. Tapi sampai sepuluh kali mencoba, ibu tidak juga mengangkatnya. Hati Kiran khawatir sekali. Dia takut ibunya melakukan sesuatu yang konyol. Kiran mengenal baik ibunya. Ibunya amat sangat rapuh. Sehingga ketika dalam keadaan tertekan ibunya bisa saja berbuat nekat yang bisa membahayakan nyawanya. Tapi karena Kiran sudah sangat kelelahan. Akhirnya dia tertidur juga dengan masih memakai pakaian lengkap.


Esoknya dia mendapat telpon dari Tante Efi kalau ibu masuk rumah sakit karena overdosis. Ibu mempunyai kebiasaan menelan pil tidur karena penyakit insomnianya.


Kiran menelpon ayah dan mengatakan kalau ibu masuk rumah sakit. Dan dia pun segera pergi ke sana bersama ibu tirinya, Lia.


Begitu sampai di rumah sakit, ibu sudah siuman, tapi begitu dia melihat Lia, ibu langsung histeris kembali, dan mulai memberontak menyebabkan jarum infus yang menusuk di tangannya terlepas sehingga terjadi pendarahan. Tak lama kemudian, ibu pingsan.


Lia menangis, dia merasa sangat bersalah sekali. Dalam keadaan seperti itu, Kiran bingung harus membela yang mana. Di satu sisi, dia sangat menyayangi ibunya, tapi di sisi lain dia merasa kasihan juga melihat Lia. Sehingga saat ini, Kiran hanya bisa menyalahkan ayahnya.


Malamnya Kiran bertengkar kembali dengan ayah, karena ayah terkesan sangat menyalahkan ibu. Ayah sama sekali tidak memiliki penyesalan telah menikah untuk kedua kalinya tanpa seijin mereka berdua.


”Lihat ibu! Apa ayah akan tetap berkata seperti itu dengan melihat kondisi ibu sekarang?”


”Ayah paham! Tapi apa ibumu juga nggak melihat kondisi Lia? Ayah menikah bukan karena nafsu semata. Apakah ibumu tahu bagaimana latar belakang kondisi keluarga Lia?”


”Ibu mungkin tidak mau melihatnya sekarang. Kenapa ayah nggak coba memberitahunya setahun yang lalu sebelum ayah menikahinya? Lagipula apa yang ayah tahu tentang nafsu? Toh, ayah juga melakukan hubungan suami-istri dengannya? Itu, kan, juga bagian dari nafsu!”


Hampir saja tangan ayahnya melayang ke pipi Kiran.


”Cukup! Ayah nggak mau berdebat lagi!”


”Ya, sudah..., aku juga nggak mau berdebat lagi..., aku nggak mau berdebat dengan ayah yang tidak menginginkan seorang anak perempuan! Aku memang anak perempuan yang tak diinginkan ayah, kan!? Terima kasih ayah atas dua puluh lima tahun ini!”


Esok paginya Kiran langsung pergi dari rumah, sebelum semua penghuni di rumahnya terbangun.


***

Tuesday, March 10, 2009

Sinopsis Shakila

Well... ini tulisan pertama gue di blog ini atas permintaan om Hans sih! Dan gue merasa sangat tersanjung. Tulisan pertama gue ini akan mengulas sedikit sinopsis tentang tulisan gue. Basically karena ini teenlit, inspirasinya pun pasti dari sekitar gue dan juga komik-komik atau novel yang pernah gue baca atau film-film yang pernah gue tonton.

SINOPSIS : SHAKILA

Cerita ini bersetting di sebuah sekolah swasta bernama SMU ELANG PERKASA, yang dibangun oleh lima perusahaan raksasa dibawah panji INDONESIA RAYA FOUNDATION. Sekolah tersebut sebenarnya terdiri atas TK, SD, SMP, SMU dan Universitas sampai tingkat Doctoral dengan luas 30 hektar. Di sekitar kompleks pendidikan pun dibangun apartemen, rumah sakit dan juga pusat perbelanjaan. (Kalau melihat sekolah ini, kita yang sudah bekerja, pasti berharap bisa balik lagi ke masa-masa sekolah kita, deh! Tapi tentu saja itu hanya ada dalam cerita ini).

Shakila merupakan pelajar SMU biasa yang menjalani kehidupan sehari-harinya dengan biasa aja (Walaupun sebenarnya dia bukan siswi biasa). Shakila merupakan anak yang cerdas, namun cerdas untuk hal-hal yang menarik perhatiannya. Di sekolah dia aktif di klub majalah sebagai ketua artistik dan juga photografer (jadi memang sebenarnya dia bukan siswi biasa). Namun dia menjadi biasa karena dia sangat tidak menonjol dan juga fisik yang terbatas. Tinggi, kurus, rambut model pixie (tahu model rambut agyness deyn yang jadi tren banget tahun 2008 kemaren kan?), kulit pucat dan sangat pendiam. Jadi hampir tidak ada yang mengenal dia selain
teman-teman sekelasnya.

Cerita dimulai ketika Shakila sedang diculik oleh sebuah organisasi rahasia yang merupakan musuh dari para pemilik yayasan Elang Perkasa, yang ternyata hanya sekumpulan remaja berusia belasan tahun yang mempunyai warisan terlampau banyak dan diberi kelebihan otak dan bakat bisnis yang terlalu luar biasa, yang dipimpin oleh teman sekelas Shakila yang bernama Arden Putra Perdana Kusuma. Kelompok ini terdiri atas Edwin, Roodwick Arya Stevens bersama kembarannya Donita Arya Stevens dan juga Noor Ilyas Prahastanto. Mereka menamakan diri mereka The High Five.

Mereka berlima bertemu ketika mereka berumur delapan tahun pada sebuah tragedi yang sama, yaitu kecelakaan pesawat terbang yang membunuh kedua orang tua mereka, kecuali Arden. Arden masih memiliki seorang ayah, dan ayah inilah yang mendidik mereka semua untuk menjadi enterpreneur muda terhebat di Indonesia bahkan di dunia.

Shakila bisa mengenal mereka semua, yang membuatnya akhirnya terlibat dalam sebuah organisasi rahasia yang ada di sekolahnya, Badan Inteligen Sekolah, yang ternyata tidak hanya menangani yayasan Elang Perkasa saja, tapi juga hampir seluruh sekolah yang ada di Jabodetabek.

Tentu saja, keterlibatannya di organisasi ini tidak boleh diketahui oleh siapapun, termasuk sahabatnya, Rita Arthalia Kartini yang sama-sama bergelut di majalah sekolah sebagai reporter. Dan tentu bisa kita duga, semenjak mengenal The High Five, hidupnya langsung berubah drastis dan dia bisa mengetahui rahasia-rahasia sekolah yang paling sentisitif sekalipun. Tapi ternyata justru karena itulah, hidupnya menjadi tidak aman. Selain dia harus menghadapi musuhan dari teman-teman sekolahnya yang iri karena dia bisa dekat dengan Arden, sang pangeran, yang merupakan idola sekolah (tentu saja hanya itu yang diketahui oleh orang-orang awam), Kasus-kasus pelanggaran yang banyak dilakukan oleh murid-murid, dan ternyata dia juga menjadi sasaran incaran dari perusahaan saingan kelima personil The High Five, seperti yang sudah diungkapkan di atas tadi.

Bagamana Shakila bisa mengatasinya? Semua itu hanya bisa dibaca di Novel Shakila tentu saja, yang sedang dalam tahap revisi dan semoga... semoga... cepat selesai. Do'ain, ya!

Oleh : Nichi781

Sunday, December 7, 2008


Novel baru Lintas : HANTU GAMELAN

“GUNG! D’ GUNG...!! D’ GUUUUUUUNG...!!!”

Suara gamelan itu makin mendekat. Dentuman gong yang dipukul bertalu-talu, kempul yang dipukul nyaring, dan suara kendang yang menghentak, membuat jantung kami melonjak-lonjak seperti mau lompat keluar dari rongga dada.

Ketika menatap ke atas keranda mayat, aku melihatnya duduk di sana...

Wajahnya sangat mengerikan. Kulitnya hijau gelap, hidungnya hanya berupa lubang hitam menganga, dan mulutnya robek tak berbibir. Gigi-geliginya mencuat ke sana kemari sangat menjijikkan. Lalu ia melambaikan tangannya yang kurus tak berdaging ke arahku, memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Aku terpaku kaget. Nyawaku seperti terbetot dan melayang ke luar dari dalam tubuhku.



Wednesday, November 19, 2008

HUJAN (Thee&Rien)

“Tes...Tes...” Gerimis mulai turun. Musim penghujan yang baru datang memang sulit diprediksikan. Bisa saja datang siang, sore, malam, bahkan pagi hari yang cerah seperti ini. Langit tidak mendung. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan.

Banyak yang bilang, ini hujannya orang mati. Entah benar atau tidak. Tapi bukankah memang ada kematian setiap hari. Tapi kenapa hujan orang mati ini tidak datang saat musim kemarau. Padahal setiap hari dalam hitungan menit setidaknya satu nyawa melayang. Entah, banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya dalam kehidupan ini.

Seperti pertanyaan yang mendominasi headline koran INTRIK pagi itu. Tidak ada yang tahu jawabannya. Belum tahu. Entah kapan. Namun tidak ada pertanyaan apakah koran itu memang akan basah bermandikan air hujan yang semakin deras jatuh ke bumi.

Karena sudah terjadi. Sudah pasti sekarang ini koran itu kuyup, lapuk. Tinta dan kertasnya seolah menyatu dalam warna. Koran itu basah, sudah ada robekan di sana-sini. Terhujam garangnya air hujan yang menancap ke permukaan bumi pagi ini. Tepatnya bumi Indonesia, negeri di mana banyak yang percaya tentang adanya hujan orang mati.

*

Gadis itu menatap koran berhalaman kekuningan di depannya, isinya masih sederhana, deretan katanya juga hanya itu-itu saja. Tidak direpotkan oleh isu-isu ekonomi yang kini kian merebak.
Kemudian pandangannya berpindah menuju koran di genggaman tangan kanannya, tulisannya rapat-rapat. Banjir bandang, gempa bumi yang melanda tanah Sumatera tertera besar di depan halamannya. Sisanya isu-isu ekonomi yang tidak kian reda.

Hhff… klise, ujarnya dalam hati.

Tanggal di koran menyebutkan 21 September 2007, dulu mungkin pembunuhan menjadi suatu kisah yang spektakuler, menghiasi besar-besar headline koran dengan kertas kekuningan tahun 1986 tersebut. Sekarang? Berita kriminal akan diletakkan di tengah halaman, belakang, atau pojok koran. Kecuali jika presiden Indonesia ini terbunuh.
Enggan dia membolak-balik halaman koran, mencari sesuatu yang sudah menjadi tujuannya sejak pagi dia membeli koran itu.

Nah… itu dia,
terletak di pojok halaman 20.





HUJAN
Sebuah Fiksi. Novel Thriller Fiction dengan kontroversi sosial politik, pertama di Indonesia. Sarat dengan konflik dan permasalahan tak terduga. Juga hal-hal yang marak terjadi di masyarakat. Mengetengahkan problema kontroversial, seperti hubungan homoseksual atau sikap anti-sosial dan non aktual yang kian menjamur saat ini.
HUJAN
on JAPAN Version
SEGERA!
*
Alika hanya duduk di bar sambil memejamkan matanya, menegak bir di gelasnya yang sebelumnya sudah dia basuh dengan alkohol. Satu alasannya sampai dia datang ke tempat yang hina ini. Dia mencari Berlian.
Berlian Kirani, 22 tahun.
Muda.
Cantik.
Simpanan seorang pria tua bodoh.
Dan yang pasti… dia butuh uang.

Berlian, dia begitu mencintai Eben. Seorang pria berusia 52 tahun, sudah beristri dan beranak tiga. Eben hanya seorang pegawai rendahan di sebuah percetakan yang tidak ternama. Wajahnya memang menarik, dan dia punya sejuta kata romantis untuk dibuang-buang. Karena itu Berlian terjerat dalam pesonanya.

Tidak hanya kehormatannya yang sudah habis direguk oleh Eben, tapi juga uang. Tidak hanya sekali Eben meminta Berlian untuk memberikan uang pada dirinya. Tidak hanya satu atau dua ratus ribu, jutaan bahkan sudah pernah dimintanya. Dan Berlian begitu patuh mengikuti seluruh perintah Eben.

Gadis bodoh… pikir Alika.

Saat ini matanya terbuka dan sedang melihat Berlian tengah bercumbu dengan seorang pria yang lebih pantas menjadi ayahnya daripada menjadi kekasihnya. Pria itu bertubuh sintal dan berpakaian menarik layaknya seseorang yang terpelajar, rambutnya berwarna abu-abu, berkumis tipis dan memiliki senyum yang menggetarkan.

Berlian….

Gadis malang itu begitu mabuk dalam gelombang cinta semu yang diberikan oleh Eben.
Alika mendengus, muak. Sejak tadi dia tidak menemukan sesuatu yang menarik di dalam bar kecil di daerah Raden Saleh ini. Sama sekali tidak ada yang menarik. Sesak, gelap dan bising. Memperhatikan Berlian juga tidak membuatnya senang, malah membuatnya semakin kesal.

“Yo! Selina…. Nyanyikan satu lagu untuk kami!” Suara-suara itu begitu riuh memenuhi ruangan ketika seseorang naik ke atas panggung, menggantikan dua orang penari striptease yang kelelahan.

“Bon.” Jawab Alika pendek kepada pelayan bar.

Secarik kertas lusuh dengan tulisan cakar ayam disodorkan padanya, jumlahnya duapuluh ribu. Duapuluh ribu hanya untuk segelas bir yang tidak enak ini? Mereka pasti meminta bayaran dengan melihat penampilan, keluh Alika dalam hati. Tak urung dia keluarkan juga dua puluh ribu dari dalam dompetnya.

Alika sudah merasa jenuh dan bosan, dia sudah cukup melihat. Dan sudah tahu apa yang akan dia lakukan berikutnya. Karena itu dia melangkah keluar.

“There used to be a greying tower alone on the sea. You became the light on the dark side of me. Love remained a drug that's the high and not the pill….”

Langkah Alika terhenti ketika mendengar nyanyian itu, membuatnya tersentak. Dan untuk pertama kalinya dalam malam ini dia menoleh.

Untuk mencari.
Untuk melihat.
Hanya untuk tahu…
… suara indah dan lagu yang menawan itu siapa yang menyanyikan.
Sungguh kontras sekali lagu seindah ini dengan suara malaikat itu, di tempat seburuk ini. Sehina ini….

Alika berdiri di tempatnya, melihat sosok yang tengah bernyanyi di panggung bar kecil yang bobrok itu.

Jantungnya seolah berhenti berdetak, membuatnya bingung. Lagunyakah yang membuat dirinya tersentuh? Atau sosok yang sedang bernyanyi itu?

Seorang gadis berkulit putih, agak pucat, duduk di kursi tengah panggung. Dia menyanyikan lagu Kiss From A Rose dari SEAL dengan sepenuh hatinya. Matanya terpejam, dan dia tampak hanyut dalam lagu yang tengah dinyanyikannya.

Dari sekian banyak sampah dan pemandangan kotor yang dilihat Alika di dalam bar ini, hanya sosok itu satu-satunya yang bisa membuatnya terkesiap.

Gadis itu…
Begitu bersih…
Suci…
Indah, dengan kecantikan yang dia sendiri susah untuk mengutarakannya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, hatinya tergetar. Jiwanya terguncang, gadis itu merenggut seluruh perhatiannya. Seorang gadis… yang dia sendiri bahkan tidak mengenali siapa namanya dan darimana datangnya.

Tapi gadis seindah itu… Tidak mungkin termasuk ke dalam anggota belasan pelacur-pelacur kotor yang ada di dalam bar.

Sosoknya terlihat begitu mempesona dalam sorot lampu panggung, membuat kulitnya bersinar terang. Menjadikannya sosok terindah. Sebuah harta yang tidak ternilai yang berhasil dia temukan dalam tumpukan sampah kotor dan tidak berguna ini.

“….my power, my pleasure, my pain, baby. To me you're like a growing addiction that I can't deny. Won't you tell me is that healthy, baby? But did you know. That when it snows, My eyes become large and the light that you shine can be seen. Baby, I compare you to a kiss from a rose on the grey. Ooh, the more I get of you…”

Satu bagian dari dirinya seolah terkoyak ketika mendengar lagu itu terus mengalun dari bibir gadis mungil yang sedang duduk di tengah panggung ini. Hampir meluruhkan seluruh pertahanannya, membuatnya bingung juga merasa aneh.

Namanya Selina… begitu tadi orang-orang memanggilnya.
*
Tanpa aba-aba. Rinto menerjangnya. Brutal. Penuh gairah yang menggelora. Memunafikkan semua kenyataan. Membayangkan cinta sejatinya yang berselimutkan sutra bermotif bunga merah itu, yang kini berada di depannya.
Hasrat Galih terpuaskan. Rinto benar-benar sempurna. Luar dan dalam. Tak ada lagi cela baginya. Cela yang pernah mampir dalam otaknya, ketika Rinto membutuhkan perlindungannya sembilan belas tahun yang lalu, hilang seketika. Tanpa sisa.
“Aku harus pulang.”
“Jangan” tahan Galih.
“Aku harus….”
Tubuh Rinto perlahan bangkit. Namun tangan pria yang gemulai itu menahannya. Galih tak ingin sedikitpun menerima bahwa moment berharga ini harus pergi begitu cepat.
Tarik menarik itu berlangsung sekitar satu menit. Namun diakhiri dengan tekanan tangan kekar yang bergelung di pinggang Galih.
Awalnya, Galih berpikir apa yang dilakukan Rinto merupakan persetujuan non verbal atas permintaannya.
Tapi, mau tak mau dia harus membuang semua harapan melankolisnya itu. Karena sesaat setelah tindakan non verbal itu terjadi, Rinto melanjutkannya dengan tindakan non verbal yang lain.
Dia menahan kalimat pujian yang hendak terlontar dari mulut Galih dengan tangannya. Galih tidak merasakan ada sekat antara kulit telapak orang yang dicintainya itu dengan selaput tipis bibirnya. Dia tidak merasakan adanya saputangan bersimbol PKI itu hadir di indera pengecapnya. Tidak juga merasakan aroma chlorofoam sudah menembus tajam indera penciumannya.
Saat ini yang dia rasakan hanya pikirannya yang mengawang. Pusing yang menyenangkan. Sakit yang membahagiakan.
Saat ini yang dia rasakan, adalah cinta non verbal milik Rinto dan kehangatan tubuhnya.
*
Jam menunjukkan pukul 14.44 WIB, Eben masih tertidur. Berlian memutuskan untuk menyalakan radio sekarang, daripada terlambat dan melakukan kesalahan. Mungkin orang itu akan mengambil kembali uang lima puluh juta yang telah didapatkannya.

Tapi, kalau orang itu lebih memilih untuk mengambil nyawa Berlian?
Jadi lebih baik kunyalakan sekarang, pikir Berlian.
Zzzttt…zzz….zzzztttt….
Suara kaset dari tape tersebut seperti rekaman dari sebuah radio. Kurang jelas, dan terdengar suara seorang penyiar sebelum lagu di dalam tape itu dimainkan. Berlian merasa heran. Pikirannya berkata, apa maksud orang ini? Namun hatinya menimpali dengan kalimat yang lain,
Ah bodo amat! Yang penting duit udah di tangan. Dan Berlian memilih mengikuti kata hatinya. Dia tidak mau ambil pusing, sama halnya dengan sikapnya dalam menggampangkan hubungan cintanya dengan Eben.
“Kamu denge-“
“Zzz…. Lagu yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi...zzztttt….kiriman dari Handoko di Jakarta untuk Eben yang zzzz…zzzt….Bandung…”
“Hatiku hancur mengenang dikau. Berkeping-keping jadinya. Kini air mata jatuh bercucuran. Tiada lagi harapan.......”
Eben sudah tidak dapat lagi duduk bersandar, wajahnya pucat. Seperti pucat langit yang tertutup awan hujan saat ini.
“Apa? Kenapa sayang? Kamu nggak suka lagunya?” tanya Berlian.
Eben tidak menjawab, lagu Layu Sebelum Berkembang yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi itu terus mengalun. Eben tidak tahu persis itu lagu apa. Baginya lagu itu hanya lagu kuno yang memuakkan. Namun entah kenapa di saat alunan melodi menghentak telinganya, dia merasakan nyeri tak jelas yang tiba-tiba merayap di ulu hatinya.
Bagaikan intuisi negatif yang tiba-tiba hadir.
Pertanda buruk.
Wajah orang itu.
Tapi itu tidak mungkin terjadi! Tidak mungkin! Pria itu sudah mati belasan tahun yang lalu!
“Kumatiin aja ya.” Berlian mengambil inisiatif untuk mematikan radio karena melihat Eben begitu pucat dan tampak ketakutan.
… toh sudah kunyalakan seperti yang diminta orang gila itu, pikir Berlian.
Klik!
Radio dimatikan, suara indah mendayu-dayu milik Tetty Kadi yang menyanyikan lagu Layu Sebelum Berkembang ciptaan A Riyanto itu langsung menghilang ditelan suara derasnya hujan.
Berlian kembali memandang ke depan, namun terlambat. Tiba-tiba saja mobil di depannya yang sedang melaju kencang, berbelok ke kiri dengan cepat. Tanpa sanggup menginjak rem, Berlian menghantam minibus yang berjalan sangat pelan di depannya.
“Gubraakkkk!!”
Hantaman tanpa ampun itu langsung membuat mobil Kijang pinjaman itu terpelanting. Eben tidak mengenakan sabuk pengaman, sehingga dia terlempar ke depan mobil dan menghantam dashboard.
Hujan turun semakin deras, tol Cipularang tertutup oleh derasnya hujan. Tapi tidak membuat orang menjadi urung untuk memperlambat laju kendaraan mereka masing-masing.
Baru saja mobil yang dikemudikan Berlian terlempar ke kiri, ban belakang mobilnya pecah dan menimbulkan suara decit yang tidak menyenangkan telinga. Membuat mobilnya tersungkur ke tengah jalan tol Cipularang.
… dalam keadaan terbalik.
Berlian melihat Eben masih dapat bernafas dan berusaha untuk melepaskan diri dari himpitan dashboard yang menimpa kakinya. Sebuah mobil Alphard berwarna hitam melaju kencang dari jalur tengah dan…
Brakkkk…
….untuk yang kedua kali, Kijang abu-abu metalik itu terbalik dan terseret sejauh tiga meter ke depan. Berlian hanya bisa menjerit, ketika akhirnya semuanya terhenti.
Dengan susah payah, tanpa sanggup menghentikan isak tangisnya, Berlian merangkak keluar dari dalam mobilnya yang hancur. Menangis dan berusaha mengapai Eben.
Pria itu…
Eben Lumaris.
Sudah tidak lagi bergerak.
Tidak lagi bisa tersenyum.
Tidak lagi bisa mengeluarkan rayuan-rayuan gombalnya.
Eben Lumaris. Diam dalam hujan, terhimpit oleh dashboard mobil, tubuhnya tertekuk dengan kepala menghantam kaca jendela depan. Darah mengalir deras dari kepalanya. Darah itu perlahan mengalir keluar, terbawa oleh arus air hujan yang deras.

Monday, November 3, 2008

Perspektif



Menanggapi tulisan Rien di postingan sebelumnya, bisa dibilang apa yang ditulis disitu memang benar!
Saya dan dia memiliki kesukaan yang berbeda terhadap genre novel dan cerita.

Kalau Rien lebih menyukai bahasa sastra, diskriptif yang jelas (Rien ini ialah satu penulis yang penggambaran lokasinya sangat jelas, tertata rapi, dan bisa dijadikan contoh bagaimana kita menggambarkan suatu tempat peristiwa dengan baik), maka saya lebih condong ke arah novel populer, dengan deskriptif yang sedikit, tapi emosi yang agak lebih banyak.
Saking banyaknya, kadang sampai menyalahi aturan yang ada, hehe.

Kalau Rien suka memasukkan hal yang tidak biasa, sedikit di luar jalur mainstream, maka saya kayaknya sih lebih lurus-lurus aja -=) .
Sampai Thee pernah berkomentar supaya saya berani untuk sedikit merubah warna novel saya, jangan merahhhh terus.
Nice advice, Thee. Lagi diusahain nih ;-)

Kalau Rien suka genre thriller ditektif, maka saya lebih suka romance.

Tapi lagi-lagi benar, kedua perbedaan itu tidak bisa dihilangkan.
Tapi bisa disatukan!

Dan akan lebih baik kalau kita bisa menyatukan perbedaan tersebut, sehingga karya yang kita hasilkan akan lebih sempurna.

Semakin saya banyak diskusi dengan mereka (Rien, Thee, Om Han, dan Odiee, my advisor), semakin juga saya diperkaya akan wawasan yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.
Dan itu mendorong serta membantu saya dalam menghasilkan karya yang semoga, lebih baik dari sebelumnya.

Memasukkan hal-hal yang tidak pernah berani saya tulis sebelumnya.
Menulis tentang hal-hal yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.
Mencoba membuat draft cerita dengan sudut pandang, karakter, konflik, dan deskripsi yang sebelumnya tidak pernah saya gali atau saya pikirkan.

Mengetahui bahwa menulis, selain sebagai relaksasi jiwa, juga bisa jadi proses belajar yang menyenangkan. Dan itu membuka view saya yang selama ini masih tertutup rapat.

That is a great adventure! =)
That is a wonderful journey!

Thanks Guys for all the support ;-)

Dan ini ada blog baru yang bagus. Kumpulan dari sekelompok editor yang ingin menularkan virus baca buat kita semua
Bisa jadi masukan yang berharga untuk kita.
Disana ada referensi buku bagus, ide-ide menulis, cara menulis yang baik, dll, dll.
Kudu kunjung buat kita-kita yang suka buku dan baca ;-)
klik virusbaca.blogspot.com

Saturday, November 1, 2008

Sebuah Opini, Sebuah Pemikiran, Sebuah Perspektif RIEN


Sedikit dilemma saat ingin menuliskan halaman ini. Tapi karena sejak awal kita menyatakan bahwa ini blog tempat discuss para penulis, maka saya akan menuliskan apa yang sempat mendatangi pikiran saya dari hasil discuss saya dengan Thee, mba Rina, atau pak Han. Mengenai statement dari Anda berempat yang paling nyangkut dalam pikiran saya. Banyak permohonan maaf sebelumnya, apabila kalimat saya ada yang menyinggung. Ini hanya sekedar komentar balasan secara lengkap atas statement yang pernah Thee,mba Rina, dan pak Han diskusikan dengan saya. Sebuah kejujuran dari komentar saya, dan pemikiran serta jalan hidup seorang RIEN.

Yang pertama, saya akan coba memberikan opini dari statement Thee yang pernah mengemukakan bahwa ‘jika di depan saya ada pilihan bisnis ataupun nulis, saya akan pilih bisnis’
Menurut saya, Thee adalah sosok yang mirip dengan seorang novelis bernama Harper Lee. Novelis yang hanya menulis satu novel sepanjang hidupnya, dan novel itu menjadi novel terlaris sepanjang masa, novel yang dianugeragi ‘Guiness Book of World Record’ karena berjuta orang yang membelinya. Judulya TO KILL A MOCKING BIRD








Saya tidak tahu pasti mengapa Harper Lee hanya ingin menulis satu novel saja, tapi jelas ia menginginkan kesempurnaan dalam setiap karyanya. Dan saya melihat, Thee juga memiliki personal yang seperti itu. Dia tidak ingin setengah-setengah dalam menulis, ingin total namun tidak terburu-buru. Tapi memang, tidak seratus persen ingin bergelut di dalamnya. Hal itu menyangkut statementnya beberapa waktu lalu kepada saya : ‘jika di depan saya ada pilihan bisnis ataupun nulis, saya akan pilih bisnis’

Mungkin saja akan terjadi hal yang sama ke saya, kalau memang saya dihadapkan pilihan seperti itu. Tapi saya rasa, bisnis dengan menulis bukan dua hal yang patut diperbandingkan. Bukan dua hal yang pantas disanding untuk dipilih. Bisnis dengan menulis adalah dua hal yang kontras, tapi substitute untuk seseorang. Bisnis adalah sebuah pekerjaan yang menuntut lebih banyak rasio, perhitungan, tenaga, dan permainan uang. Sementara, menurut saya, menulis, adalah pekerjaan yang menuntut tidak hanya rasio dan perhitungan, tetapi justru lebih banyak hati dan imajinasi, tidak membutuhkan banyak tenaga, dan buat saya menulis bukanlah sebuah permainan uang, tapi kepuasan batin. Karena, secara jujur, saya menulis bukan untuk uang, tapi untuk sarana refreshing pikiran saya, disaat kemelut kehidupan begitu dalam mengguncang saya, disaat lisan tak lagi mampu untuk mewakili hati yang ingin berteriak, saya akan menulis dan berimajinasi… hidup dalam dunia khayalan saya, dunia yang saya ciptakan sendiri. Kemelut yang saya ciptakan. Dunia yang tanpa beban buat saya. Dunia fiksi dalam pikiran saya. Bisnis, lebih banyak menggunakan otak kiri, sementara menulis lebih banyak menggunakan otak kanan. Jadi kesimpulannya kalau ada pilihan di depan saya ‘pilih bisnis atau menulis’ saya akan jawab : saya pilih dua-duanya. Karena manusia itu sesungguhnya tidak mau berhenti berpikir, bahkan saat tidur pun kita punya alam bawah sadar pikiran kita sendiri yang bekerja. Jadi ketika otak kiri ingin beristirahat, otak kanan saya akan menggantikannya bekerja secara otomatis, dan itu semua demi kepuasan batin saya. Jadi jika saya tidak lagi bekerja formal atau bisa dikatakan semisalnya berbisnis, saya akan beristirahat dengan menulis. Selain dari istirahat fisik. Meulis adalah istirahat secara batiniah, sama halnya ketika kita beristirahat bersama Tuhan, dalam doa-doa ataupun sembahyang yang biasa kita lakukan.
Nah, itu opini saya mengenai statement Thee. Setuju ataupun tidak, itu semua kembali kepada diri kita masing-masing, karena semua opini ini adalah kehidupan saya, jalan pikiran saya secara subjektif, dan berbicara mengenai perbedaan pemikiran manusia yang pastinya mempunyai jalannya masing-masing. That’s mention : the colour of life.

Kemudian, yang kedua, saya ingin… umm, lebih tepatnya memberi masukan kepada pak Han mengenai ‘keindahan cerita horror yang sesungguhnya’, tentunya dari sudut pandang saya. Sebenarnya, saya bukanlah pembaca yang menyenangi novel-novel yang berbicara tentang setan, atau hantu. Karena bagi saya semuanya hampir seragam, mulai dari bentuk makhluk gaib itu sendiri, hingga ketakutan-ketakutan yang dialami oleh manusia yang melihatnya. Tapi bagi saya ada satu film trilogi berjudul : Kuntilanak 1,2, dan 3 yang boleh dijadikan perbandingan. Awalnya saya melabelkan film ini tak beda dengan film atau cerita hantu lainnya. Namun ‘tembang’ yang dihadirkan di film, tembang dari seorang wanita yang berbakat memanggil kuntilanak, membuat saya penasaran dan mencoba menikmati film ini. Dan dari ketiganya saya suka, saya paling menyenangi episode Kuntilanak yang terakhir. Film ini menyajikan banyak statement filosofi hidup yang relevan dengan jalan cerita. Tidak melulu dikaitkan dengan cinta kekasih tapi juga menghadirkan cinta anak dengan ibunya, cinta dalam persahabatan, bahkan cintanya kepada diri sendiri.




“Kematian bukanlah sebuah akhir, tapi kematian adalah awal dari sebuah kesimpulan”
Atau “Jika manusia tidak siap untuk mati, maka manusia itu tidak siap untuk hidup” atau ada statement panjang di akhir, pesan seorang Samantha kepada adik kecilnya Yeni. Karena terlalu panjang, saya jadi lupa. Tapi, statement itu bagus sekali. Kurang lebih pesan-pesan filosofi yang dihadirkan dalam trilogi film ini seperti itu. Saya tidak tertarik dengan setan-setannya, tapi jalan cerita yang tidak biasa, kreatif, jujur, dan tentunya filosofis, sarat pesan moral. Dan alangkah indahnya sebuah cerita horror dengan penyajian yang bisa lebih baik lagi dari trilogi film Kuntilanak. Saya tidak tahu bagaimana bentuknya, karena saya bukan spesialis di bidang itu. Tapi bisa difikirkan. Kalau alur yang kreatif mungkin pak Han bisa berdiskusi dengan Thee, karena dia menulis sebuah sinopsis horror yang menurut saya brilliant. Judulnya : ANTIQUE. Dan bagi saya itu sebuah cerita horror yang belum ada, dan tidak biasa. Lebih baik lagi jika ada unsur filosofi dan moral di sana. Dimana menyatakan : SETAN ITU LEBIH RENDAH DERAJATNYA DARI MANUSIA.

Dan yang terakhir. Saya setuju dengan pendapat mba Rina yang menyatakan sebuah cerita jangan straight forward hanya kepada permasalahan. Baru-baru ini saya menonton film horror berjudul THE FOG. Film mengenai bangkitnya penghuni kapal besar bernama ‘Elizabeth Dane’ yang dipimpin oleh kapten Dane yang hidup pada tahun 1871. Kapten Dane beserta pengikutnya bangkit untuk membunuh semua keturunan empat orang pahlawan kota Oregon yang memiliki nama belakang Wayne, Malone, dua lagi saya lupa. Tapi ternyata ambisi terbesar sang kapten adalah menemukan sosok reinkarnasi kekasihnya yang bernama Elizabeth. Dan dia menemukannya di wanita yang bernama Elizabeth Wayne. Dalam diri wanita keturunan Wayne yang seharusnya dibunuhnya. Namun di ending ia hanya mencium wanita itu dan membawa rohnya dan meninggalkan keinginannya untuk membunuh keturunan Wayne, Malone yang lainnya. That’s for first, mba.. Yang kedua, saya setuju dengan statement mba Rina mengenai

...perbedaan perspektif dengan saya. Dari segi kesukaan jenis novel, baik itu untuk dikonsumsi atau ditulis sendiri oleh kita. Dan memang benar, bahwa perbedaan kita itu tidak bisa dilebur, namun mungkin bisa disatukan seperti halnya saya menyatukan tulisan saya dengan Thee. Hemmm, get it, mba… Secara khususnya, saya lega bahwa kita saling menyadari unsur perbedaan itu dalam diri kita dan kita bisa saling menghargai satu sama lain.

Well, saya rasa hanya itu pemikiran yang sempat menggantungi benak saya dari statement yang teman-teman pernah diskusikan ke saya. Tidak ada maksud menyinggung ataupun emosi berbalut sensitivitas dalam kalimat-kalimat perspektif saya ini. Hanya ingin berdiskusi secara tulisan, mengingat ‘hanya di ruang inilah kita berempat dapat bertemu setiap saat’


CHEERS and REGARDS,

Wednesday, October 29, 2008

Zoom



Sekedar promosi, karena berkat Tuhan, Zoom sudah terbit ;-)

And here is the sneak peak...

Nana Lovari tidak pernah sadar, betapa beruntung hidupnya saat ini.
Ya, ya, dia memang punya atasan yang menyebalkan dan pacar yang bawelnya ampun-ampunan, tapi tetap saja ia beruntung
Dan ia baru sadar, betapa ia diberkati ketika ia bertemu dengan Agil, anak jalanan yang sudah terbiasa hidup oleh tempaan badai yang begitu keras.

Nana menghela nafas.
Gadis kecil yang berdiri disebelahnya menggigit bibir cemas.
Seandainya ada yang memotret mereka, mungkin ini akan jadi pemandangan yang sangat menggelikan.
Menggelikan setrip mengharukan.Betapa kesenjangan sosial terpotret jelas saat ini.
Dua orang perempuan dalam siluet langit malam, berdiri berdampingan.
Satu tinggi. Satu pendek.
Satu dewasa. Dan satu masih anak-anak.
Satu mengenakan pakaian perancang. Dan satu lagi?
Nana menghela nafas miris, gaun kumal yang dikenakan oleh… entah siapa namanya, jelas sudah tidak layak pakai.
Sudah kependekan, bolong pula disana sini.
Sepatu yang Nana kenakan, bernilai ratusan ribu rupiah!
Tapi alas kaki dari si kuncir dua ini, hanya sandal jepit usang. Sandal jepit yang kebesaran. Mungkin punya ayahnya, atau ibunya. Entahlah! Berwarna biru tua dan kumal...

Dan ketika Nana putus dengan pacarnya yang egois, ia menjalin hubungan khusus dengan Jay, kakak asuh agil, sekaligus cowok paling baik yang pernah ia temui dalam hidupnya
.

“Jadi, bagaimana jawabanmu Na?”
Mau. Mau. Mau.Tapi, Nana masih gengsi. Jadi dia masih berdiam diri dan menunduk.
“Kenapa sekarang Jay? Maksudku, bukankah kita baru kenal, satu bulan?”
“Kurang malah.”
“Empat kali ketemu?”
“Lima.” Jay tersenyum lagi mengulurkan tangan dan menggenggam jari Nana yang terasa dingin.
Dengan itu Jay berusaha menyalurkan kehangatan, kepastian dan… cinta.
“Lima Na, kalau yang ini kamu hitung juga. Tapi kamu belum menghitung segala macam percakapan dan SMS kita di ponsel. Ya kan?”
Jay menatap Nana dalam.Nana jadi tambah salah tingkah.
“Ingat, yang kita ngobrol sampai 4 jam? Belum lagi, berapa kali ritual malam ‘night phone call’ kita sampai makan waktu dua jam? Sungguh Na, itu cukup intensif, kalau kamu tanya pendapatku!”
“Itu beda Jay.”Nana menggeleng. “Apakah kita tidak terlalu terburu-buru? Aku tidak ingin kita menyesal Jay. Pacaranku yang pertama saja sudah aneh bin ajaib. Aku tidak ingin pacaranku berikutnya akan ada kejutan yang membuatku sport jantung. Atau bentakan-bentakan yang membuatku susah tidur. Atau...”
Nana terdiam menggigit bibirnya keras.
Masih ada yang terasa sakit setiap kali dia mengingat Hansney keparat itu.
“Aku jamin Nana, 100% warranty, tidak akan ada bentakan yang membuatmu sport jantung. Ataupun sulit tidur. Atau...”
Dan hati Nana langsung membeku, melumer pada saat yang bersamaan.Jay menggenggam tangannya erat.

Sampai satu peristiwa lain terjadi. Peristiwa yang mengancam pekerjaannya, nama baiknya, harga dirinya, dan juga membuatnya kehilangan Jay…

“Aku pasti datang Nana. Tapi tidak sekarang. Kalau saatnya tiba. Kalau waktunya tepat aku ak...”
“Apa sekarang bukan saat yang tepat?” tanya Nana hampir berteriak.
Rasa benci dan frustasi mulai menggumpal didadanya.
Segala rasa sakit hati yang sejak tadi dia rasakan, ketika masih di kantor, seakan menemukan tempat pelampiasan yang tepat.
Ya Tuhan. Kekasihnya dipecat, difitnah dan dihina.
Dan Jay masih bisa bilang, jika saatnya tiba? Terbuat dari apa hati Jay itu? Batu?
Dan tadi dia bilang, bersumpah akan membelanya?
“Kalau kamu yang dipecat, aku pasti langsung datang Jay.” Ucap Nana penuh kebencian. “Aku tidak akan bilang untuk menunggu saat yang tepat Jay.”
“Nana...”
“Kenapa kamu tidak mau datang?” teriak Nana.
Matanya menatap nanar. Penampilannya saat ini pasti sangat kacau.
Tapi Nana tidak perduli.
Hatinya sangat sakit.
Sanggupkah Nana bertahan?


ZOOM
Starring : Nana Lovari, Jay Adijaya, Hans Suryajaya, Shari, Anabel Anwar, Harjunadi Lovari, Megawati Lovari.

Pesan sponsor : Beli, beli, beli, yahhhhh! ;-)

for online buying, please click here

Sunday, October 19, 2008

Sang pemimpi


Buku kedua dari tetralogi Andrea Hirata, Laskar pelangi, yang filmnya udah main di bioskop, dan still gue belum baca bukunya ;-)

hehe, unlike orang lain mungkin, gue malah skip buku pertama dia, dan mulai dari sang pemimpi. Alasannya, karena menurut beberapa orang, sang pemimpi dan edensor (buku ketiganya) lebih bagus daripada laskar pelangi yang lebih 'nyastra'

And I found it so true, that this novel is gorgeous, great dan... apa lagi ya.
Pokoknya dari awal baca yang rada ogah-ogahan, hanya karena semua bilang buku ini bagus banget, dan turned out, gue nggak bisa lepas sampai buku ini selesai gue baca ;-)
Bersiap buat baca Laskar pelangi, dan baru Edensor (hihi, cara baca yang aneh. Jangan ditiru!)

Dan setelah selesai baca buku ini, gue sampai telpon satu teman gue yang kerja di PWC, kantor audit nomor 1 di Indo, dan teman gue itu salah satu manager utama tim yang ngaudit telkom di Bandung.
Gue tanya dia, pernah ketemu Andrea Hirata nggak.
Ternyata... nggak! ;-)
dia juga tanya2 orang disana. Tapi intinya, si Andrea ini susah ditemui kali ya.

Inti buku bercerita tentang, Ikal, Arai dan Jimbron (si penggila kuda)
Arai adalah sepupu Ikal.
Kedua orangtuanya meninggal, dan sebagai anak satu-satunya, dialah penerus generasi keluarga, karena itu dia dijuluki si “simpai keramat”.
Hidupnya tidak mudah, tapi dia lakukan semua dengan optimisme dan mimpi.
Sementara Jimbron yang lebih sederhana, tetap tinggal di kampung halaman mereka, bahagia dengan cara hidupnya sendiri.

Buku ini bercerita tentang berani bermimpi (seperti gue sitir dari kalimat Arai, hidup tanpa mimpi untuk mereka (=kalangan bawah) sama artinya dengan mati)
Dan sebenarnya, bukan hanya buat mereka. Tapi buat kita semua.

Melalu cerita ini, kita diajar untuk berani mimpi, dan berusaha sekuat tenaga buat mengejar cita-cita kita.

paragraf di halaman terakhir bilang, betapa indah Tuhan memeluk impian dan cita-cita mereka, dan mengabulkan tepat waktunya. Ketika Ikal melihat, bahwa nama university yang menerima dia dan Arai itu sama : universite de Paris, Sorbonne, Prancis.

Memang sih, di bagian awal selalu diceritain kalau mereka selalu bermimpi untuk menginjakkan kaki miskin mereka di Sorbonne.
And the dreams do come true, eventually, in God's time, God's plan.
What a man must do is try to do the best. And God will do the rest.

Hiks, baca ini gue sampai nangis sedikit.
Sorry ya, spoiler dikit. Tapi gue yakin, semua mungkin udah baca kali.

And finally, gue tahu, kenapa buku ini jadi best seller!

A must read book from Mr. Hirata.
Dan itu juga sebab kenapa gue bisa memahami, bagaimana dia bisa mendapat bea siswa ke Sorbonne dan UK ;-)

Tuesday, October 7, 2008

MIRROR, MIRROR ON THE WALL


Nama penulis : Poppy D.Chusfani
Jenis : TeenLit – Roman Fantasi
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan : September 2008

Setelah membaca berbagai judul roman remaja mulai dari terbitan GPU, GagasMedia, Grasindo, Pustaka Hijau, Terrant Books, dll—saya melihat ada perkembangan dimana novel roman remaja tak lagi hanya berkutat soal cinta melulu. Biarpun unsur roman masih jadi sajian utama, namun di beberapa novel mulai bergeser kearah lain, yaitu fantasi dan science fiction. Kebetulan banget sudah sejak lama saya juga berkeinginan membuat jenis cerita dengan thema yang sama.
Ada beberapa judul teenlit yang beraroma demikian, misalnya Lost in Teleporter (Tria Barmawi), D’Angel ( Luna Turasingu), The Legend of Madriva (Sitta Karina), Indigo Girl (terbitan Terrant Books, penulisnya lupa), Uttuki ( Clra Ng), dan yang akan saya bahas di sini adalah Mirror, Mirror On the Wall karya Poppy D.Chusfani.
Membaca karya ibu muda beranak satu yang mengaku sebagai Tolkien freak ini, seolah saya sedang menikmati film bikinan Hollywood. Plot-nya adalah: tokoh utamanya cewek yang gak gitu cantik, gak pinter, gak gaul, dan pastinya nggak pede. Muncullah pertolongan dari makhluk gaib (biasanya peri atau jin). Dia mulai berubah. Bisa memperoleh ketenaran, pinter, gaul, bisa merebut cowok impian; tapi akhirnya hancur berantakan karena makhluk gaib itu merongrongnya.
Begitulah memang sifat setan, manis di muka ternyata mematikan di akhirannya. Karin yang mempunyai kakak perempuan yang sempurna dan ayah kaya yang sibuk, selalu merasa underdog, gak pernah dianggep oleh siapapun juga. Tak sengaja dia nemu sebuah cermin antik di gudang rumahnya. Cermin itu berisi semacam jin peninggalan nenek moyangnya yang masih keturunan raja Banten.
Ketiga jin yang berujud nenek buyutnya itu membuat Karin jadi top. Dia bisa jadi penyanyi solo di paduan suara sekolah, bisa mendapatkan cowok idaman para cewek sekolahnya bernama Andree yang ganteng dan tajir abis, dipuji ayah dan kakak perempuannya yang selama ini nyuekin dia, dst dst...
Kemudian muncul dua ekor harimau jadi-jadian yang selama ini selalu mengawalnya secara diam-diam. Makhluk gaib yang muncul belakangan ini tak senang Karin sering masuk ke dalam cermin dan berada di dunia gaib, karena hal itu akan menyedot energinya dan memperlemah rohnya. Tapi Karin yang sudah merasa tergantung pada ketiga wanita penghuni cermin tak ambil perduli.
Bahkan nasehat sahabat karibnya sejak kecil bernama Shawn yang dipanggilnya sebagai bule dekil, juga tak digubrisnya. Salah satu jin wanita di dalam cermin yang bernama Nyi Rajadharma, seringkali diminta menyaru jadi dirinya untuk mewujudkan keinginan Karin. Belakangan ketahuan bahwa jin itu ternyata berniat busuk. Sayangnya sudah terlambat bagi Karin untuk menyesali keputusannya.
Dan begitulah akhirnya. Seperti tadi saya bilang, endingnya aja mirip banget dengan film bikinan Hollywood. Dua harimau jadi-jadian yang jauh dari kesan seram itu duduk di belakang mobil sambil melantunkan puisi, sementara Karin dan cowoknya (silakah tebak yang mana: Andree atau Shawn?) duduk di depan mobil dengan bahagia.
Sebagai hiburan, novel ini enak dibaca. Di sana-sini banyak joke-joke yang walau terasa sekali khas Hollywood, tapi bisa bikin kita tersenyum. Kedua harimau betina jadi-jadian yang bernama Cangra (yang serius dan suka menasehati) dan Wulung (yang cuek dan kocak) membuat suasana jadi hidup. Sayangnya penggambaran tokoh Nyi Rajadharma dan kedua saudaranya kurang digarap, jadinya tokoh antagonis ini kurang terasa menggigit.
Btw, layaklah cerita ini dijadikan hiburan di kala senggang, disaat kita lagi malas membaca novel serius macam karya Umberto Uco, John Grisham, Agatha Cristie dll.

Friday, September 26, 2008

The Devil's DNA




(Huaaaahhh... akhirnya..... bisa juga masuk ke blog ini... soalnya tadi susah pisaaan euuuy..)




SATU PEMBUNUHAN TAK PERNAH CUKUP
BAGINYA, MEMBUNUH ADALAH CANDU TERKUAT,
HASRAT TERLUHUR, EKSPRESI CINTA TERMANIS…

Gue baru aja baca novel ini. Gue bener-bener nggak bisa melepaskan tangan gue sebelum menyelesaikan novel ini. GILA! Penulis berbakat banget. Mungkin inilah novel thriller terbaik yang pernah gue baca. Nggak rugi gue ngeluarin uang 59.900 untuk beli novel ini.

Novel ini gue temukan di gramed Semanggi, tapi karena keterbatasan budget, gue akhirnya membeli juga di gramed Cinere.

Sinopsisnya :

-1983-
Allison Wallis, seorang dokter muda, ditemukan tewas mengenaskan di dalam apartemennya di Manhattan. Detektif Francis X Loughlin menangani kasus ini. Ini adalah kasus besar pertamanya. Kecurigaan tertuju pada Julian ”Hoolian” Vega, anak pengawas gedung apartemen Allison. Hoolian adalah seorang pelajar sekolah Katolik, penggemar fiksi ilmiah berusia tujuh belas tahun. Francis berhasil menyeret Hoolian ke penjara. Kasus pun ditutup.

-2003-
Francis menjelang masa pensiunnya dan terancam mengalami kebutaan. Di penghujung karirnya itu, ia kembali menangani kasus besar. Lagi-lagi pembunuhan seorang dokter wanita muda. Korban kali ini pun memiliki kemiripan fisik dengan Allison Wallis. Kebetulan, Hoolian saat itu telah bebas dan bekerja di daerah TKP. Awalnya ini tampak seperti kasus mudah, sampai kemudian diketahui fakta bahwa DNA pembunuh yang ditemukan di bawah kuku korban adalah DNA Allison Wallis—korban pembunuhan 20 tahun lalu!

Gue menyelesaikannya hanya dalam waktu satu setengah hari. Mungkin Anda-Anda semua menganggap sepele cerita karena dari sinopsisnya aja udah bisa ditebak siapa pembunuhnya. Tapi,tapi,tapi... itu SALAH! Pikiran itu pernah menggelayuti benak gue juga pas baca sinopsisnya. Tapi, hal itu yang jadi menarik. Nggak mungkin segampang itu penulis membocorkan rahasia terbesar novelnya. Dan yang bikin lebih menarik lagi, flashback itu. Flashback adalah favorit gue. Kebanyakan novel gue memiliki style seperti itu. Mungkin hamper semua. Yang jelas terlihat di Hujan, The Sacred Night (dulu Malam Inaugurasi) tapi novel yang ini belum dikasih ke penerbit walaupun udah selesai, dan MaRooN (sedikit mengandung flashback).

Flashback yang bikin gue paling tertarik dengan novel ini. Dan ternyata, pas gue baca nggak hanya unsur satu itu yang paling OKE. Tapi SEMUANYA… Bener-bener nggak bisa ditebak. Coba aja lihat, testi-testi yang mendukung novel ini. Yang best of the best :

“Tidak ada novel yang lebih baik daripada novel ini” -The New York Sun-

“Sebuah thriller psikologis yang menegangkan. Akhirnya sungguh mengejutkan dan tak terduga” -Time Magazine-

“Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca” -Stephen King-

See? Gue yakin semua endorse ini JUJUR apa adanya, nggak sekedar testi, karena gue emang sangat mengagumi novel ini, penulisnya : Peter Blauner.

Seorang penulis yang telah memenangkan Edgar Allan Poe Award, dan novel-novelnya telah ditranslate ke enam belas bahasa.

Kalimatnya indah banget, detail, penuh pelajaran moral, dan tentunya misterius…

Salah satu kalimat terbaiknya (menurut gue) yang gue temukan di prolog :

Dokter membantumu lahir ke dunia, pengurus pemakaman mengantarmu kembali ke dalam tanah, dan jika terjadi sesuatu yang tidak beres diantara kedua waktu itu, orang akan memanggil polisi.

Gue nggak akan berkomentar lebih banyak lagi deh tentang novel ini. Ini bener-bener novel thriller terbaik yang pernah gue baca.

Jika Anda mengaku pencinta thriller, Anda jangan hanya membaca atau meminjam novel ini, tapi... ANDA HARUS PUNYA!

Thursday, September 25, 2008

Compare to This!



Lelaki Terindah
-Andrei Aksana-

Resensi ini dikutip dari www.gramedia.com;
Lelaki Terindah adalah buku ke-4 dari Andrei Aksana. Penulis yang juga dikenal dengan julukan The Singing Author ini membongkar sebuah realita kehidupan percintaan yang menentang norma dalam masyarakat dan mengangkatnya menjadi sebuah cerita yang mengharukan.

Lelaki Terindah mengisahkan tentang kehidupan percintaan antara dua pria. Kisah cinta yang diawali tanpa sengaja. Seperti kata salah satu tokoh dalam novel tersebut 'Bukankan selalu ada awal yang baru?'

Rafky adalah sosok lelaki yang nyaris tanpa cacat. Tubuh yang atletis, wajah yang rupawan, dan kecerdasan yang di atas rata-rata. Ia adalah lelaki yang menarik perhatian hampir setiap orang. Sosok yang begitu memikat sampai satu hari seorang lelaki jatuh cinta padanya.

Pertemuannya dengan Valent di pesawat menuju Thailand tanpa sengaja merupakan awal dari kisah mereka. Valent yang tampan dan lembut menarik perhatian Rafky. Undangannya untuk tinggal bersamanya selama di Thailand diterima Rafky walau ia agak keberatan dengan gaya hidup Valent yang kelewat mewah.

Valent yang kehilangan ayah sejak kecil selalu merindukan sosok lelaki dewasa. Ia tahu sejak kecil ia selalu tertarik pada lelaki lain tetapi ia selalu menolak kehadiran perasaan itu. Tawaran ibunya untuk menikahinya dengan wanita pilihan ibunya ia terima dengan harapan ia bisa hidup normal seperti lelaki lain.

Tapi keberadaan Rafky di sisinya selama libutran di Thailand itu telah menjebol pertahanannya. Hingga satu hari mereka saling jatuh cinta.

Tapi dari halaman pertama hingga habis, adegan-adegan kemesraan dan percumbuan ternyata dilukiskan Andrei dengan bahasa yang halus dan indah. Bukan bahasa vulgar yang murahan, sehingga tidak ada kesan jijik pada setiap adegan yang disuguhkan.

Tidak hanya sekedar prosa, dalam novel ini, Andrei juga menyelipkan puisi-puisi yang merupakan lompatan-lompatan dari alam pikiran atau perasaan tokoh-tokohnya.

Lelaki terindah tidak hanya menceritakan perasaan-perasaan Rafky dan Valent yang notabene di sebut gay oleh masyarakat, tetapi juga perasaan-perasaan kecewa orang-orang yang berada di sekeliling mereka.

Membaca novel ini kita akan ditujukan pada sebuah kesadaran bahwa percintaan itu bersifat universal. Walau ada semacam kutipan 'Ketika cinta tak memilih jenis kelamin, Cinta pun menjadi terlarang'.

Aku mencintaimu, karena aku mencintaimu.
Tak perlu alasan lain...


Pertama kali gw putuskan buat beli buku ini... ehm... jujur aja, dari sampulnya dong... Heuheuheuhehehehe...
Pas gw baca, loh ternyata gay toh. Entah kenapa gw gak merasa jijik sama sekali, seperti yang sudah diresensikan dari Gramed sendiri. Gw gak JIJIK sama sekali, gw malah merasa sedih karena Rafky dan Valent gak bisa bersatu.
Semuanya dituturkan dalam bahasa yang indah, gw susah menjelaskannya, tapi menurut gw novel ini oke banget... Gw suka banget.
Bagaimana mungkin seseorang bisa menggambarkan percintaan sesama jenis [terutama antar laki-laki] menjadi begitu indah dan wajar saat dibaca?
Gw bahkan merasa kesal dengan ibunda Valent yang keras kepala, yang pada akhirnya malah membawa putra kesayangannya itu pada kematian, akibat kekeras kepalaannya.
Gw benci dengan sang ibu yang begitu protektif dan gak sensitif, dia menyayangi putranya berlebihan tapi justru beliau sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan putranya?
Sampe berteriak gw bilang; nyesel lo sekarang anak lo mati?! Goblok banget sih...
Tapi ya... itulah kehidupan, gak semudah itu orang menerima kehadiran para kaum gay. Apalagi jika itu putranya sendiri. Bahkan kalo gw ada temen yang agak 'nyerempet' dikit aja gw masih jenggah kok... apalagi kalo ampe anggota keluarga sendiri ya kannn.... Jadilah faktor pemikiran ini yang membuat gw maklum dengan kekeras kepalaan ibunda Valent.
Tapi ibu Rafky... dia benar-benar orang yang sabar...

Gezzz... gw gak nyangka bakal nulis resensi novel ini di sini. Tapi ternyata ketulis juga, gw saranin baca deh... mau pake perasaan juga boleh... Gw baca ampe tiga kali dan gak jijik-jijik juga tuh... Pantas buat dibeli, kalo malu... ya pinjem juga gak apa...

OMG! I just know...


Tryst
-A Queer Love Story-

Mari kita membahas novel ini, ceritanya novel ini mendapat dua resensi dari dua orang yang cukup terkenal atau mungkin dikenal.

Rheam Juanianti, penulis novel 'Love in Prague' dan 'Celah Waktu';
"Jatuh cinta bisa dialami siapa saja. Setiap cerita yang dikemas menarik di novel ini bisa membuat kita penasaran dan senyum-senyum sendiri."

Imam Wibowo, Announcer dan Asst. Prog. Director 94.7 U-FM;
" Ati2 kalo bacanya pake perasaan. Even yang namanya cinta itu belum tentu indah & belum tentu yang kita bayangin."

Oke.... Start to the point.

Udah banyak novel yang menyangkut gay atau lesbian yang gw baca, pertama gw baca buku ini karena gw tertarik sama sub-judulnya yang berisikan; 'A Queer Love Story'. Kalimat pertama yang ada di kepala gw adalah; Wow! Mirip kayak Queer As Folk [serial TV mengenai dunia gay yang diproduksi oleh Showtime di Amerika]. Gw beli deh...
Halaman satu... astaga ini novel tulisannya kecil-kecil banget! Gak nyaman bacanya....
Halaman satu, mulai di tengah halaman... astaga... ini novel di edit gak ya??? Perasaan editor gw itu orangnya perfeksionis abis, bisa mati gw kalo berani nyodorin naskah kayak gini, jangankan naek cetak, dilirikpun tidak.
Halaman dua... oh... oke, setting luar negeri, dalam cerita mengenai Dracula. Gw masih berusaha membaca. Tapi lama kelamaan novel ini ngebuat gw pengen mencaci, secara gitu... gw tau banget gimana rasanya digembleng sama editor yang ternyata menjadikan naskah cerita gw jadi oke.
Halaman tiga.... arggghhhhh!!! God no!!! Bukan gw bermaksud untuk menjelekkan sang penulis, ada beberapa poin penulisan yang menurut gw oke... tapi tolong dong, kalo mau bikin cerita mengenai gay jangan dirusak. Buat seindah mungkin, yang menyentuh, jadi semua orang bisa baca. Karena menurut gw gak semua orang bisa menerima novel seperti ini, kecuali dibahas dan dijelaskan melalui sisi psikologis. Gw juga nulis cerita yang mengarah kesana, tapi gw berpikir gak kepengen buat orang jijik.
Mungkin penulis terlalu terbawa-bawa dengan nuansa Queer As Folk, sehingga bahasa yang dituturkan cenderung kasar dan kurang punya wibawa.
Kalo boleh usul dengan penulis atau para pembaca yang ingin membaca novel ini mending gw saranin buat baca yang lain dulu, misalnya Lelaki Terindah by Andrei Aksana, atau coba baca Maroon-Luka Sang Penulis by Rien [bukan bermaksud bela partner sendiri, tapi boleh dicompare...]
Saran yang lain; jika ingin mengambil pasar pembaca di Indonesia, tolong sesuaikan dengan watak dan adat orang Indonesia. Karena menurut gw... [no offense- kalo mau kritik novel gw juga boleh, kita di sini fair kok] novel ini kurang worth it buat dibaca, mending pinjem kalo emang mau tau or beli aja punya gw nih...

PS: Ini subjektif, karena gw cuma bisa kuat baca sampe beberapa lembar aja, selanjutnya gw udah nerka gimana endingnya dan bagaimana isinya, menurut gw seperti ini. Tapi mungkin ada pendapat yang laen... susah buat gw buat meneruskan baca novel ini, mending gw di suruh pake rok keliling Jakarta daripada baca novel ini.
Satu lagi yang menarik dari novel ini, penulis merekomendasi sebuah novel yang berjudul; A Picture of Dorian Gray [kalo gak salah, gw sempet dua kali baca penulisnya menuliskan resensi novel ini].
Trus, si penulis pastilah pecinta dunia vampir dan dracula [hampir mirip kayak gw], penyuka band Franz Ferdinand .

Pendek kata [bagi pecinta manga] --> Trsyt adalah sebuah Doujinshi dari karya apik Showtime yang berjudul ; Queer As Folk [God! I love you Michael!]

Wednesday, September 24, 2008

Shopaholic I - confession of a shopaholic


Paperback synopsis

Rebecca Bloomwood adalah seorang jurnalis.
Pekerjaannya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan... berbelanja.

Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya.
Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat tagihan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya.
Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil.
Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu... sesuatu untuk dirinya sendiri.

Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya-selamanya



Gue suka banget buku ini. Sampai sekarang, udah terbit sampai seri ke-5
1. confession of a shopaholic
2. shopaholic abroad
3. shopaholic ties the knot
4. shopaholic and the sister
5. shopaholic and the baby

Ini seri chicklit tentang cewek yang bernama Becky Bloomwood, hidupnya sempurna, hanya aja... dia gila belanja.
Dia terjerat utang, dan terbenam dalam lautan overdraft yang dia tidak bisa lunasi, dan dikejar2 bank untuk melunasi pemakaiannya.

Gaya bahasanya ringan, lucu dan bisa bikin gue ngakak. Biarpun ketika udah masuk seri 4 dan 5, menurut gue udah nggak sebagus yang 1,2 dan 3.

Sophie Kinsella juga mengarang karya lepas, seperti can you keep a secret, good one! dan the undomestic goddess, good one too!

Karya terakhirnya, remember me, lagi dalam proses terjemahan ke Bahasa Indonesia.

And the latest news is....

Confession of shopaholic mau diangkat ke film, lagi dalam post production.
Diperankan sama artis Isla Fisher sebagai Becky Bloomwood, dan Hugh Dancy sebagai Luke Brandon.


Friday, September 19, 2008

Comment for my heaven - Ratih


Gue udah baca sekilas sih novel dari Ratih ini.

Kemarin gue dikirimin draft naskahnya via email.


Dan pendapat gue?


Mm, sama dengan pendapat om Han.

Good idea, dengan bahasa yang harus di touch supaya lebih menarik, lebih oke, lebih keren, dan lebih membuat pembaca untuk penasaran, apa yang ada di balik cerita itu!

Mungkin bagian awalnya naskah ini harus diperbaiki, karena kalau dilihat sepintas, jadi seperti kita baca dari tengah buku. Prolognya masih kurang jelas.


Hehehe, bukan maksud apa-apa ya. Soalnya gue sendiri pun lagi dalam taraf belajar, dan belajar. Jadi semua karya gue pandang sebagai pembelajaran. Dan gue suka untuk bisa tahu dan menarik pelajaran tentang apa yang bagus, dan tidak bagus dari sebuah cerita.


Seperti kata Rini, setiap naskah selalu ada jelek dan bagusnya. And that is sooo true!


Tapi selain itu, Ratih ini juga genre nulisnya mirip2 sama gue, roman gitu ya ;-)



Oke deh, good luck ya, semoga sukses selalu!

Thursday, September 18, 2008

MY HEAVEN by Ratih

MY HEAVEN

By: Ratih
Genre : roman dewasa

Cerita diawali dengan kisah Lea, seorang gadis yatim piatu yang terpaksa menggelandang dan harus makan dari mengorek-ngorek sampah setelah ibunya meninggal. Nasibnya berubah ketika ia bertemu dengan Pak Yon, penjaga perpustakaan sekolah yang dulu pernah menampungnya bersama sang ibu.
Setelah sempat hidup bersama selama beberapa waktu, akhirnya untuk menghindari gunjingan para tetangga, mereka pun menikah walau beda usia mereka cukup jauh. Lea hidup bahagia.
Namun itu tak berlangsung lama, Pak Yon meninggal karena sakit.
Sebelum meninggal, ia memberikan sebuah surat kepada Lea untuk diserahkan kepada seseorang. Cerita pun berlanjut, Lea ditampung oleh dokter muda bernama Alan Tedjasukmana yang menerima surat permintaan dari Pak Yon tersebut. Dia adalah murid SMU yang dulu jadi teman baik Pak Yon sewaktu sekolah di SMU tempat Pak Yon bekerja.
Semula pembaca dibawa pada kemungkinan dimana dokter Alan akan menyunting Lea sebagai pendampingnya mengingat ia masih muda dan belum menikah. Namun kemudian muncul adik sang dokter yang tinggal di belakang rumah mereka. Sifat Lee, adik sang dokter, sangat bertolak belakang dengan kakaknya yang santun dan welas asih.
Kehidupannya sebagai pemain bola papan atas sangat glamour, dipenuhi selera hedonisme yang mengumbar kesenangan duniawi. Awalnya Lea tak suka dan bahkan takut pada Lee yang sering bersikap kasar dan semaunya, namun suatu waktu ia diminta Alan untuk merawat Lee yang sakit karena dia harus pergi ke luar kota.
Sikap Lea yang penyabar dan nerimo membuat Lee mulai menyukainya, dan bahkan tak mau Lea berada jauh darinya.
Setelah melalui lika-liku yang panjang, akhirnya mereka pun bersatu. Sayang nasib berkata lain, karena ternyata Lea menderita penyakit kanker.

Menurut saya ceritanya lumayan. Seperti umumnya novel roman, isi cerita dipenuhi dengan adegan percintaan yang mengharu-biru para pembaca. Gaya bercerita dan isi novel ini mengingatkan saya pada novel-novel karya Maria Sardjono, Agnes Jessica dan Sandra Brown.
Rumusannya adalah: tokoh utama pria dan wanita pada awalnya bermusuhan, saling benci; namun akhirnya menjadi bener-bener cinta. Faktor serba kebetulan juga menjadi ciri roman ini seperti halnya tayangan sinetron di televisi.
Meskipun demikian, untuk genre roman dewasa cerita ini cukup menarik—terutama penggambaran emosi para tokohnya yang mengharu-biru. Namun menjadi tugas berat bagi sang editor untuk memperbaiki tata bahasa dan cara penyusunan bab dari mulai pembukaan, bagian tengah dan ending, agar lebih menarik.

Note: Naskah cerita ini sudah dikirimkan ke Penerbit Lintas dan sedang dalam proses seleksi. Mudah-mudahan Pak Herman berkenan untuk menerbitkannya, sebab menurut saya cukup bagus dan layak diterbitkan meskipun perlu banyak editing agar lebih menarik dan nyaman dibaca.

Jejak

Ralat!!!
Sinopsis JEJAK yang kemaren, kayaknya terlalu fullgar… Hehe… Judul dwilogi keduanya JEJAK, mba rina… Aku jadi pengen kasih bocorannya juga ^_^ (Is that okay, Thee?)… Kemungkinan baru selesai akhir tahun depan atau awal tahun 2010… Tapi aku berharap mudah-mudahan bisa cepet rampung… (Amin)



Langkahnya sudah sampai di Place Vendóme. Namun jejak dari sepasang kaki gemulai itu, tidak berhenti sampai di situ. Dia melangkah ke arah timur menuju Rue des Petits Champs, terus ke Rue Richelieu, melewati Palais Royal. Hingga sampai ke bangunan dalam list ‘Keajaiban Paris’. Museum Louvre.



Namun dia tidak ingin mengunjungi museum itu. Dia hanya ingin menenangkan dirinya di taman Paris yang sangat terkenal Jardin des Tuileries, tak jauh dari situ. Langkahnya terus berderap melewati gerbang Arc de Triomphe. Melewati barisan pohon-pohon hingga tiba di bangku-bangku yang mengelilingi sebuah kolam berbentuk bulat besar.




JEJAK


Novel kedua dari rangkaian dwilogi thriller fiction Thee dan Rien.

Di hadapan Olivia saat ini adalah seorang gadis yang terbaring tak berdaya di atas ranjang salah satu rumah sakit di kota Paris. Gadis itu adalah Louise Paul Dubois, anak semata wayang Jean Paul Dubois, anak dari mantan pimpinannya yang dibunuhnya dengan tangannya sendiri.Menurut dokter yang merawatnya, Louise sudah melewati masa kritis, bahkan gadis itu sudah beberapa kali menunjukkan respon positif ke arah kesadaran. Olivia semakin mendekatkan jaraknya ke hadapan Louise, menatap wajah gadis itu dari dekat, sesaat dia merasa sedikit sesak merasuki dadanya secara tiba-tiba ketika raut wajah Louise terlihat semakin jelas di matanya.


JEJAK, merupakan kelanjutan dari novel pertama SILUET. Mengisahkan tentang seorang pembunuh berdarah dingin serta seorang dokter gila yang sangat ambisius dan terobsesi untuk menciptakan manusia.

Masih sangat pagi sekali tapi orang-orang sudah berkerumun di sekitar Ye Oldee Inne, ingin mencari tahu atas apa yang terjadi semalam. Keributan apa yang sudah menyebabkan banyak orang luka parah di penginapan desa itu, bahkan polisi menemukan sepuluh mayat remaja dalam kondisi yang berlainan.

Satu mati di depan pintu penginapan dengan tengkorak kepala yang berlubang dan darah mengenang di sekitar tubuhnya, satu ditemukan di dapur dalam kondisi leher terpotong dengan pisau yang hanya terdapat sidik jari korban dan kepala matang di atas kompor yang terus menyala sampai polisi datang.

Dua ditemukan tergantung di halaman belakang dalam kondisi leher berubah arah 180° ke belakang, mata mereka sudah dicongkel dengan kunci penginapan yang tergeletak jauh di bawah kaki mereka, lagi-lagi tidak ditemukan sidik jari.

Tiga ditemukan mati di ruangan bawah tanah dalam keadaan tubuh tercabik oleh sabit, ruang bawah tanah menjadi tempat pembantaian manusia, digenangi oleh darah kental. Bahkan polisi-polisi lokal itu sama sekali tidak bisa menahan rasa mual mereka dan langsung muntah di tempat begitu melihat kondisi korban.

Satu ditemukan mati di halaman belakang penginapan, cukup jauh dari penginapan tampaknya pemuda kecil ini sedang berusaha untuk melarikan diri. Dia membawa sebuah pemukul baseball yang tampaknya malah menjadi senjata pembunuhnya sendiri, kepalanya sudah hancur tidak berbentuk dengan tulang rusuk yang remuk. Satu-satunya yang bisa membuatnya dikenali adalah; tongkat pemukul baseball­-nya. Yang lagi-lagi tidak ditemukan sedikitpun sidik jari kecuali milik korban.

Dua lagi ditemukan mati mengapung di danau yang berjarak 200 meter dari penginapan, tampaknya mereka sudah jauh berlari ketika teman mereka ini habis dihajar dengan tongkat pemukul baseball. Sayang langkah kaki mereka kurang panjang untuk melarikan diri dan terpaksa harus menerima puntiran yang menyebabkan leher mereka patah lalu di lemparkan ke danau.

Dari pembunuhan yang terakhir, seorang detektif lokal membuat suatu kesimpulan kalau si pembunuh melakukannya dengan sengaja. Pembunuhan yang pertama dilakukan di depan pintu masuk penginapan adalah suatu percobaan, korban di tusuk dengan obeng yang juga hanya terdapat sidik jari korban, obeng yang ditemukan tergeletak jauh sekitar satu meter dari tubuh korban.

Pembunuhan yang kedua dilakukan secara hati-hati, perlahan-lahan agar si korban merasakan sakitnya. Kemungkinan saat itu pembunuhnya merasa kesal dengan perbuatan korban.

Pembunuhan yang ketiga dilakukan setelah si pembunuh berhasil menangkap kedua korbannya, memelintir leher keduanya, mencongkel kedua matanya dan kemudian menggantungnya di pohon belakang penginapan.

**

Sementara itu, di waktu yang sama dan masih di negara bagian New York, Amerika Serikat. Berpuluh mil dari Coney Island, tepatnya di kawasan Urban di daerah South Sea Port. Sebuah kawasan kumuh di jantung kota New York. Terdapat sebuah tempat yang tidak sama kondisinya dengan tempat tinggal di daerah ini.
Begitupun dengan letaknya. Tidak seperti rumah-rumah penduduk yang berdiri di atas permukaan tanah, tempat berisi peralatan yang tidak kalah canggihnya dengan peralatan yang dimiliki markas CIA ini berada di bawah tanah. Tepatnya di bawah tanah rumah kedua dari bagian kiri jalan di kawasan Urban Renewal of South Seaport ini.
Hanya ada satu orang yang menghuni tempat ini. Seorang pria berbadan bulat pendek, dengan wajah bundar berpigmen putih kemerahan dan menyukai saripati anggur bebas gula yang buahnya ditanam di tepi sungai Mosel.
Lelaki itu sedang berkutat dengan bahan-bahan laboratoriumnya. Meracik campuran cairan-cairan dengan berbagai warna hingga membentuk sebuah kompilasi dari kelima cairan yang dicampurkannya itu. Menginjeksikan cairan tersebut ke dalam sebuah tabung besar yang berada di tengah ruangan dari laboratorium yang tidak seberapa besar ini.
Tabung itu berisi air dan di dalamnya terdapat sesosok tubuh manusia. Wujud manusia itu berupa seorang perempuan cantik dengan wajah aristokrat eksotik bagaikan wajah perempuan keturunan darah Eropa dan Asia. LCD kecil berisi huruf-huruf digital di bagian kanan dinding tabung tersebut bertuliskan nama seseorang yang berada di dalam tabung ini.


Randy Sebastian, adalah seorang mahasiswa berkewarganegaraan Indonesia yang mendapat beasiswa dari kedutaan besar Perancis untuk mengambil master jurusan Hukum di Paris. Randy Sebastian adalah seorang pecinta buku, terutama buku-buku thriller dan detektif. Dia mendapat inspirasi untuk memecahkan kasus Yuri Silvia, setelah bertemu tanpa sengaja dengan seorang wanita di bandara Charles de Gaulle. Perasaan dan instingnya selalu menghantuinya akan wajah sang gadis yang sangat mirip dengan sketsa Yuri Silvia di halaman terakhir buku hariannya. Sketsa 'Manusia Siluet’

Secepat kilat Randy menuju stasiun metro, kembali ke flatnya di Right Bank. Sepanjang lorong stasiun metro dia menemukan berbagai macam pemusik jalanan memamerkan bakatnya. Randy berhenti sebentar di salah satu kelompok pemusik berstyle ala Renaissance, mematung di depan lima orang pemusik maskulin yang sedang memainkan lagu orchestra kesukaannya. Mereka memainkan salah satu lagu orchestra yang pernah dipopulerkan oleh komposer Paul Mariat, komposer Perancis favorit Randy. Lagu itu berjudul Love is Blue, melodinya begitu menyayat hati siapapun orang yang sedang mendengarnya.

Sesekali Randy menyenandungkan lirik lagu itu, “Blue blue my world is blue, blue is my world now I’m without you. Gray, gray my life is gray, cold is my heart since you went away...”

“Doux, doux, l'amour est doux. Douce, est ma vie, ma vie dans tes bras. Doux, doux, l'amour est doux. Douce est ma vie, ma vie pres de toi”

Randy menoleh ke belakangnya, suara berat itu tiba-tiba datang kala ia sedang asyik menyanyikan lagu ‘Love is Blue’ yang sedang dimainkan secara instrumental oleh band di depannya ini.

Seorang pria tinggi berjaket kulit dan bersyal tebal, memakai topi wol untuk menutupi kepalanya, serta mengenakan kacamata hitam. Dia tidak tahu bahwa suaranya menarik perhatian Randy, suara bariton yang tiba-tiba datang dan begitu fasih menyanyikan ‘Love is Blue’ dalam bahasa Perancis. Walaupun Randy tidak melihat warna rambut dari pria tinggi itu, namun dia bisa memperkirakan bahwa pria ini adalah pria asia. Dia bisa melihat dari kulit wajahnya yang sawo matang, khas orang asia tenggara yang tinggal di daerah bercuaca tropis.

“Great job” Randy berkata pada pria itu, ada suatu hal yang menarik dirinya untuk mengenal pria itu. Walaupun Randy tidak tahu hal apa itu.

Pria itu memandang Randy, kemudian membuka kacamata hitamnya.
I’m right. You’re an asian” kata Randy, menyunggingkan senyumnya.
Senyum pria itu semakin lebar padanya, kemudian tanpa diduga Randy, pria itu menyodorkan tangannya, “Aldi” ujarnya, kala Randy menyambut tangannya.
“Aldi? Seems you’re an indonesian man?” tanya Randy.
“Yes, I’m an indonesian” sahutnya, lebih keras. Kini senyumnya bertambah lebar.
“Saya juga” sahut Randy, dia tertawa.
“Wow. Kebetulan sekali” sahut Aldi. “Kuliah?”
Randy mengangguk, “Kamu juga?” tanyanya pada Aldi.
Aldi menggeleng, wajahnya masih tersenyum, “Work”
“Dimana?”
“Cafe. Nggak jauh dari sini, Rue Montessuy” kata Aldi.

**

Satu, dua,.....
“Yak!!” teriak Olivia.
Tali yang dilemparkannya sudah terkait di dalam helikopter.
Olivia memegang tali itu sekuat tenaga, mengambil senapan Kalibernya. Menaiki tali itu, meninggalkan mobilnya yang masih berjalan dalam kecepatan tinggi.

Mobil Olivia kehilangan kendali. Jalannya semakin miring tanpa ada kontrol dibalik kemudi. Tak dapat dihindari mobil itu menabrak dinding pembatas Seine. Melayang di atas sungai itu. Bergerak pelan, seolah hendak menggapai jembatan pejalan kaki Pont des Arts yang berada di tengah-tengah sungai itu. Pada akhirnya, mobil naas itu jatuh tenggelam ke dalam Seine. Menuju dasar sungai berwarna biru cerah itu.

SUV Silver yang dikemudikan Helmut menyusul Olivia. Ketiga orang di dalamnya turun dari mobil itu dan membantu Olivia untuk naik ke dalam helikopter. GZ-1 yang cerdas, menembak sang pilot dengan senjata berisi peluru bius.

Peluru itu mengenai dada sang pilot. Helikopter semakin tak terkendali karena pilotnya sudah jatuh. Olivia bergegas naik untuk cepat sampai di dalamnya. Jika tidak, pesawat itu akan jatuh.

Lima menit setelahnya, Olivia, Isabel, Helmut, GZ-1, dan Louise yang masih tidak sadarkan diri sudah berada di dalam helikopter. Olivia menerbangkannya menuju Rusia. Menuju Moskow.

Bawah tanah Arbat Street.

Tempat markas kloning itu berada.


(Still ON-GOING)

Wednesday, September 17, 2008

A simple notes



Rini, congratssssss berat buat novel 'Maroon'nya yang udah terbit. Semoga laris manis, ya ;-)

Duh, padahal kalau kamu mau posting Maroon disini, oke banget pasti. Secara bukunya udah terbit di toko buku, dan secara dari segi cover, editing, semua udah final.


Thanks juga lho, aku dikasih sinopsis novel siluet kamu dan Tyas, semoga cepet jadi buku ya. Judul, sinopsis, dan rangkaian sekilas cerita sih oke berat =)


Judul keduanya lagi dalam tahap penggarapan ya?


Siluet

Notes : Mba rina, resensi ini especially dedicated for you... Kalo novelku berdua Thee aku mau deh masukin di sini. Tapi novelku sendiri, sepertinya cukup aku sampaikan kepada khalayak melalui blog pribadiku. Hehehehe... Idealis banget ya... Ntar masukin cuplikan 'Postcard from Neverland' juga ya... Sama pak Han, masukin cuplikan 'Choice' juga ya pak ^_^ bagian-bagian yang menarik aja...




Dwilogi pertama dari rangkaian thriller fiction Thee & Rien.

Mengisahkan tentang pergulatan sengit antara Indonesian Ripper Frea Alvionita dengan seorang detektif jenius Yuri Silvia.

Dulu kau bagaikan singa yang berhadapan dengan gajah di kala surya mulai tersenyum.

Dulu aku adalah gajah, dan kau adalah singanya.

Tapi kini, aku adalah Siluet.

Dan kau adalah titik cahaya yang memudar.

Titik cahaya yang memudar itu, akan menghilang.

Dalam genggaman Siluet..

We Real Cool, but we die soon. Me, or you...

Frea adalah sosok manusia yang sering terlupa akan masa kecilnya. Kelainan jiwanya, adalah benci melihat orang yang bernyawa. Kesenangannya membunuh, karena dia haus darah. Profesinya sebagai dokter bedah, menjadi suatu bentuk penyalurannya untuk dapat memuaskan nafsu membunuh seperti memotong ataupun menguliti tubuh manusia.

Di tengah kepanikan itu, tidak seorang pun menyadari binar yang memancar dari mata Frea. Mata itu membelalak penuh kesenangan, senyuman jahat menghiasi wajahnya. Menodai wajah cantiknya.Frea menghentikan darah yang terus mengalir, menjepit nadinya tanpa melukai jaringan syaraf korban.Dengan tenang, cepat, dan pasti, tangan Frea bergerak lincah di atas tubuh korban.

Menyelesaikan semuanya.Menjahit.Menjepit.Memotong.Bagian tulang yang retak dan menembus kulit, dipasang plat agar kembali lagi pada posisinya semula. Semua itu dilakukannya dengan cepat, dan tepat sasaran. Frea mendesah kecewa saat segalanya berakhir.

Ray, adalah sahabat Frea Alvionita. Seorang transeksual yang diam-diam juga menaruh hati pada Frea. Namun, Frea tidak dapat mencintai Ray. Dia hidup tanpa cinta, dan hanya ingin mencintai dirinya sendiri. Meskipun orang-orang di sekelilingnya begitu mencintai dan mengagumi kecantikan serta kepintaran Frea. Kesenangannya hanya lumuran darah yang berada di tangannya atau struktur organ tubuh manusia dengan matanya yang telanjang. Kesenangannya hanya membunuh.

Penyakit itu;Tidak tertarik pada laki-laki.Tidak tertarik pada wanita.Tidak tertarik pada uang.Hanya tertarik pada struktur tubuh manusia. Salah satu alasan dia memilih menggeluti profesi dokter bedah tersebut.


**

Kling… bunyi es batu yang menyentuh dasar gelas terdengar nyaring dan jernih. Frea meraih botol vodka yang isinya tinggal separuh, menuangnya ke dalam gelas berisi es. Aliran dari minuman beralkohol itu menimbulkan bunyi gemeretak dan denting pada dinding gelas yang terantuk es akibat massa yang menimpanya.

Augusta Frea Alvionita....

Jangan pernah lupakan nama itu.Sebut saja satu kali, maka dia akan menghampirimu dengan naluri-nya yang buas.Sebut dua kali, dia akan menari di atas tubuhmu dengan gairah yang meledak-ledak.Sebut yang ketiga kali, tariannya akan berubah menjadi jeritan milikmu.Senyumnya tidak lagi indah...

Wajahnya tidak lagi mempesona...

Hanya tersirat sinar intelegensia jahat di matanya yang jernih...


Tujuh mayat remaja tergantung di hadapannya.
Pertama kali yang dia lihat, pemandangan yang berada di depannya itu bagaikan sebuah bingkai berdarah. Bagai terlukis dengan sempurna.
Ketujuh tubuh itu terkulai kaku di dinding, terlukis sempurna dengan darah yang melumuri masing-masing tubuhnya.
Tubuh seorang pemuda tertancap pada batang beton di tengah dinding gedung yang tidak jadi itu, lehernya tersayat dalam dan berlubang. Seseorang tampak melukai bagian tenggorokannya lebih dahulu sebelum akhirnya mengukir tubuh kurus telanjang itu dengan ukiran yang sama yang selalu dia lihat pada korban-korban sebelumnya.
Dua tubuh lagi, tergantung sempurna pada kawat-kawat yang digantungkan dari dua pilar yang berada di kanan dan di kiri, serta terikat kuat pada batang beton yang tersembul dari tubuh temannya yang tergantung sempurna di dinding. Semuanya dalam keadaan yang membingungkan, karena beberapa anggota tubuh ketiganya telah bertukar tempat dan dijahit rapi.
Tampak bagian tangan, pergelangan kaki dan kepala sudah berpindah tempat, sudah tidak pada tubuh orang yang sebenarnya. Jahitannya tidak asal, itu berarti pembunuhnya memang sudah mahir dengan kontruksi tubuh manusia.
Darah mengenang di lantai, memberi saksi bahwa sudah terjadi pembantaian besar-besaran di sana. Ketiganya tergantung sempurna dengan kawat-kawat yang mengelilingi tubuh mereka yang telanjang. Kawat-kawat itu dibuat mengelilingi tubuh si pemuda yang tampak disalib di tengah dinding dengan batang beton menembus tubuhnya.
Sementara yang dua lagi, dengan leher terkoyak hampir putus karena sabetan benda tajam, tubuh mereka juga tertancap sempurna di batang beton di atas tiang pilar yang patah, di kanan dan kiri dinding.
Darah keduanya yang mengaliri pilar, tampak memberi kesan bahwa itulah titik akhirnya. Sentuhan terakhir itu adalah frame dari lukisan manusia hidup yang sudah dikerjakannya.

Cintanya sama dengan kematian...

Frea tidak pernah mencintai laki-laki, tidak juga wanita.

Frea tidak bisa mencintai manusia hidup.

Nalurinya untuk bertahan hidup adalah darah yang mengalir di nadi setiap manusia yang bersentuhan dengan dirinya.Frea bisa merasakan darah mereka mengalir di bawah kulit yang disentuhnya.Seperti itulah cara Frea mencintai mereka.Menyentuh mereka....

Mencumbu mereka...

Membiarkan mereka mencintai tubuhnya yang indah...

Dan kemudian, Frea akan mencintai mereka sampai mati.....

Anggur merah adalah cintanya...

Frea selalu meninggalkan simbol berupa bentuk huruf F terbalik pada setiap korbannya. Salah satu petunjuk yang digunakan Yuri Silvia bersama dengan asistennya Mahesa untuk menangkap Frea. Simbol yang sekaligus menjadi pelecehan Frea terhadap Yuri dan polisi-polisi yang mencarinya. Frea begitu percaya diri dengan kekuatan dan kepintaran taktik serta ilmu science yang dimilikinya sejak kecil.


Yuri menemukan sebuah simbol di bahu sebelah kanannya. Layaknya sebuah tato. Namun Yuri yakin, bahwa tato itu bukan keinginan wanita berumur dua puluh lima tahun ini, seorang waitress di karaoke BINTANG FIESTA, yang saat ini sudah terbujur kaku. Tanpa nyawa.Tato itu keinginan sang pembunuh.Tato berbentuk;Huruf F terbalik Diukir dengan silet, seperti dugaan Yuri. Silet itu begitu tajam. Karena luka akibat tato tersebut begitu dalam.Namun Yuri Silvia sang detektif tak kalah jenius dengan Frea Alvionita. Dia mampu membentuk sebuah analisa dan taktiknya sendiri untuk menangkap Frea. Terlebih, sang Indonesian Ripper tersebut, sempat melakukan kesalahan di beberapa pembunuhannya. Frea meninggalkan jejak yang amat mendukung analisa Yuri Silvia dalam mengetahui keberadaan Indonesian Ripper tersebut.Yuri menelusuri sisi bawah ranjang. Membuka peralatan investigasinya. Lampu dengan laser hijau serta alat-alat penjelas sidik jari. Menelusuri setiap senti kulit kayu ranjang itu dengan kelihaian teknik dan analisanya. Tanpa henti, dia bertekad untuk menemukan barang bukti yang lain saat ini. Karena dia bertekad untuk mengakhiri aktivitas Siluet dan menuntaskan semua kasus pembunuhan ini. Yuri ingin keempat korban pembunuhan dari Siluet itu dapat tidur dengan tenang.Seketika tangannya terhenti. Tak lagi bergerak. Matanya menyipit, menyelami salah satu space dari pori-pori kayu ranjang tersebut. Noda.Darah lain. Bukan darah yang sama seperti yang terdapat di ranjang. Bukan darah milik Roni.


**

“Sudah kubilang sejak awal…” Frea meraih gelas berkaki dan mengisinya dengan anggur merah Pinot Noir 1987, menyesapnya dengan nikmat.
“Aku… tidak akan pernah tertangkap.”

**


Yuri terkekeh, dan memutar telunjuknya di depan hidung Mahesa sambil berkata perlahan, “Tugas kita berdua... Inget”
Kini Mahesa yang melenguh bosan, “Kenapa sih kita selalu dibikin kayak Murder & Scully!” serunya kesal.


------We Real Cool
Gwendolyn Brooks


we Real Cool. we Left School. we Lurk Late. we Strike Straight.
we Sing Sin. we Thin Gin. we Jazz June. we Die Soon.


“Baca apa sih lo? Serius amat” tanya Mahesa.
Yuri menolehkan kembali wajahnya ke layar komputer.
“Gue baru nemu ini dari webs encyclopedy. Puisinya Gwendolyn Elizabeth Brooks” jawab Yuri. Tak melepaskan pandangannya dari beberapa deret kalimat di atas file website tersebut.
“Caelah!” ejek Mahesa. “Sejak kapan lo rajin buka encyclopedy?!”
Yuri melotot kepada Mahesa. “Bukan urusan lo! Liat nih! Baca!”
Mahesa mengikuti keinginan Yuri. Dia membaca kalimat-kalimat puisi berjudul We Real Cool tersebut.
“So? What?” tanyanya kemudian.
“Gue membayangkan, puisi ini menggambarkan antara gue dengan si Siluet”
Mahesa melongo. “Ngawur! Imajinasi lo terlalu berlebihan!”
“Strike straight. Lurk late. Lo liat dong artinya di sini!”
“Iya, itu lo artiin sendiri kan...Kali aja artinya bukan itu! Ya.. semacam kiasan yang hanya dimengerti interpreter”



Sebuah konspirasi, mewarnai novel ini. Akan terlihat hubungannya sedikit demi sedikit dalam alur cerita. Konspirasi dari sebuah sindikat terlarang kloning kelas dunia bernama Treize Lune.

Siapa sangka di kawasan pedestrian tertua Rusia ini terdapat sebuah markas sindikat rahasia pencetus program kloning manusia. Arbat Street, tempat favorit yang banyak dikunjungi masyarakat Rusia. Seperti Monas atau GOR Senayan di Jakarta. Tidak seorang pun yang tahu bahwa markas besar perencanaan kloning tingkat dunia bersemayam di bawah tempat pijakan kaki-kaki mereka.Sindikat ini mengontrol gerak produksi perdananya yang berkode TЛ-1, mengontrolnya, agar sindikat ini dapat memproduksi hasil kloning manusia yang lain untuk menguasai dunia.

Treize Lune merekrut personilnya, dari beberapa negara di dunia. Beranggotakan ilmuwan-ilmuwan jenius yang dipimpin oleh Jean Paul.

Jean Paul mendesah, ini adalah bagian yang paling tidak disukainya. Dia menekan tubuhnya ke depan, kemudian meluncur ke bawah, menuju ke dalam markas. Udara oksigen murni, berganti menjadi dinginnya Air Conditioner dan oksigen yang ditransfer dari dalam tabung. Perubahan suhu ini, selalu membuatnya menggigil setiap kali dia mendatangi markasnya. Gigil ini juga selalu dia rasakan, apabila adrenalinnya memacu karena semangatnya kembali bangkit untuk bertemu dengan produk kloningnya yang sudah lama dia rindukan.

Akhir kisah, belum mampu menentukan apapun, hanya sekali lagi... pembunuhan.

JEJAK terakhir belum tereka, karena perjalanan SILUET masih sangat panjang.

“Oui, s’il vous plait. Qu’est-ce que je vous mademoiselle?” Sesaat Yuri melongo memandang wajah sang pelayan. Terkejut hingga dia tak sanggup berkata apa-apa.

Wajah itu. Wajah yang pernah begitu dalam mengguncang batinnya. Wajah yang mengubah prinsip hidupnya sedemikian besar, memutar langkahnya, hingga mempengaruhinya untuk melarikan diri dari dunianya yang lampau, sampai pada keputusan finalnya untuk menjejakkan kaki di Paris.



COMING SOON! JUST WAIT AND SEE
A NEW NOVEL
BY

THEE & RIEN

Siluet



Notes : mba rina... ini sinopsis SILUET by aku dan Thee dedicated especially for you... ^_^ Kalau novelku sama Thee aku berani masukin. Tapi kalau novelku sendiri,, biarlah aku sampaikan ke khalayak melalui blog pribadiku... Hehehe... Happy reading ya... Buat semua juga... Misi, misi, numpang promosi ^_^




Monday, September 15, 2008

Laskar Pelangi

Notes : Sebelumnya mohon maaf, karena halaman ini sangat panjang, tapi resensi ini sangat menarik dan sangat inspirasional. Nggak akan wasting time deh baca ini, jamin…

Mumpung sekarang lagi demam novel Laskar Pelangi dan sebentar lagi filmnya tayang di bioskop, nggak ada salahnya kan untuk mencoba memberi komentar secara panjang lebar mengenai novel ini?

Oke, menelusuri tulisan yang sudah gue cantumkan di ‘coretan-alfabet’, kesemuanya adalah resensi mengenai novel luar negeri. Jadi ini saatnya untuk gue mencoba menilai novel-novel dalam negeri, novel dalam negeri berkualitas yang tentunya mendapat penilaian bagus di masyarakat.





Laskar Pelangi adalah salah satu novel inspirational yang sedang BOOMing banget di kalangan masyarakat saat ini. Walaupun kalau menurut gue, diantara tetralogi kisah nyata yang ditulis oleh Andrea Hirata : Laskar Pelangi-Sang Pemimpi-Edensor-Maryamah Karpov. Gue lebih suka Edensor, kalau Maryamah Karpov belum bisa gue nilai karena belum diterbitkan. Tapi gue ingin memperkenalkan tetralogi yang pertama dulu, karena kebetulan gue dapet e-booknya dan bisa gue copy sebagian ke sini. Terlebih gue berharap mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk mba rina… ya mba… aku coba bantu dengan resensi ini… seperti yang aku bilang kemaren, novel ini bisa jadi inspirasi untuk lebih mengentalkan segi adventure ‘Postcard from Neverland’.

Sekarang gue akan mencoba menjabarkan secara detail dan gamblang beberapa paragraf yang cukup menyentuh karena penggambaran sebuah emosi perasaan dicampurkan dengan setting tempat yang begitu nyata.




Ini kesepuluh anggota Laskar Pelangi :





Ketika Andrea menggambarkan sekolah SD-nya di daerah Belitong yang begitu memprihatinkan :



Jika dilihat dari jauh sekolah kami seolah akan tumpah karena tiang-tiang kayu yang tua sudah tak tegak menahan atap sirap yang berat. Maka sekolah kami sangat mirip gedung kopra. Konstruksi bangunan yang menyalahi prinsip arsitektur ini menyebabkan tak ada daun pintu dan jendela yang bisa dikunci karena sudah tidak simetris dengan rangka kusennya. Tapi buat apa pula dikunci?



Di dalam kelas kami tidak terdapat tempelan poster operasi kali-kalian seperti umumnya terdapat di kelas-kelas sekolah dasar. Kami juga tidak memiliki kalender dan tak ada gambar presiden dan wakilnya, atau gambar seekor burung aneh berekor delapan helai yang selalu menoleh ke kanan itu. Satu-satunya tempelan di sana adalah sebuah poster, persis di lubang besar di dinding papan. Poster itu memperlihatkan gambar seorang pria berjenggot lebat, memakai jubah, dan ia memegang sebuah gitar penuh gaya. Matanya sayu tapi meradang, seperti telah mengalami cobaan hidup yang maha dahsyat. Dan agaknya ia memang telah bertekad bulat melawan segala bentuk kemaksiatan di muka bumi. Di dalam gambar tersebut sang pria melongok ke langit dan banyak sekali uang-uang kertas serta logam berjatuhan menimpa wajahnya. Di bagian bawah poster itu terdapat dua baris kalimat yang tak kupahami. Tapi nanti setelah naik ke kelas dua dan sudah pintar membaca, aku mengerti bunyi kedua kalimat itu adalah: RHOMA IRAMA, HUJAN DUIT.



Maka pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraan tentang sekolah yang atapnya bocor, berdinding papan, berlantai tanah, atau yang kalau malam dipakai untuk menyimpan ternak, semua itu telah dialami oleh sekolah kami.

Ketika Andrea secara detail menggambarkan dirinya (yang dalam novel ini masih duduk di bangku SD), ketika ia begitu jatuh cinta kepada seorang gadis kecil tionghoa, anak penjual toko material yang bernama A Ling :



Acara pembelian kapur adalah rutin dan sama. Setelah menunggu sekian lama sampai hampir pingsan di dalam toko bau itu, A Miauw akan berteriak nyaring memerintahkan seseorang mengambil sekotak kapur. Lalu dari ruang belakang akan terdengar jawaban dari seseorang¾ yang selalu kuduga seorang gadis kecil¾ yang juga berbicara nyaring, lantang, dan cepat seperti kicauan burung murai batu.



Kotak kapur dikeluarkan melalui sebuah lubang kecil persegi empat seperti kandang burung merpati. Yang terlihat hanya sebuah tangan halus, sebelah kanan, yang sangat putih bersih, menjulurkan kotak kapur melalui lubang itu. Wajah pemilik tangan ini adalah misterius, sang burung murai batu tadi tersembunyi di balik dinding papan yang membatasi ruangan tengah toko dengan gudang barang dagangan di belakang. Sang misteri ini tidak pernah bicara sepatah kata pun padaku. Ia menjulurkan kotak kapur dengan tergesa-gesa dan menarik tangannya cepat-cepat seperti orang mengumpankan daging ke kandang macan. Demikianlah berlangsung bertahun-tahun, prosedurnya tetap, itu-itu saja, tak berubah.



Jika tangannya menjulur tak kulihat ada cincin di jari jemarinya yang lentik, halus, panjang-panjang, dan ramping, namun siuk-a, gelang giok indah berwarna hijau tampak berkarakter dan melingkar garang pada pergelangan tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Dalam hatiku, jika aku berani macam-macam pastilah jemarinya secepat patukan bangau menusuk kedua bola mataku dengan gerakan kuntau yang tak terlihat. Mungkin pula gelang giok yang selalu membuatku segan itu diwarisinya dari kakeknya, seorang suhu sakti, yang mendapatkan gelang itu dari pertarungan dahsyat untuk merebut hati neneknya. Ah! Kiranya aku terlalu banyak nontn film shaolin.



Namun, tahukah Anda? Di balik kesan garang itu, di ujung-ujung jari jemari lentik si misterius ini tertanam paras-paras kuku nan indah luar biasa, terawat baik, dan sangat memesona, jauh lebih memesona dibanding gelang giok tadi. Tak pernah kulihat kuku orang Melayu seindah itu, apalagi kuku orang Sawang. Ia tak pernah memakai kuteks. Aliran urat-urat halus berwarna merah tersembunyi samar-samar di dalam kukunya yang saking halus dan putihnya sampai tampak transparan. Ujung-ujung kuku itu dipotong dengan presisi yang mengagumkan dalam bentuk seperti bulan sabit sehingga membentuk harmoni pada kelima jarinya.



Permukaan kulit di seputar kukunya sangat rapi, menandakan perawatan intensif dengan merendamnya lama-lama di dalam bejana yang berisi air hangat dan pucuk-pucuk daun kenanga. Ketika memanjang, kuku-kuku itu bergerak maju ke depan dengan bentuk menunduk dan menguncup, semakin indah seperti batu-batu kecubung dari Martapura, atau lebih tepatnya seperti batu kinyang air muda kebiru-biruan yang tersembunyi di kedalaman dasar Sungai Mirang. Amat berbeda dengan kuku Sahara yang jika memanjang ia akan melebar dan makin lama semakin menganga, persis seperti mata pacul.



Dan yang tercantik dari yang paling cantik adalah kuku jari manisnya. Ia memperlihatkan seni perawatan kuku tingkat tinggi melalui potongan pendek natural dengan tepian kuku berwarna kulit yang klasik. Tak berlebihan jika kukatakan bahwa paras kuku jari manis nona misterius ini laksana batu merah delima yang terindah di antara tumpukan harta karun raja brana yang tak ternilai harganya.



Aku sudah terlalu sering mendapatkan tugas membeli kapur yang menjengkelkan ini, sudah puluhan kali. Satu-satunya penghiburan dari tugas horor ini adalah kesempatan menyaksikan sekilas kuku-kuku itu lalu menertawakan bagaimana kontrasnya kuku-kuku zamrud khatulistiwa tersebut dibanding potongan-potongan kecil terasi busuk di seantero toko bobrok ini. karena terlalu sering aku jadi hafal jadwal si nona misterius memotong kukunya: setiap hari Jumat, lima minggu sekali.

Dan kutipan beberapa paragraf terakhir (mungkin agak panjang) tentang kisah seorang sahabat Andrea bernama Lintang (salah satu anggota Laskar Pelangi) yang begitu pintar, namun harus putus sekolah karena… (baca sendiri dulu deh)



Sejak hari perkenalan dulu aku sudah terkagum-kagum pada Lintang. Anak pengumpul kerang ini pintar sekali. Matanya menyala-nyala memancarkan intelegensi, keingintahuan menguasai dirinya sperti orang kesurupan. Jarinya tak pernah berhenti mengacung tanda ia bisa menjawab. Kalau melipat dia paling cepat, kalu membaca dia paling hebat. Ketika kami masih gagap menjumlahkan nagka-angka genap ia sudah terampil mengalikan angka-angka ganjil. Kami baru saja bisa mencongak, dia sudah pintar membagi angka desimal, menghitung akar dan menemukan pangkat, lalu, tidak hanya menggunakan, tapi juga mampu menjelaskan hubungan keduanya dalam tabel logaritma. Kelemahannya, aku tak yakin apakah hal ini bisa disebut kelemahan, adalah tulisannya yang cakar ayam tak keruan, tentu karena mekanisme motorik jemarinya tak mampu mengejar pikirannya yang berlari sederas kijang.



"13 kali 6 kali 7 tambah 83 kurang 39!" tantang Bu Mus di depan kelas.
Lalu kami tergopoh-gopoh membuka karet yang mengikat segenggam lidi, untuk mengambil tiga bels lidi, mengelompokkannya menjadi enam tumpukan, susah payah menjumlahkan semua tumpukan itu, hasilnya kembali disusun menjadi tujuh kelompok, dihitung satu persatu sebagai total dua tahap perkalian, ditambah lagi 83 lidi lalu diambil 39. Otak terlalu penuh untuk mengorganisasi sinyal-sinyal agar mengambil tindakan praktis mengurangkan dulu 39 dari 83. Menyimpang sedikit dari urutan cara berpikir orang kebanyakan adalah kesalahan fatal yang akan mengacaukan ilmu hitung aljabar. Rata-rata dari kami menghabiskan waktu hampir selama 7 menit. Efektif memang, tapi tidak efisien, repot sekali.



Sementara Lintang, tidak memegang sebatang lidi pun, tidak berpikir dengan cara orang kebanyakan, hanya memejamkan matanya sebentar, tak lebih dari 5 detik ia bersorak.
"590!"
Tak sebiji pun meleset, meruntuhkan semangat kami yang sedang belepotan memegangi potongan lidi, bahkan belum selesai dengan operasi perkalian tahap pertama. Aku jengkel tapi kagum. Waktu itu kami batu masuk hari pertama di kelas dua SD!
"Superb! Anakk pesisir,superb!" puji Bu Mus. Beliau pun tergoda untuk menjangkau menjangkau batas daya pikir Lintang.
"18 kali 14 kali 23 tambah 11 tambah 14 kali 16 kali 7!"
Kami berkecil hati, termangu-mangu menggenggami lidi, lalu kurang dari tujuh detik, tanpa membuat catatan apa pun, tanpa keraguan, tanpa ketergesa-gesaan, bahkan tanpa berkedip, Lintang berkumandang.
"651.952!"
"Purnama! Lintang, bulan purnama di atas Dermaga Olivir, indah sekali! Itulah jawabannmu, ke mana kau bersembunyi selama ini...?"
*
SEKARANG hari Kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga. Aku melamun memandangi tempat duduk di sebelahku yang kosong. Aku sedih melihat dahan filicium tempat ia bertengger jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang.



Kelas tak sama tanpa Lintang. Tanpanya kelas kami hampa kehilangan auranya, tak berdaya. Suasana kelas menjadi sepi. Kami rindu jawaban-jawaban hebatnya, kami rindu kata-kata cerdasnya, kami rindu melihatnya berdebat dengan guru. Kami juga rindu rambut acak-acakannya, sandal jeleknya, dan tas karungnya.



Bu Mus berusaha ke sana sini mencari kabar dan menitipkan pesan pada orang yang mungkin melalui kampung pesisir tempat tinggal Lintang. Aku cemas membayangkan kemungkinan buruk. Tapi biarlah kami tunggu sampai akhir minggu ini.



Senin pagi, kami semua berharap menjumpai Lintang dengan senyum cerianya dan kejutan-kejutan barunya. Tapi ia tak muncul juga. Ketika kami sedang berunding untuk mengunjunginya, seorang pria kurus tak beralas kaki masuk ke kelas kami, menyampaikan surat kepada Bu Mus. Begitu banyak kesedihan kami lalui dengan Bu Mus selama hampir sembilan tahun di SD dan SMP Muhammadiyah tapi baru pertama kali ini aku melihatnya menangis. Air matanya berjatuhan di atas surat itu.



Ibunda guru,Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.Salamku, Lintang.



SEORANG anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah. Ia sekarang harus mengambil alih menanggung nafkah paling tidak empat belas orang, karena ayahnya, pria kurus cemara angin itu kini telah tumbang. Jasadnya dimakamkan bersama harapan besarnya terhadap anak lelaki satu-satunya dan justru kematiannya ikut membunuh cita-cita agung anaknya. Maka mereka berdua, orang-orang hebat dari pesisir ini, hari ini terkubur dalam ironi.



Di bawah filicium kami akan mengucapkan perpisahan. Aku hanya diam. Hatiku kosong. Perpisahan belum dimulai tapi Trapani sudah mulai menangis terisak-isak. Sahara dan Harun duduk bergandengan tangan sambil tersedu-sedu. Samson, Mahar, Kucai, dan Syahdan berulang kali mengambil wudu, sebenarnya dengan tujuan menghapus air mata. A Kiong melamun sendirian tak mau diganggu. Flo, yang baru saja mengenal Lintang dan tak mudah terharu tampak sangat muram. Ia menunduk diam, matanya berkaca-kaca. Baru kali ini aku melihatnya sedih.



Kami melepas seorang sahabat genius asli didikan alam, salah seorang pejuang Laskar Pelangi lapisan tertinggi. Dialah ningrat di antara kami. Dialah yang telah menorehkan prestasi paling istimewa dan pahlawan yang mengangkat derajat perguruan miskin ini. Kuingat semua jejak kecerdasannya sejak pertama kali ia memegang pensil yang salah pada hari pertama sekolah, sembilan tahun yang lalu. Aku ingat semangat persahabatan dan kejernihan buah pikirannya. Dialah Newton-ku, Adam Smith-ku, Andre Ampere-ku.



Lintang adalah mercu suar. Ia bintang petunjuk bagi pelaut samudra. Begitu banyak energi positif, keceriaan, dan daya hidup terpancar dari dirinya. Di dekatnya kami tertimbas cahaya yang masuk ke dalam rongga-rongga otak, memperjelas penglihatan pikiran, memicu keingintahuan, dan membuka jalan menuju pemahaman. Darinya kami belajar tentang kerendahan hati, tekad, dan persahabatan. Ketika ia menekan tombol di atas meja mahoni pada lomba kecerdasan dulu, ia telah menyihir kepercayaan diri kami sampai hari ini, membuat kami berani bermimpi melawan nasib, berani memiliki cita-cita.



Lintang seumpama bintang dalam rasi Cassiopeia yang meledak dini hari ketika menyentuh atmosfer. Ketika orang-orang masih lelap tertidur. Cahaya ledakannya menerangi angkasa raya, memberi terang bagi kecemerlangan pikiran tanpa seorang pun tahu, tanpa ada yang peduli. Bagai meteor pijar ia berkelana sendirian ke planet-planet pengetahuan, lalu kelipnya meredup dalam hitungan mundur dan hari ini ia padam, tepat empat bulan sebelum ia menyelesaikan SMP. Aku merasa amat pedih karena seorang anak supergenius, penduduk asli sebuah pulau terkaya di Indonesia hari ini harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya. Hari ini, seekor tikus kecil mati di lumbung padi yang berlimpah ruah.

Dan dua belas tahun kemudian, ketika Andrea telah berhasil memperjuangkan kehidupannya di Jakarta untuk mendapatkan beasiswa ke Sorbonne, ketika ia pergi dari Belitong selama belasan tahun, meninggalkan semua rekan Laskar Pelangi yang terpaksa pasrah dengan takdir akibat keterbatasan biaya, dan ketika ia kembali lagi ke sana, kembali bertemu Lintang dewasa dengan nasibnya yang begitu memilukan :



Pria yang kemarin menyapaku, yang menyetir tronton itu, salah satu dari puluhan sopir truk yang tinggal di bedeng ini, duduk di atas dipan, dekat tungku, berhadap-hadapan denganku. Ia kotor, miskin, hidup membujang, dan kurang gizi, ia adalah Lintang.



Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melwan nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi. Tapi tubuhnya kurus dan ringkih. Binar mata kepintaran dan senyum manis yang jenaka itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya kering berkilat dimakan minyak. Rambutnya semakin merah awut-awutan. Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecerdasan yang sia-sia terbuang.



Aku masih diam. Dadaku sesak. Bedeng ini berdiri di ats tanah semacam semenanjung, daratan yang menjorok ke laut. Aku mendengar suara … Bum …! Bum …! Bum …! Aku melihat ke luar jendela sebelah kananku. Sebuah tugboat penarik tongkang meluncur pelan di samping bedeng. Suara motor tempel yang nendang menggetarkan tiang-tiang bedeng dan asap hitam mengepul tebal. Gelombang halus yang ditimbulkan tugboat tersebut memecah tepian yang berkilat seperti permukaan kaca berwarna-warni karena digenangi minyak.



Kupandangi terus tugboat yang melaju dan sekejap aku merasa tugboat itu tak bergerak tapi justru aku dan bedeng itu yang meluncur. Lintang yang dari tadi mengamatiku membaca pikiranku.



"Einstein’s simultaneous relativity …," katanya memulai pembicaraan. Ia tersenyum getir. Kerinduannya pada bangku sekolah tentu membuatnya perih.



Aku juga tersenyum. Aku mengerti ia tidak mengalami apa yang secara imajiner baru saja yang aku alami. Dua orang melihat objek yang sama dari dua sudut pandang yang berbeda maka pasti mereka memiliki persepsi yang berbeda. Oleh karena itu, Lintang menyebutnya simultan. Sebuah konteks yang relevan dengan perspektifku melihat hidup kami berdua sekarang.



Tak lama kemudian aku mendengar lagi suara Bum! Bum! Bum! Kali ini sebuah tugboat yang lain meluncur pelan dari arah yang berlawanan dengan arah tugboat yang pertama tadi. Buritan tugboat yang pertama belum habis melewatiku maka aku menoleh ke kiri dan ke kanan membandingkan kedua tugboat yang melewatiku secara berlawanan arah.



Lintang mengobservasi perilakuku. Aku tahu ia kembali membaca isi kepalaku, keahliannya yang selalu membuatku tercengang.
"Pradoks …," kataku.
"Relatif …," kata Lintang tersenyum.
Aku menyebut paradoks karena ukuran yang kuperkirakan sebagai subjek yang diam akan berbeda dengan ukuran orang lain yang ada di tugboat meskipun untuk tugboat yang sama.
"Bukan, bukan paradoks, tapi relatif," sanggah Lintang.
"Ukuran objek bergerak dilihat oleh subjek yang diam dan bergerak membuktikan hipotesis bahwa waktu dan jarak tidaklah mutlak tapi sebaliknya—relatif.
Einstein membantah Newton dengan pendapat itu dan itulah alasan aksioma pertama teori relativitas yang melambungkan Einstein.



Ugghh, Lintang! Sejak kecil aku tak pernah punya kesempatan sedikit pun untuk berhenti mengagumi tokoh di depanku ini. Mantan kawanku sebangku yang sekarang menjadi penghuni sebuah bedeng kuli ternyata masih sharp! Walaupun bola mata jenakanya telah menjadi kusam seperti kelereng diamplas namun intuisi kecerdasannya tetap tajam seperti alap-alap mengintai anak ayam. Aku beruntung sempat bertemu dengan beberapa orang yang sangat genius tapi aku tahu Lintang memiliki bakat genius yang jauh melebihi mereka.



Aku termenung lalu menatapnya dalam-dalam. Aku merasa amat sedih. Pikiranku melayang membayangkan dia memakai celana panjang putih dan rompi pas badan dari bahan rajutan poliester, melapisi kemeja lengan panjang berwarna biru laut, naik mimbar, membawakan sebuah makalah di sebuah forum ilmiah yang terhormat. Makalah itu tentang terobosannya di bidang biologi maritim, fisika nuklir, atau energi alternatif.



Mungkin ia lebih berhak hilir mudik keluar negeri, mendapat beasiswa bergengsi, dibanding begitu banyak mereka yang mengaku dirinya intelektual tapi tak lebih dari ilmuwan tanggung tanpa kontribusi apa pun selain tugas akhir dan nilai-nilai ujian untuk dirinya sendiri. Aku ingin membaca namanya di bawah sebuah artikel dalam jurnal ilmiah. Aku ingin mengatakan pada setiap orang bahwa Lintang, satu-satunya ahli genetika di Indonesia, orang yang telah menguasai operasi pohon Pascal sejak kelas satu SMP, orang yang memahami filosofi diferensial dan integral sejak usia demikian muda, adalah murid perguruan Muhammadiyah, teman sebangkuku.



Namun, hari ini Lintang ternyata hanya seorang laki-laki kurus yang duduk bersimpuh menunggu giliran kerja rodi. Aku teringat lima belas tahun yang lalu ia memejamkan matanya tak lebih dari tujuh detik untuk menjawab soal matematika yang rumit atau untuk meneriakkan Joan d’Arch! Merajai lomba kecerdasan, melejitkan kepercayaan diri kami. Kini ia terpojok di bedeng ini, tampak tak yakin akan masa depannya sendiri. Aku sering berangan-angan ia mendapat kesempatan menjadi orang Melayu pertama yang menjadi matematikawan. Tapi angan-angan itu menguap, karena di sini, di dalam bedeng tak berpintu inilah Isaac Newton-ku berakhir.



" Jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tak jadi nelayan …."



Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka sekarang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Andrea Hirata mengaku menulis novel spektakuler ini hanya dalam waktu tiga minggu, luar biasa banget buat gue, karena penulis itu bisa menghasilkan begitu banyak halaman yang panjang dan berisi dalam waktu sangat singkat. Walaupun buat gue novel ini agak bertele-tele dan semakin lama agak membosankan, membosankan dalam tautan kata-kata yang begitu indah dan briliant.
Sepertinya penulis ini juga merasa demikian, sehingga dia lebih to the point di novel-novelnya yang selanjutnya. Bagi gue justru terlihat lebih sempurna dengan langsungnya dia ke dalam inti permasalahan. Tapi sekali lagi gue ingin menyarankan, tetralogi ini bermanfaat banget dan sangat inspiratif, worth-it untuk dibaca, lebih bagus kalau punya. Atau kalau males baca novelnya, nonton filmnya! Yakin deh, bakalan banyak inspirasi yang dateng setelah mencoba mendalami kisah nyata dari Andrea Hirata ini.



Sangat bermanfaat, sangat worth-it, sangat inspiratif terutama untuk para penulis seperti kita.



Satu titik dalam relativitas waktu


Saat inilah masa depan itu

Tuesday, September 9, 2008

BREATHLESS

Dalam kesempatan ini, ijinkan saya untuk memperkenalkan novel
terbaru yang berbuat untuk segera diserahkan pada bapak Editor
[halah basi banget sih, kayak gak gw aja yang ngomong...]
Ini novel yang udah tertunda janjinya sejak bulan Juni...
Selamat mengkritik dan dibaca...

Banyak misteri yang terkandung dalam kehidupan manusia, mereka yang menutup mata hanya akan mengenal satu dunia dan satu kehidupan; dunia manusia dan kehidupan yang mereka yakini saat ini.

Selama ini manusia begitu didoktrin oleh ketakutan yang diciptakan di layar lebar, bahwa setan-setan itu bisa membunuh dan menganggu manusia. Kenyataannya, mereka juga sama tidak melihat kita manusia. Setan adalah mahluk dunia kedua dengan kasta terendah, diciptakan tanpa kecerdasan dan tanpa kekuatan khusus. Manusia yang bisa melihatnya hanya berpikir mereka ‘bisa’ melihatnya, sebetulnya tidak.

Benar adanya kalau manusia adalah mahluk sosial, mahluk sempurna ciptaan Tuhan. Karena mereka terlalu sempurna itulah yang menyebabkan kerumitan di dalam kepala mereka. Manusia lemah pada gelap, ketakutan pada manusia bisa membuat mereka berhalusinasi dan mulai menciptakan berbagai macam bayangan yang mereka yakini ada. Yaitu; hantu, setan, mahluk halus yang selama ini mereka pelajari dari layar lebar.

Manusia hanya mempercayai dirinya sendiri, menimbulkan berbagai macam pemikiran, mulai dari yang paling buruk, hingga pemikiran yang paling cemerlang. Ide-ide brilliant, otak psikopat, penemuan cemerlang, sampai kelakuan minus ala idiot. Itulah manusia, merasakan takut, merasa kuat, cerdas, bodoh, sekaligus lemah. Mahluk yang sempurna.

The Old Legend

Sejak jutaan tahun yang lalu kegelapan sudah selalu berusaha untuk menguasi bumi sebagai neraka kedua. Karena bumi adalah planet yang penuh dengan energy kehidupan, makanan lezat bagi kegelapan.

Tapi tidak pernah diciptakan sebuah kekuatan tanpa lawan, selalu akan ada bagian yang putih dan hitam, bagian depan dan belakang, pro atau kontra. Kehidupan tidak pernah berjalan dengan baik dan selalu sama, manusia adalah mahluk sosial dengan kompleksititas rasa yang luar biasa.

Benci, sedih, marah, duka, suka, cinta, kasih dan masih banyak lagi rasa yang bisa dikecap manusia. Mahluk paling sempurna di jagat raya, nyata, ada dan penuh dengan kompleksititas rasa.

Untuk menghadapi kegelapan dilahirkan manusia-manusia dengan kekuatan khusus, anak-anak Indigo yang memegang masa depan bumi. Sayangnya anak-anak ini tidak akan bertahan dalam kemurnian terlalu lama, kotornya pikiran manusia akan segera mengkonsumsi mereka. Sehingga tidak jarang anak-anak indigo ini tumbuh menjadi sosok yang luar biasa jahat, seorang psikopat yang jenius, tumbuh menjadi orang-orang yang ingin menenggelamkan bumi ke dalam keserakahan duniawi.

Terdapat kumpulan orang-orang yang akan menuntun jiwa murni anak-anak indigo mencapai jalan yang benar, tapi di mana ada kebaikan selalu ada kejahatan. Tidak sedikit pihak yang berusaha untuk menodai pikiran jernih anak-anak indigo ini, jumlah indigo murni jauh lebih sedikit di banding indigo yang sudah ternoda dengan keburukan duniawi.

Tapi di setiap cerita kebaikan selalu menang, tidak pernah diijinkan kegelapan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Di lahirkan lagi manusia penguasa elemen yang sempurna, hanya manusia dengan jiwa khusus yang mampu menghancurkan kegelapan dan mengembalikan keseimbangan dua dunia.

Seribu tahun sekali segel yang mengunci kekuatan kegelapan akan melemah, dan memaksa manusia serta mahluk gaib untuk menerima neraka yang sebenarnya. Kegelapan akan menelan kedua dunia yang ada, menelan sari kehidupan yang ada dan menghancurkan segala yang ada di permukaannya.

Terdapat empat segel yang harus dikembalikan pada tempatnya semula sehingga kekuatan kegelapan tidak akan menyerbu masuk dan menghancurkan keseimbangan dua dunia.

Dua berada di dunia pertama, yang dihuni oleh para manusia berhati kompleks. Dan dua lagi berada di dunia kedua, yang dihuni oleh para mahluk gaib.

Tidak sembarangan kekuatan yang diperlukan untuk menyegel kembali segel kegelapan, dibutuhkan orang-orang yang mampu hidup dalam dua dunia; dunia manusia dan dunia gaib.

Karena manusia biasa atau Indigo tanpa kemampuan khusus tidak akan mampu bertahan lama di dunia gaib, dan mahluk dunia gaib tidak akan bertahan lama di dunia manusia tanpa masternya.

Untuk itulah terlahir jiwa-jiwa khusus seribu tahun sekali, jiwa yang khusus dilahirkan hanya untuk mengunci kegelapan. Mereka hidup untuk mati demi keseimbangan dua dunia.

Satu kali saja para tetua tidak bisa menyelamatkan jiwa-jiwa khusus yang sudah terlahir di dunia, maka kehidupan akan segera menjadi sejarah. Satu saja dari jiwa yang terpilih terseret dalam kegelapan, tidak ada jaminan segel kegelapan akan kembali seperti semula.


Berhasilkah keseimbangan dua dunia dijaga, dan bumi lepas dari cengkraman kegelapan? Atau malah tenggelam dalam keputusasaan dan menghancurkan seluruh ras manusia dari kehidupannya?
Nasib bumi dan dunia kedua berada di tangan para Indigo yang memiliki takdir untuk hidup di dua dunia.
Para Indigo berjiwa murni dan sekaligus rasa 'membunuh' di dalam dirinya? Dua jiwa dalam satu tubuh yang meng-izinkan mereka menjadi 'istimewa' ?

Dalam cerita ini gak cuma diceritakan mengenai Indigo, tapi menyinggung sedikit areal rahasia milik pemerintah. Seperti Area 51 di Amerika, yang dipergunakan untuk menyelesaikan masalah berat yang timbul dan sama sekali irrasional?
Benarkan ada manusia Indigo? Atau mereka semua hanya lahir dari pemikiran rumit manusia lagi?

Temukan jawabannya segera!
[Tolong doakan juga supaya gw cepet bisa menyelesaikan ini novel, dan melunasi hutang yang tertunda....]

Cheers...

A very yuppy wedding - metropop book



The life of a business banker is 24/7. Bagi Andrea, banker muda yang tengah meniti tangga karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu.
Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all.
Namun di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya.

So she should be smiling, right? Not really.
Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya.

Dan tidak ada Manolo Blahnik atau Zara atau Braun Buffel yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.

Welcome to the world of Andrea Siregar, the woman with the most rational job on the planet as she is making the most irrational decisions in her own personal life.

Penilaian gue? Keren lagi ;-)
Hehehe, kayaknya semua buku yang gue resensi di sini emang buku yang gue suka banget.

Oke, I know, seharusnya buku yang gue nggak suka pun harus di-resensi. Tapi sampai sekarang, belum ketemu yang benar-benar sreg buat gue bikin ulasannya.

Tapi tentang a very yuppy wedding itu, gue suka.
Sekali lagi, okelah, semua orang boleh bilang buku ini sinetron banget. Tokoh cowoknya keren and guanteng, dan tokoh ceweknya cantik dan tajir.
Mereka hidup dengan filosofi hedonisme, mengkonsumsi benda-benda yang tidak affordable dengan gaji mereka sebagai banker.
Tapi... so what?

Gaya penuturan Ika itu bagus banget. Mengalir lancar, lucu, menyentuh di bagian tertentu.
Gue bisa merasakan gaya sayang-sayangan mereka ketika pacaran, meskipun ya, benar lagi, sebagai seorang banker dewasa, masalah2 diantara mereka itu tidak layak tampil.
Most of them just a misunderstanding problem, jealousy thing, and any other simple things that should not be an obstacle in their way, considering both of them are middle twenty something aged, not a teenage anymore.

Tapi ya itulah cerita, dan itulah buku.

Menyitir kalimat salah satu teman baik gue, Odiee, cerita ini ialah satu buku with less conflict, but still, the most interesting one to be read.

So guys, enjoy!

Gue lagi nunggu 2nd booknya Ika, divortiare. Udah pesen dari Om Han, tapi masih belum balik ke cafe bukunya. Please inform ya Om.

Monday, September 8, 2008

Sedikit Mengenai Indigo


Indigo...
Artinya berwarna sedikit kebiruan dengan sedikit ungu, aura yang muncul hanya pada anak-anak yang memiliki kemampuan khusus.
Tidak hanya bisa melihat hal-hal yang kasat mata, tapi juga mampu memprediksi masa depan, membaca pikiran orang lain, mampu mengerti keresahan jiwa orang lain, melihat aura orang lain, memanipulasi pikiran orang lain dan masih banyak lainnya.

Jiwa anak Indigo tidak dilahirkan sendiri, terkadang dalam satu tubuh terdapat beberapa personality. Sehingga banyak anak Indigo dikatakan gila atau aneh, sebenarnya tidak... mereka hanya berbeda dari anak kebanyakan. Mereka lebih dewasa dari anak seumurannya, lebih bijak dan memiliki aura yang berbeda dari anak-anak biasa lainnya.
Anak-anak Indigo terkadang memiliki cara pandang yang berbeda mengenai kehidupan, dikarenakan mata mereka melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Satu hal yang selalu dipegang kami... para Indigo...
Tidak boleh menceritakan hal-hal yang terlintas dalam kepala kami, sekalipun hal tersebut akan mengakibatkan kematian jutaan orang. Tapi sejarah, tetaplah sejarah... tidak boleh diubah.
Mereka yang selamat, berarti takdir mereka tidak untuk mati di saat itu...
Sekalipun sejarah berubah dan jutaan orang tersebut selamat, mereka toh tetap akan mati, meski dengan cara yang berbeda. Tapi kematian mereka sudah ditulis, tidak ada manusia seorangpun yang bisa mengubahnya.

Anak-anak Indigo itu berbeda... jangan anggap mereka sama dengan orang yang mengaku-ngaku memiliki Sixth Sense....
Mereka... istimewa, permata dunia....

PS: Jangan dianggap serius dong... inikan cuma wacana... sekalian promosi... Hehehehehehehe