Showing posts with label Mystery and Thriller. Show all posts
Showing posts with label Mystery and Thriller. Show all posts

Thursday, August 5, 2010

SALT


SALT. Film ini yang penuh dengan adegan action dan mengingatkan saya akan film McGyver, film james bond, ataupunkomik Spiderwoman by Marvel.... Lebih ke Spiderwoman sebenarnya. Judul SALT sendiri sebenarnya diambil jadi tokoh central di film ini, yaitu Evelyn Salt yang diperankan oleh Angelina Jolie. Film ini diawali dengan adegan penyiksaan yg dialami SALT oleh tentara Korea Utara. Angelina Jolie adalah seorang agen yang menyamar bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahan minyak dan gas, dan pada akhirnya, ternyata Angelina Jolie as SALT ini diketahui sebagai agen ganda di Rusia dan Amerika. AGEN GANDA : keyword yang harus Anda jaga sampai akhir menonton ya. Film ini mengangkat tema perang dingin antara Rusia dan Amerika yang telah berakhir di tahun 1980-an. Amerika pada saat ini menganggap pertikaian tersebut sudah selesai, begitupun Rusia. Tapi ada kelompok Rusia fanatik, yang mungkin masih terobsesi menjadi negara Adikuasa mengalahkan Amerika atau terobsesi dengan perang dingin dan permusuhan antar negara ini di RUsia, yang masih menyusupkan agen-agennya ke pemerintahan Amerika dan menjadi orang-orang penting khususnya intel di CIA dan NATO yang terlatih di sana.

Nah, itu yang terjadi pada Evelyn Salt.

Anehnya, Evelyn Salt yang dilatih sejak kecil dan dibentuk untuk menjadi AGEN GANDA bagi kelompok fanatik Rusia ini justru menjadi pembunuh kelompok ini dan melakukan twisted stories dan menyelamatkan umat manusia. Namun keberpihakan tidak pada Amerika.... ini terjadi setelah dia melihat suaminya ditembak mati oleh kelompok fanatik itu di depan matanya sendiri.

CINTA.
Lagi-lagi yang mendasari ketidaklogisan cerita dan rasionalisme. CINTA bisa mengubah apa yang diusahakan dan diharapkan selama berpuluh-puluh tahun. CINTA mampu mengubah jalan pikiran orang dengan sebegitu hebatnya.

SALT. Tetap menunjukkan jati dirinya sebagai wanita walaupun dia dibentuk begitu kuat lebih dari kadarnya seorang pria. Namun WANITA dengan 90% dominasi perasaan, seperti SALT mampu membuktikan dan menunjukkan pada dunia, mana jalan terbaik yang BENAR-BENAR harus dipilih bagi kehidupan. Bener-bener mirip komik SPIDERWOMAN, agak mirip.... dari idenya, dan juga melibatkan spider.

Aura Angelina Jolie yang kuat dan actingnya yang super OK membuat film ini jadi keren banget. Wajib tonton. Sayangnya saya pikir sampai habis... ternyata bersambung toh.... hehehe...

Sunday, December 7, 2008


Novel baru Lintas : HANTU GAMELAN

“GUNG! D’ GUNG...!! D’ GUUUUUUUNG...!!!”

Suara gamelan itu makin mendekat. Dentuman gong yang dipukul bertalu-talu, kempul yang dipukul nyaring, dan suara kendang yang menghentak, membuat jantung kami melonjak-lonjak seperti mau lompat keluar dari rongga dada.

Ketika menatap ke atas keranda mayat, aku melihatnya duduk di sana...

Wajahnya sangat mengerikan. Kulitnya hijau gelap, hidungnya hanya berupa lubang hitam menganga, dan mulutnya robek tak berbibir. Gigi-geliginya mencuat ke sana kemari sangat menjijikkan. Lalu ia melambaikan tangannya yang kurus tak berdaging ke arahku, memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Aku terpaku kaget. Nyawaku seperti terbetot dan melayang ke luar dari dalam tubuhku.



Wednesday, November 19, 2008

HUJAN (Thee&Rien)

“Tes...Tes...” Gerimis mulai turun. Musim penghujan yang baru datang memang sulit diprediksikan. Bisa saja datang siang, sore, malam, bahkan pagi hari yang cerah seperti ini. Langit tidak mendung. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan.

Banyak yang bilang, ini hujannya orang mati. Entah benar atau tidak. Tapi bukankah memang ada kematian setiap hari. Tapi kenapa hujan orang mati ini tidak datang saat musim kemarau. Padahal setiap hari dalam hitungan menit setidaknya satu nyawa melayang. Entah, banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya dalam kehidupan ini.

Seperti pertanyaan yang mendominasi headline koran INTRIK pagi itu. Tidak ada yang tahu jawabannya. Belum tahu. Entah kapan. Namun tidak ada pertanyaan apakah koran itu memang akan basah bermandikan air hujan yang semakin deras jatuh ke bumi.

Karena sudah terjadi. Sudah pasti sekarang ini koran itu kuyup, lapuk. Tinta dan kertasnya seolah menyatu dalam warna. Koran itu basah, sudah ada robekan di sana-sini. Terhujam garangnya air hujan yang menancap ke permukaan bumi pagi ini. Tepatnya bumi Indonesia, negeri di mana banyak yang percaya tentang adanya hujan orang mati.

*

Gadis itu menatap koran berhalaman kekuningan di depannya, isinya masih sederhana, deretan katanya juga hanya itu-itu saja. Tidak direpotkan oleh isu-isu ekonomi yang kini kian merebak.
Kemudian pandangannya berpindah menuju koran di genggaman tangan kanannya, tulisannya rapat-rapat. Banjir bandang, gempa bumi yang melanda tanah Sumatera tertera besar di depan halamannya. Sisanya isu-isu ekonomi yang tidak kian reda.

Hhff… klise, ujarnya dalam hati.

Tanggal di koran menyebutkan 21 September 2007, dulu mungkin pembunuhan menjadi suatu kisah yang spektakuler, menghiasi besar-besar headline koran dengan kertas kekuningan tahun 1986 tersebut. Sekarang? Berita kriminal akan diletakkan di tengah halaman, belakang, atau pojok koran. Kecuali jika presiden Indonesia ini terbunuh.
Enggan dia membolak-balik halaman koran, mencari sesuatu yang sudah menjadi tujuannya sejak pagi dia membeli koran itu.

Nah… itu dia,
terletak di pojok halaman 20.





HUJAN
Sebuah Fiksi. Novel Thriller Fiction dengan kontroversi sosial politik, pertama di Indonesia. Sarat dengan konflik dan permasalahan tak terduga. Juga hal-hal yang marak terjadi di masyarakat. Mengetengahkan problema kontroversial, seperti hubungan homoseksual atau sikap anti-sosial dan non aktual yang kian menjamur saat ini.
HUJAN
on JAPAN Version
SEGERA!
*
Alika hanya duduk di bar sambil memejamkan matanya, menegak bir di gelasnya yang sebelumnya sudah dia basuh dengan alkohol. Satu alasannya sampai dia datang ke tempat yang hina ini. Dia mencari Berlian.
Berlian Kirani, 22 tahun.
Muda.
Cantik.
Simpanan seorang pria tua bodoh.
Dan yang pasti… dia butuh uang.

Berlian, dia begitu mencintai Eben. Seorang pria berusia 52 tahun, sudah beristri dan beranak tiga. Eben hanya seorang pegawai rendahan di sebuah percetakan yang tidak ternama. Wajahnya memang menarik, dan dia punya sejuta kata romantis untuk dibuang-buang. Karena itu Berlian terjerat dalam pesonanya.

Tidak hanya kehormatannya yang sudah habis direguk oleh Eben, tapi juga uang. Tidak hanya sekali Eben meminta Berlian untuk memberikan uang pada dirinya. Tidak hanya satu atau dua ratus ribu, jutaan bahkan sudah pernah dimintanya. Dan Berlian begitu patuh mengikuti seluruh perintah Eben.

Gadis bodoh… pikir Alika.

Saat ini matanya terbuka dan sedang melihat Berlian tengah bercumbu dengan seorang pria yang lebih pantas menjadi ayahnya daripada menjadi kekasihnya. Pria itu bertubuh sintal dan berpakaian menarik layaknya seseorang yang terpelajar, rambutnya berwarna abu-abu, berkumis tipis dan memiliki senyum yang menggetarkan.

Berlian….

Gadis malang itu begitu mabuk dalam gelombang cinta semu yang diberikan oleh Eben.
Alika mendengus, muak. Sejak tadi dia tidak menemukan sesuatu yang menarik di dalam bar kecil di daerah Raden Saleh ini. Sama sekali tidak ada yang menarik. Sesak, gelap dan bising. Memperhatikan Berlian juga tidak membuatnya senang, malah membuatnya semakin kesal.

“Yo! Selina…. Nyanyikan satu lagu untuk kami!” Suara-suara itu begitu riuh memenuhi ruangan ketika seseorang naik ke atas panggung, menggantikan dua orang penari striptease yang kelelahan.

“Bon.” Jawab Alika pendek kepada pelayan bar.

Secarik kertas lusuh dengan tulisan cakar ayam disodorkan padanya, jumlahnya duapuluh ribu. Duapuluh ribu hanya untuk segelas bir yang tidak enak ini? Mereka pasti meminta bayaran dengan melihat penampilan, keluh Alika dalam hati. Tak urung dia keluarkan juga dua puluh ribu dari dalam dompetnya.

Alika sudah merasa jenuh dan bosan, dia sudah cukup melihat. Dan sudah tahu apa yang akan dia lakukan berikutnya. Karena itu dia melangkah keluar.

“There used to be a greying tower alone on the sea. You became the light on the dark side of me. Love remained a drug that's the high and not the pill….”

Langkah Alika terhenti ketika mendengar nyanyian itu, membuatnya tersentak. Dan untuk pertama kalinya dalam malam ini dia menoleh.

Untuk mencari.
Untuk melihat.
Hanya untuk tahu…
… suara indah dan lagu yang menawan itu siapa yang menyanyikan.
Sungguh kontras sekali lagu seindah ini dengan suara malaikat itu, di tempat seburuk ini. Sehina ini….

Alika berdiri di tempatnya, melihat sosok yang tengah bernyanyi di panggung bar kecil yang bobrok itu.

Jantungnya seolah berhenti berdetak, membuatnya bingung. Lagunyakah yang membuat dirinya tersentuh? Atau sosok yang sedang bernyanyi itu?

Seorang gadis berkulit putih, agak pucat, duduk di kursi tengah panggung. Dia menyanyikan lagu Kiss From A Rose dari SEAL dengan sepenuh hatinya. Matanya terpejam, dan dia tampak hanyut dalam lagu yang tengah dinyanyikannya.

Dari sekian banyak sampah dan pemandangan kotor yang dilihat Alika di dalam bar ini, hanya sosok itu satu-satunya yang bisa membuatnya terkesiap.

Gadis itu…
Begitu bersih…
Suci…
Indah, dengan kecantikan yang dia sendiri susah untuk mengutarakannya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, hatinya tergetar. Jiwanya terguncang, gadis itu merenggut seluruh perhatiannya. Seorang gadis… yang dia sendiri bahkan tidak mengenali siapa namanya dan darimana datangnya.

Tapi gadis seindah itu… Tidak mungkin termasuk ke dalam anggota belasan pelacur-pelacur kotor yang ada di dalam bar.

Sosoknya terlihat begitu mempesona dalam sorot lampu panggung, membuat kulitnya bersinar terang. Menjadikannya sosok terindah. Sebuah harta yang tidak ternilai yang berhasil dia temukan dalam tumpukan sampah kotor dan tidak berguna ini.

“….my power, my pleasure, my pain, baby. To me you're like a growing addiction that I can't deny. Won't you tell me is that healthy, baby? But did you know. That when it snows, My eyes become large and the light that you shine can be seen. Baby, I compare you to a kiss from a rose on the grey. Ooh, the more I get of you…”

Satu bagian dari dirinya seolah terkoyak ketika mendengar lagu itu terus mengalun dari bibir gadis mungil yang sedang duduk di tengah panggung ini. Hampir meluruhkan seluruh pertahanannya, membuatnya bingung juga merasa aneh.

Namanya Selina… begitu tadi orang-orang memanggilnya.
*
Tanpa aba-aba. Rinto menerjangnya. Brutal. Penuh gairah yang menggelora. Memunafikkan semua kenyataan. Membayangkan cinta sejatinya yang berselimutkan sutra bermotif bunga merah itu, yang kini berada di depannya.
Hasrat Galih terpuaskan. Rinto benar-benar sempurna. Luar dan dalam. Tak ada lagi cela baginya. Cela yang pernah mampir dalam otaknya, ketika Rinto membutuhkan perlindungannya sembilan belas tahun yang lalu, hilang seketika. Tanpa sisa.
“Aku harus pulang.”
“Jangan” tahan Galih.
“Aku harus….”
Tubuh Rinto perlahan bangkit. Namun tangan pria yang gemulai itu menahannya. Galih tak ingin sedikitpun menerima bahwa moment berharga ini harus pergi begitu cepat.
Tarik menarik itu berlangsung sekitar satu menit. Namun diakhiri dengan tekanan tangan kekar yang bergelung di pinggang Galih.
Awalnya, Galih berpikir apa yang dilakukan Rinto merupakan persetujuan non verbal atas permintaannya.
Tapi, mau tak mau dia harus membuang semua harapan melankolisnya itu. Karena sesaat setelah tindakan non verbal itu terjadi, Rinto melanjutkannya dengan tindakan non verbal yang lain.
Dia menahan kalimat pujian yang hendak terlontar dari mulut Galih dengan tangannya. Galih tidak merasakan ada sekat antara kulit telapak orang yang dicintainya itu dengan selaput tipis bibirnya. Dia tidak merasakan adanya saputangan bersimbol PKI itu hadir di indera pengecapnya. Tidak juga merasakan aroma chlorofoam sudah menembus tajam indera penciumannya.
Saat ini yang dia rasakan hanya pikirannya yang mengawang. Pusing yang menyenangkan. Sakit yang membahagiakan.
Saat ini yang dia rasakan, adalah cinta non verbal milik Rinto dan kehangatan tubuhnya.
*
Jam menunjukkan pukul 14.44 WIB, Eben masih tertidur. Berlian memutuskan untuk menyalakan radio sekarang, daripada terlambat dan melakukan kesalahan. Mungkin orang itu akan mengambil kembali uang lima puluh juta yang telah didapatkannya.

Tapi, kalau orang itu lebih memilih untuk mengambil nyawa Berlian?
Jadi lebih baik kunyalakan sekarang, pikir Berlian.
Zzzttt…zzz….zzzztttt….
Suara kaset dari tape tersebut seperti rekaman dari sebuah radio. Kurang jelas, dan terdengar suara seorang penyiar sebelum lagu di dalam tape itu dimainkan. Berlian merasa heran. Pikirannya berkata, apa maksud orang ini? Namun hatinya menimpali dengan kalimat yang lain,
Ah bodo amat! Yang penting duit udah di tangan. Dan Berlian memilih mengikuti kata hatinya. Dia tidak mau ambil pusing, sama halnya dengan sikapnya dalam menggampangkan hubungan cintanya dengan Eben.
“Kamu denge-“
“Zzz…. Lagu yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi...zzztttt….kiriman dari Handoko di Jakarta untuk Eben yang zzzz…zzzt….Bandung…”
“Hatiku hancur mengenang dikau. Berkeping-keping jadinya. Kini air mata jatuh bercucuran. Tiada lagi harapan.......”
Eben sudah tidak dapat lagi duduk bersandar, wajahnya pucat. Seperti pucat langit yang tertutup awan hujan saat ini.
“Apa? Kenapa sayang? Kamu nggak suka lagunya?” tanya Berlian.
Eben tidak menjawab, lagu Layu Sebelum Berkembang yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi itu terus mengalun. Eben tidak tahu persis itu lagu apa. Baginya lagu itu hanya lagu kuno yang memuakkan. Namun entah kenapa di saat alunan melodi menghentak telinganya, dia merasakan nyeri tak jelas yang tiba-tiba merayap di ulu hatinya.
Bagaikan intuisi negatif yang tiba-tiba hadir.
Pertanda buruk.
Wajah orang itu.
Tapi itu tidak mungkin terjadi! Tidak mungkin! Pria itu sudah mati belasan tahun yang lalu!
“Kumatiin aja ya.” Berlian mengambil inisiatif untuk mematikan radio karena melihat Eben begitu pucat dan tampak ketakutan.
… toh sudah kunyalakan seperti yang diminta orang gila itu, pikir Berlian.
Klik!
Radio dimatikan, suara indah mendayu-dayu milik Tetty Kadi yang menyanyikan lagu Layu Sebelum Berkembang ciptaan A Riyanto itu langsung menghilang ditelan suara derasnya hujan.
Berlian kembali memandang ke depan, namun terlambat. Tiba-tiba saja mobil di depannya yang sedang melaju kencang, berbelok ke kiri dengan cepat. Tanpa sanggup menginjak rem, Berlian menghantam minibus yang berjalan sangat pelan di depannya.
“Gubraakkkk!!”
Hantaman tanpa ampun itu langsung membuat mobil Kijang pinjaman itu terpelanting. Eben tidak mengenakan sabuk pengaman, sehingga dia terlempar ke depan mobil dan menghantam dashboard.
Hujan turun semakin deras, tol Cipularang tertutup oleh derasnya hujan. Tapi tidak membuat orang menjadi urung untuk memperlambat laju kendaraan mereka masing-masing.
Baru saja mobil yang dikemudikan Berlian terlempar ke kiri, ban belakang mobilnya pecah dan menimbulkan suara decit yang tidak menyenangkan telinga. Membuat mobilnya tersungkur ke tengah jalan tol Cipularang.
… dalam keadaan terbalik.
Berlian melihat Eben masih dapat bernafas dan berusaha untuk melepaskan diri dari himpitan dashboard yang menimpa kakinya. Sebuah mobil Alphard berwarna hitam melaju kencang dari jalur tengah dan…
Brakkkk…
….untuk yang kedua kali, Kijang abu-abu metalik itu terbalik dan terseret sejauh tiga meter ke depan. Berlian hanya bisa menjerit, ketika akhirnya semuanya terhenti.
Dengan susah payah, tanpa sanggup menghentikan isak tangisnya, Berlian merangkak keluar dari dalam mobilnya yang hancur. Menangis dan berusaha mengapai Eben.
Pria itu…
Eben Lumaris.
Sudah tidak lagi bergerak.
Tidak lagi bisa tersenyum.
Tidak lagi bisa mengeluarkan rayuan-rayuan gombalnya.
Eben Lumaris. Diam dalam hujan, terhimpit oleh dashboard mobil, tubuhnya tertekuk dengan kepala menghantam kaca jendela depan. Darah mengalir deras dari kepalanya. Darah itu perlahan mengalir keluar, terbawa oleh arus air hujan yang deras.

Friday, September 26, 2008

The Devil's DNA




(Huaaaahhh... akhirnya..... bisa juga masuk ke blog ini... soalnya tadi susah pisaaan euuuy..)




SATU PEMBUNUHAN TAK PERNAH CUKUP
BAGINYA, MEMBUNUH ADALAH CANDU TERKUAT,
HASRAT TERLUHUR, EKSPRESI CINTA TERMANIS…

Gue baru aja baca novel ini. Gue bener-bener nggak bisa melepaskan tangan gue sebelum menyelesaikan novel ini. GILA! Penulis berbakat banget. Mungkin inilah novel thriller terbaik yang pernah gue baca. Nggak rugi gue ngeluarin uang 59.900 untuk beli novel ini.

Novel ini gue temukan di gramed Semanggi, tapi karena keterbatasan budget, gue akhirnya membeli juga di gramed Cinere.

Sinopsisnya :

-1983-
Allison Wallis, seorang dokter muda, ditemukan tewas mengenaskan di dalam apartemennya di Manhattan. Detektif Francis X Loughlin menangani kasus ini. Ini adalah kasus besar pertamanya. Kecurigaan tertuju pada Julian ”Hoolian” Vega, anak pengawas gedung apartemen Allison. Hoolian adalah seorang pelajar sekolah Katolik, penggemar fiksi ilmiah berusia tujuh belas tahun. Francis berhasil menyeret Hoolian ke penjara. Kasus pun ditutup.

-2003-
Francis menjelang masa pensiunnya dan terancam mengalami kebutaan. Di penghujung karirnya itu, ia kembali menangani kasus besar. Lagi-lagi pembunuhan seorang dokter wanita muda. Korban kali ini pun memiliki kemiripan fisik dengan Allison Wallis. Kebetulan, Hoolian saat itu telah bebas dan bekerja di daerah TKP. Awalnya ini tampak seperti kasus mudah, sampai kemudian diketahui fakta bahwa DNA pembunuh yang ditemukan di bawah kuku korban adalah DNA Allison Wallis—korban pembunuhan 20 tahun lalu!

Gue menyelesaikannya hanya dalam waktu satu setengah hari. Mungkin Anda-Anda semua menganggap sepele cerita karena dari sinopsisnya aja udah bisa ditebak siapa pembunuhnya. Tapi,tapi,tapi... itu SALAH! Pikiran itu pernah menggelayuti benak gue juga pas baca sinopsisnya. Tapi, hal itu yang jadi menarik. Nggak mungkin segampang itu penulis membocorkan rahasia terbesar novelnya. Dan yang bikin lebih menarik lagi, flashback itu. Flashback adalah favorit gue. Kebanyakan novel gue memiliki style seperti itu. Mungkin hamper semua. Yang jelas terlihat di Hujan, The Sacred Night (dulu Malam Inaugurasi) tapi novel yang ini belum dikasih ke penerbit walaupun udah selesai, dan MaRooN (sedikit mengandung flashback).

Flashback yang bikin gue paling tertarik dengan novel ini. Dan ternyata, pas gue baca nggak hanya unsur satu itu yang paling OKE. Tapi SEMUANYA… Bener-bener nggak bisa ditebak. Coba aja lihat, testi-testi yang mendukung novel ini. Yang best of the best :

“Tidak ada novel yang lebih baik daripada novel ini” -The New York Sun-

“Sebuah thriller psikologis yang menegangkan. Akhirnya sungguh mengejutkan dan tak terduga” -Time Magazine-

“Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca” -Stephen King-

See? Gue yakin semua endorse ini JUJUR apa adanya, nggak sekedar testi, karena gue emang sangat mengagumi novel ini, penulisnya : Peter Blauner.

Seorang penulis yang telah memenangkan Edgar Allan Poe Award, dan novel-novelnya telah ditranslate ke enam belas bahasa.

Kalimatnya indah banget, detail, penuh pelajaran moral, dan tentunya misterius…

Salah satu kalimat terbaiknya (menurut gue) yang gue temukan di prolog :

Dokter membantumu lahir ke dunia, pengurus pemakaman mengantarmu kembali ke dalam tanah, dan jika terjadi sesuatu yang tidak beres diantara kedua waktu itu, orang akan memanggil polisi.

Gue nggak akan berkomentar lebih banyak lagi deh tentang novel ini. Ini bener-bener novel thriller terbaik yang pernah gue baca.

Jika Anda mengaku pencinta thriller, Anda jangan hanya membaca atau meminjam novel ini, tapi... ANDA HARUS PUNYA!

Wednesday, September 17, 2008

Siluet

Notes : Mba rina, resensi ini especially dedicated for you... Kalo novelku berdua Thee aku mau deh masukin di sini. Tapi novelku sendiri, sepertinya cukup aku sampaikan kepada khalayak melalui blog pribadiku. Hehehehe... Idealis banget ya... Ntar masukin cuplikan 'Postcard from Neverland' juga ya... Sama pak Han, masukin cuplikan 'Choice' juga ya pak ^_^ bagian-bagian yang menarik aja...




Dwilogi pertama dari rangkaian thriller fiction Thee & Rien.

Mengisahkan tentang pergulatan sengit antara Indonesian Ripper Frea Alvionita dengan seorang detektif jenius Yuri Silvia.

Dulu kau bagaikan singa yang berhadapan dengan gajah di kala surya mulai tersenyum.

Dulu aku adalah gajah, dan kau adalah singanya.

Tapi kini, aku adalah Siluet.

Dan kau adalah titik cahaya yang memudar.

Titik cahaya yang memudar itu, akan menghilang.

Dalam genggaman Siluet..

We Real Cool, but we die soon. Me, or you...

Frea adalah sosok manusia yang sering terlupa akan masa kecilnya. Kelainan jiwanya, adalah benci melihat orang yang bernyawa. Kesenangannya membunuh, karena dia haus darah. Profesinya sebagai dokter bedah, menjadi suatu bentuk penyalurannya untuk dapat memuaskan nafsu membunuh seperti memotong ataupun menguliti tubuh manusia.

Di tengah kepanikan itu, tidak seorang pun menyadari binar yang memancar dari mata Frea. Mata itu membelalak penuh kesenangan, senyuman jahat menghiasi wajahnya. Menodai wajah cantiknya.Frea menghentikan darah yang terus mengalir, menjepit nadinya tanpa melukai jaringan syaraf korban.Dengan tenang, cepat, dan pasti, tangan Frea bergerak lincah di atas tubuh korban.

Menyelesaikan semuanya.Menjahit.Menjepit.Memotong.Bagian tulang yang retak dan menembus kulit, dipasang plat agar kembali lagi pada posisinya semula. Semua itu dilakukannya dengan cepat, dan tepat sasaran. Frea mendesah kecewa saat segalanya berakhir.

Ray, adalah sahabat Frea Alvionita. Seorang transeksual yang diam-diam juga menaruh hati pada Frea. Namun, Frea tidak dapat mencintai Ray. Dia hidup tanpa cinta, dan hanya ingin mencintai dirinya sendiri. Meskipun orang-orang di sekelilingnya begitu mencintai dan mengagumi kecantikan serta kepintaran Frea. Kesenangannya hanya lumuran darah yang berada di tangannya atau struktur organ tubuh manusia dengan matanya yang telanjang. Kesenangannya hanya membunuh.

Penyakit itu;Tidak tertarik pada laki-laki.Tidak tertarik pada wanita.Tidak tertarik pada uang.Hanya tertarik pada struktur tubuh manusia. Salah satu alasan dia memilih menggeluti profesi dokter bedah tersebut.


**

Kling… bunyi es batu yang menyentuh dasar gelas terdengar nyaring dan jernih. Frea meraih botol vodka yang isinya tinggal separuh, menuangnya ke dalam gelas berisi es. Aliran dari minuman beralkohol itu menimbulkan bunyi gemeretak dan denting pada dinding gelas yang terantuk es akibat massa yang menimpanya.

Augusta Frea Alvionita....

Jangan pernah lupakan nama itu.Sebut saja satu kali, maka dia akan menghampirimu dengan naluri-nya yang buas.Sebut dua kali, dia akan menari di atas tubuhmu dengan gairah yang meledak-ledak.Sebut yang ketiga kali, tariannya akan berubah menjadi jeritan milikmu.Senyumnya tidak lagi indah...

Wajahnya tidak lagi mempesona...

Hanya tersirat sinar intelegensia jahat di matanya yang jernih...


Tujuh mayat remaja tergantung di hadapannya.
Pertama kali yang dia lihat, pemandangan yang berada di depannya itu bagaikan sebuah bingkai berdarah. Bagai terlukis dengan sempurna.
Ketujuh tubuh itu terkulai kaku di dinding, terlukis sempurna dengan darah yang melumuri masing-masing tubuhnya.
Tubuh seorang pemuda tertancap pada batang beton di tengah dinding gedung yang tidak jadi itu, lehernya tersayat dalam dan berlubang. Seseorang tampak melukai bagian tenggorokannya lebih dahulu sebelum akhirnya mengukir tubuh kurus telanjang itu dengan ukiran yang sama yang selalu dia lihat pada korban-korban sebelumnya.
Dua tubuh lagi, tergantung sempurna pada kawat-kawat yang digantungkan dari dua pilar yang berada di kanan dan di kiri, serta terikat kuat pada batang beton yang tersembul dari tubuh temannya yang tergantung sempurna di dinding. Semuanya dalam keadaan yang membingungkan, karena beberapa anggota tubuh ketiganya telah bertukar tempat dan dijahit rapi.
Tampak bagian tangan, pergelangan kaki dan kepala sudah berpindah tempat, sudah tidak pada tubuh orang yang sebenarnya. Jahitannya tidak asal, itu berarti pembunuhnya memang sudah mahir dengan kontruksi tubuh manusia.
Darah mengenang di lantai, memberi saksi bahwa sudah terjadi pembantaian besar-besaran di sana. Ketiganya tergantung sempurna dengan kawat-kawat yang mengelilingi tubuh mereka yang telanjang. Kawat-kawat itu dibuat mengelilingi tubuh si pemuda yang tampak disalib di tengah dinding dengan batang beton menembus tubuhnya.
Sementara yang dua lagi, dengan leher terkoyak hampir putus karena sabetan benda tajam, tubuh mereka juga tertancap sempurna di batang beton di atas tiang pilar yang patah, di kanan dan kiri dinding.
Darah keduanya yang mengaliri pilar, tampak memberi kesan bahwa itulah titik akhirnya. Sentuhan terakhir itu adalah frame dari lukisan manusia hidup yang sudah dikerjakannya.

Cintanya sama dengan kematian...

Frea tidak pernah mencintai laki-laki, tidak juga wanita.

Frea tidak bisa mencintai manusia hidup.

Nalurinya untuk bertahan hidup adalah darah yang mengalir di nadi setiap manusia yang bersentuhan dengan dirinya.Frea bisa merasakan darah mereka mengalir di bawah kulit yang disentuhnya.Seperti itulah cara Frea mencintai mereka.Menyentuh mereka....

Mencumbu mereka...

Membiarkan mereka mencintai tubuhnya yang indah...

Dan kemudian, Frea akan mencintai mereka sampai mati.....

Anggur merah adalah cintanya...

Frea selalu meninggalkan simbol berupa bentuk huruf F terbalik pada setiap korbannya. Salah satu petunjuk yang digunakan Yuri Silvia bersama dengan asistennya Mahesa untuk menangkap Frea. Simbol yang sekaligus menjadi pelecehan Frea terhadap Yuri dan polisi-polisi yang mencarinya. Frea begitu percaya diri dengan kekuatan dan kepintaran taktik serta ilmu science yang dimilikinya sejak kecil.


Yuri menemukan sebuah simbol di bahu sebelah kanannya. Layaknya sebuah tato. Namun Yuri yakin, bahwa tato itu bukan keinginan wanita berumur dua puluh lima tahun ini, seorang waitress di karaoke BINTANG FIESTA, yang saat ini sudah terbujur kaku. Tanpa nyawa.Tato itu keinginan sang pembunuh.Tato berbentuk;Huruf F terbalik Diukir dengan silet, seperti dugaan Yuri. Silet itu begitu tajam. Karena luka akibat tato tersebut begitu dalam.Namun Yuri Silvia sang detektif tak kalah jenius dengan Frea Alvionita. Dia mampu membentuk sebuah analisa dan taktiknya sendiri untuk menangkap Frea. Terlebih, sang Indonesian Ripper tersebut, sempat melakukan kesalahan di beberapa pembunuhannya. Frea meninggalkan jejak yang amat mendukung analisa Yuri Silvia dalam mengetahui keberadaan Indonesian Ripper tersebut.Yuri menelusuri sisi bawah ranjang. Membuka peralatan investigasinya. Lampu dengan laser hijau serta alat-alat penjelas sidik jari. Menelusuri setiap senti kulit kayu ranjang itu dengan kelihaian teknik dan analisanya. Tanpa henti, dia bertekad untuk menemukan barang bukti yang lain saat ini. Karena dia bertekad untuk mengakhiri aktivitas Siluet dan menuntaskan semua kasus pembunuhan ini. Yuri ingin keempat korban pembunuhan dari Siluet itu dapat tidur dengan tenang.Seketika tangannya terhenti. Tak lagi bergerak. Matanya menyipit, menyelami salah satu space dari pori-pori kayu ranjang tersebut. Noda.Darah lain. Bukan darah yang sama seperti yang terdapat di ranjang. Bukan darah milik Roni.


**

“Sudah kubilang sejak awal…” Frea meraih gelas berkaki dan mengisinya dengan anggur merah Pinot Noir 1987, menyesapnya dengan nikmat.
“Aku… tidak akan pernah tertangkap.”

**


Yuri terkekeh, dan memutar telunjuknya di depan hidung Mahesa sambil berkata perlahan, “Tugas kita berdua... Inget”
Kini Mahesa yang melenguh bosan, “Kenapa sih kita selalu dibikin kayak Murder & Scully!” serunya kesal.


------We Real Cool
Gwendolyn Brooks


we Real Cool. we Left School. we Lurk Late. we Strike Straight.
we Sing Sin. we Thin Gin. we Jazz June. we Die Soon.


“Baca apa sih lo? Serius amat” tanya Mahesa.
Yuri menolehkan kembali wajahnya ke layar komputer.
“Gue baru nemu ini dari webs encyclopedy. Puisinya Gwendolyn Elizabeth Brooks” jawab Yuri. Tak melepaskan pandangannya dari beberapa deret kalimat di atas file website tersebut.
“Caelah!” ejek Mahesa. “Sejak kapan lo rajin buka encyclopedy?!”
Yuri melotot kepada Mahesa. “Bukan urusan lo! Liat nih! Baca!”
Mahesa mengikuti keinginan Yuri. Dia membaca kalimat-kalimat puisi berjudul We Real Cool tersebut.
“So? What?” tanyanya kemudian.
“Gue membayangkan, puisi ini menggambarkan antara gue dengan si Siluet”
Mahesa melongo. “Ngawur! Imajinasi lo terlalu berlebihan!”
“Strike straight. Lurk late. Lo liat dong artinya di sini!”
“Iya, itu lo artiin sendiri kan...Kali aja artinya bukan itu! Ya.. semacam kiasan yang hanya dimengerti interpreter”



Sebuah konspirasi, mewarnai novel ini. Akan terlihat hubungannya sedikit demi sedikit dalam alur cerita. Konspirasi dari sebuah sindikat terlarang kloning kelas dunia bernama Treize Lune.

Siapa sangka di kawasan pedestrian tertua Rusia ini terdapat sebuah markas sindikat rahasia pencetus program kloning manusia. Arbat Street, tempat favorit yang banyak dikunjungi masyarakat Rusia. Seperti Monas atau GOR Senayan di Jakarta. Tidak seorang pun yang tahu bahwa markas besar perencanaan kloning tingkat dunia bersemayam di bawah tempat pijakan kaki-kaki mereka.Sindikat ini mengontrol gerak produksi perdananya yang berkode TЛ-1, mengontrolnya, agar sindikat ini dapat memproduksi hasil kloning manusia yang lain untuk menguasai dunia.

Treize Lune merekrut personilnya, dari beberapa negara di dunia. Beranggotakan ilmuwan-ilmuwan jenius yang dipimpin oleh Jean Paul.

Jean Paul mendesah, ini adalah bagian yang paling tidak disukainya. Dia menekan tubuhnya ke depan, kemudian meluncur ke bawah, menuju ke dalam markas. Udara oksigen murni, berganti menjadi dinginnya Air Conditioner dan oksigen yang ditransfer dari dalam tabung. Perubahan suhu ini, selalu membuatnya menggigil setiap kali dia mendatangi markasnya. Gigil ini juga selalu dia rasakan, apabila adrenalinnya memacu karena semangatnya kembali bangkit untuk bertemu dengan produk kloningnya yang sudah lama dia rindukan.

Akhir kisah, belum mampu menentukan apapun, hanya sekali lagi... pembunuhan.

JEJAK terakhir belum tereka, karena perjalanan SILUET masih sangat panjang.

“Oui, s’il vous plait. Qu’est-ce que je vous mademoiselle?” Sesaat Yuri melongo memandang wajah sang pelayan. Terkejut hingga dia tak sanggup berkata apa-apa.

Wajah itu. Wajah yang pernah begitu dalam mengguncang batinnya. Wajah yang mengubah prinsip hidupnya sedemikian besar, memutar langkahnya, hingga mempengaruhinya untuk melarikan diri dari dunianya yang lampau, sampai pada keputusan finalnya untuk menjejakkan kaki di Paris.



COMING SOON! JUST WAIT AND SEE
A NEW NOVEL
BY

THEE & RIEN

Monday, September 8, 2008

Messiah

Greetings...
Para pecinta novel Thriller!! Kalo lo semua belum baca buku yang satu ini, berarti status lo sebagai pecinta Thriller belum lengkap!
Wajib
Kudu
dan Musti di baca!

Sampe terakhir lo terakhir akan dibawa menerka-nerka siapa pembunuh edan yang udah membunuh tujuh orang secara sadis dan tanpa rasa kasihan, dan akhir yang kita dapat sangat mengejutkan, sekaligus menakutkan.

Percaya atau gak... novel ini mampu membawa kita berhalusinasi dan berhadapan langsung dengan sang pembunuh keji yang luar biasa cerdas.
Jangan salah dengan judul Messiah, karena ada dua novel dengan judul yang sama. Yang ini karya Masterpiece dari Boris Starling [my favorite author ever!]
Sedikit banyak ide Boris Starling udah banyak mengajari gw menjadi orang yang nyeleneh dan cukup sadis [kalo gak bisa berpikir sadis... mana bisa bikin novel Thriller... ya kan?]

Sang pembunuh ternyata menganggap dirinya seorang Yesus Kristus yang telah lahir kembali di dunia modern ini. Kemudian dia mencari para pengikut yang juga sudah mengkhianatinya dulu, dan membunuhnya satu per satu.
Pembunuh itu mencabik para korbannya...
Memotong jari mereka...
Menyalib dan mengupas kulit mereka...
Tanpa sidik jari yang tertinggal, tidak ada serat pakaian, tidak ada tanda-tanda rumah dijebol masuk, tidak ada apa-apa. Nihil.
Nol besar.
Sampai sebuah kesalahan kecil, membawa si pembunuh yang mengaku dirinya Yesus Kristus ke jerat hukum yang berlaku.

Ingin tahu kesalahan apa yang dilakukan si jenius ini? Baca dong bukunya, jangan cuman minjem... gak sah dong...
Jika lo mengaku pecinta Thriller sejati....
Baca buku yang satu ini!!!

DEAL??

Sunday, September 7, 2008

The Juror


Notes :
Pak han, maaf ya aku duluan... Abis kasian ngebiarin tulisannya mba Rina kelamaan sendirian nggak ada temennya, hehe... Ini langsung aku kasih 3 resensi dari novel yang genrenya beda-beda. Maaf, karena semua resensinya novel luar negeri, soalnya ini 3 novel yang baru aku baca, dan bikin gemes untuk dibuat resensi. Mudah-mudahan bisa jadi info buat semua ya...

The Juror

Gue tertarik untuk menulis resensi mengenai novel ini, karena novel yang sudah ditulis selama sepuluh tahun lalu oleh George Dawes Green (copyrightnya tahun 1995) adalah novel yang baru saja gue baca kemarin. Menyedihkan memang, karena gue baru tahu beberapa minggu yang lalu.
Gue menemukan novel ini ketika gue menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku, yang biasa menjual buku-buku bajakan atau buku kuno, di kawasan Karang Tengah, Jakarta Selatan (dekat dengan rumah).

Ketika melihat covernya, gue langsung tahu bahwa rupanya novel ini sudah pernah difilmkan, bisa dilihat dari cover terbarunya, siapa saja tokoh utamanya. Tentunya yang paling mencolok di covernya adalah Demmi Moore. Namun sayangnya, gue belum pernah menonton filmnya bahkan gue tidak tahu sedikitpun mengenai filmnya.

Tidak ada sinopsis singkat yang dicantumkan di bagian belakang cover, yang ada hanya foto berukuran extra large dari penulisnya. Seorang pria dalam foto hitam putih, berpakaian seadanya, sedang duduk dan tersenyum memamerkan gigi atasnya, dari posturnya terlihat pria ini bertubuh sangat kurus. Tapi di halaman pertama tercantum sinopsisnya secara singkat :

Annie Laird, juri nomor 224. Seniman yang karirnya suram, ibu tanpa suami yang membesarkan anaknya seorang diri. Warga negara yang baik, yang terpilih untuk melakukan tugasnya sebagai warga Negara. Tapi sidang pengadilan itu bukan sidang biasa. Si terdakwa adalah tokoh organisasi kejahatan. Dan keputusan akhir sudah dirancang dengan saksama oleh seseorang yang memiliki kekuatan tersembunyi. Seseorang yang hidup sesuai ajaran Lao Tse dan memiliki daya tarik yang sangat kuat. Dialah sang Guru, dan ia memusatkan perhatiannya pada Annie Laird.

Secara garis besar, genre novel ini adalah thriller. Tapi tidak seperti novel-novel thriller biasa yang menyajikan pembunuhan sadis tanpa makna filosofis dibalik itu semua. Novel ini memberikan sebuah sentuhan emosi cinta yang luar biasa, yang saat ini jarang ditemui di sekitar kita. Kekuatan cinta ibu dan anak, yang tak akan mungkin terpisahkan, bahkan oleh cinta kepada sesama kekasih sekalipun. Seorang single parent yang rela mengorbankan apa saja demi anak laki-laki satu-satunya. Selain itu, pelajaran cinta mengagumkan lainnya adalah, diceritakan cinta seorang sahabat yang begitu besar, hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan sahabatnya dan anak sahabatnya--yang sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.
Dari sekian banyak pelajaran cinta yang menggugah untuk gue, satu keunikan yang lain adalah gue diajak untuk mengetahui lebih dalam mengenai proses persidangan dan kehidupan seorang juri dalam memperjuangkan pendapatnya di persidangan. Suatu posisi yang jarang sekali disorot, karena biasanya tema seputar meja hijau sudah lebih dulu menghampiri hakim, pengacara, saksi, terdakwa, ataupun jaksa untuk diulas ke dalam sebuah artikel atau cerita.
Posisi juri, adalah satu posisi yang menurut gue jarang sekali tersentuh oleh bahasan para penulis dan sutradara film (mungkin ada yang terinspirasi untuk mengulas kehidupan mereka lebih banyak lagi dalam novel?).
Dekatnya kehidupan dalam novel ini dengan kehidupan kita sehari-hari adalah kentalnya tujuan nepotisme yang diperjuangkan oleh peran-peran antagonis dalam novel ini. Nepotisme, adalah penyebab utama terbunuhnya sejumlah nyawa, begitu kurang lebih latar belakang masalah yang diceritakan di sini.
Jika gue disuruh memberikan penilaian dari skala 1 sampai 10, gue akan memberikan angka 9 untuk ide, bahasa, dan tema cerita yang menarik, karena sangat menggugah emosi gue yaitu karena menampilkan kehidupan cinta yang sangat tidak biasa. Namun sayangnya, gue terpaksa hanya memberikan angka 7 untuk ‘to-the-point’ kepada inti permasalahan, dalam arti kata novel ini membuat gue bosan karena alur ceritanya terlalu bertele-tele, walaupun pada saat memasuki klimaks cukup menegangkan juga. Seharusnya ada beberapa paragraf dalam beberapa bab-bab terakhir yang di-cut agar greget dari ketegangan kasus itu lebih me-ngena di hati.

Secara keseluruhan nilai yang diperoleh novel ini [(9+7):2] adalah delapan (8) untuk skala 1 sampai dengan 10. Itu menandakan novel ini menurut gue sudah cukup layak untuk dikonsumsi para pembaca, khususnya penikmat buku-buku bergenre thriller. Gue tidak bisa menjaminkan apa-apa dari novel ini, tapi gue bisa menjamin bahwa usai membaca novel ini : SAYA MERASA PUAS.